INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Modernisasi teknologi perusahaan di kawasan Asia Pasifik menghadapi tantangan yang semakin kompleks di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI). Laporan terbaru Kyndryl mengungkapkan, sebanyak 49% organisasi di kawasan tersebut terlambat mencapai target modernisasi, yang berpotensi meningkatkan biaya operasional jangka panjang, memperlambat inovasi, hingga memperbesar risiko keamanan siber.

Dalam laporan Modernization Report global pertamanya yang berfokus pada temuan Asia Pasifik, Kyndryl menyoroti bahwa modernisasi tidak lagi sebatas pembaruan infrastruktur atau konsolidasi teknologi. Perusahaan kini dituntut mengoordinasikan investasi pada sistem lama (legacy) dan platform modern agar sejalan dengan kebutuhan bisnis, keamanan, serta pengembangan AI.

“Di kawasan Asia-Pasifik, modernisasi bukan lagi soal memilih antara berinvestasi pada AI atau memperkuat infrastruktur teknologi yang mendasarinya,” ujar Megawaty Khie, Vice President & Managing Director untuk ASEAN & Korea, Kyndryl.

Menurut Megawaty, perusahaan perlu menentukan prioritas investasi secara tepat di tengah lingkungan teknologi yang semakin tersebar dan kompleks.

“Organisasi membutuhkan keduanya. Seiring dengan semakin terdistribusinya lingkungan teknologi, tantangannya adalah menentukan ke mana harus berinvestasi, apa yang perlu dimodernisasi, serta bagaimana menjaga lingkungan tersebut agar tetap aman, tangguh, dan siap menghadapi masa depan,” katanya.

Laporan tersebut disusun berdasarkan survei terhadap 2.000 pemimpin bisnis dan teknologi di lima benua dan 12 industri, dengan 30% responden berasal dari Asia Pasifik. Hasil riset memperlihatkan bahwa AI memang menjadi salah satu pendorong modernisasi, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan arah belanja teknologi perusahaan.

Di kawasan Asia Pasifik, prioritas untuk meningkatkan kinerja, keamanan, dan integrasi teknologi masing-masing menjadi perhatian 36% organisasi. Persentase yang sama juga tercatat untuk peningkatan kelincahan, inovasi, dan skalabilitas bisnis, serta penguatan kendali, prediktabilitas, dan tata kelola. Sementara itu, penerapan kapabilitas AI yang lebih canggih menjadi prioritas bagi 34% organisasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak dapat hanya mengejar penerapan AI tanpa memperkuat infrastruktur dan tata kelola teknologi yang menopangnya. Modernisasi harus berjalan beriringan dengan kebutuhan untuk menjaga keandalan sistem, meningkatkan efisiensi, serta memastikan teknologi dapat dikembangkan sesuai kebutuhan bisnis.

AI juga mulai memengaruhi keputusan investasi pada berbagai infrastruktur. Teknologi ini menjadi pendorong utama peningkatan penggunaan mainframe dan komputasi edge, sekaligus menjadi faktor terbesar kedua dalam ekspansi perangkat lunak berbasis layanan atau software-as-a-service (SaaS) dan private cloud. AI turut menjadi alasan utama organisasi meningkatkan jaringan dan portofolio aplikasi mereka.

Bahkan, seluruh organisasi yang memiliki mainframe dalam survei tersebut berencana menerapkan AI pada platform itu. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sistem lama belum tentu ditinggalkan dalam transformasi digital, melainkan dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan komputasi dan pemrosesan data yang lebih maju.

Namun, keterlambatan modernisasi membawa konsekuensi bisnis yang tidak kecil. Dari organisasi yang menunda proyek modernisasi, sebanyak 44% melaporkan biaya jangka panjang yang lebih besar. Sebanyak 43% mengaku gagal mengadopsi kapabilitas baru dengan cepat, sedangkan 38% menghadapi kerentanan baru terkait keamanan atau kepatuhan.

Risiko tersebut menempatkan modernisasi sebagai agenda yang berkaitan langsung dengan daya saing perusahaan. Penundaan pembaruan sistem tidak hanya menghambat pemanfaatan teknologi baru, tetapi juga berpotensi menambah beban biaya dan memperbesar eksposur terhadap ancaman keamanan.

Kyndryl juga mencatat kemunculan agentic AI, yakni teknologi AI yang mampu merencanakan dan mengeksekusi tugas secara mandiri, sebagai salah satu pendekatan untuk mempercepat modernisasi. Meski demikian, adopsinya di Asia Pasifik masih dalam tahap awal.

Baru 10% organisasi di kawasan tersebut yang telah menggunakan agentic AI dalam tahap produksi untuk mendukung modernisasi, sejalan dengan rata-rata global. Teknologi ini mulai dimanfaatkan untuk pekerjaan yang membutuhkan banyak waktu dan keahlian, seperti pemetaan ketergantungan antarsistem, konversi kode, serta penyusunan dokumentasi teknis.

Di sisi lain, modernisasi kini semakin meluas dari agenda departemen teknologi informasi menjadi keputusan strategis di tingkat perusahaan. CIO dan CTO tidak lagi hanya bertanggung jawab atas pembaruan infrastruktur, tetapi juga harus menyelaraskan adopsi AI dengan ketahanan siber, kepatuhan regulasi, efisiensi operasional, dan pertumbuhan bisnis.

Laporan Kyndryl menemukan terdapat sembilan kelompok pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengambilan keputusan modernisasi, mulai dari pimpinan teknologi hingga dewan direksi, tim keuangan, dan bagian kepatuhan. Banyaknya pihak yang terlibat membuat koordinasi menjadi semakin penting agar perusahaan tetap dapat bergerak cepat tanpa mengabaikan pengendalian risiko.

Selain faktor biaya dan kinerja, kondisi geopolitik turut memengaruhi strategi modernisasi perusahaan di Asia Pasifik. Salah satu pertimbangan yang semakin penting adalah kedaulatan data dan teknologi (sovereignty), termasuk lokasi penyimpanan serta pemrosesan data.

Sebanyak 37% organisasi di kawasan Asia Pasifik menangani isu kedaulatan secara selektif ketika terdapat tuntutan eksternal, sementara 26% mempertimbangkannya terutama dari sisi kepatuhan. Hanya 7% yang menjadikan prinsip kedaulatan sebagai landasan transformasi perusahaan sejak awal.

Meski demikian, sebanyak 65% organisasi memperkirakan akan meningkatkan penggunaan wilayah sovereign cloud atau zona khusus dalam satu tahun ke depan. Angka ini menunjukkan bahwa pertimbangan tata kelola dan geopolitik semakin berpengaruh terhadap penentuan lokasi operasional teknologi, selain kebutuhan akan kinerja, efisiensi biaya, dan inovasi.

Kyndryl menilai, meningkatnya kompleksitas lingkungan teknologi juga menantang asumsi bahwa transformasi digital pada akhirnya akan mengarah pada satu platform atau lingkungan teknologi yang seragam. Dalam praktiknya, organisasi justru harus mengelola kombinasi sistem lama dan modern yang tersebar di berbagai platform.

Kondisi tersebut menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi dalam strategi, tata kelola, dan operasional perusahaan. Pada saat yang sama, penguatan ketahanan siber menjadi semakin mendesak karena ancaman berbasis AI terus berkembang dan menjangkau lebih banyak bagian dari lingkungan teknologi.

Dengan demikian, tantangan modernisasi bukan hanya seberapa cepat perusahaan mengadopsi AI, melainkan juga kemampuan mengelola investasi, mengintegrasikan sistem, dan memastikan transformasi teknologi memberikan manfaat bisnis yang terukur tanpa meningkatkan risiko operasional secara berlebihan.