INDUSTRY.co.id - Jakarta, Setyono Djuandi Darmono atau biasa disebut SD Darmono yang merupakan Founder sekaligus Chairman Jababeka Group SDD menceritakan awal mula revitalisasi kawasan kota tua jakarta yang menjadi cikal bakal berdirinya PT Pembangunan Kota Tua Jakarta pada tahun 2013. Perusahaan ini dikepalai oleh Yayat Sujatna seorang pengamat dan ahli tata kota.

Perusahaan ini sejatinya juga didirikan atas inisiasi SD darmono dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta yang ketika itu dijabat oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Saya ingat jadi waktu itu saya menghadap pak Jokowi, bahwa untuk membangun kota Jakarta menjadi kota bersih tidak macet itu harus diciptakan lapangan kerja didaerah, dan untuk menciptakan lapangan pekerjaan di daerah itu perlu developer2  yang sukses di Jakarta yang asalnya dari daerah perlu digerakkan, supaya untuk mau membangun kota daerahnya masing-masing. Nah Untuk menarik beliau beliau itu maka kita harus ajak bikin konsorsium untuk revitalisasi kota tua ini," papar Darmono kepada redaksi INDUSTRY.co.id usai mengunjungi Kawasan Kota Tua Jakarta bersama Yayat Sujatna, pada Kamis (15/4/2021).

Dalam kesempatan itu, Yayat turut menceritakan bahwa pada awalnya Jababeka dengan visinya membangun 100 kota baru diseluruh Indonesia melihat kota tua Jakarta sebagai satu komplek besar peninggalan sejarah kolonial yang mesti dipercantik dan diselamatkan.

"Akhirnya ada 9 perusahaan yang turut bergabung menjadi konsorsium," ungkapnya.

"Pada waktu itu pak Jokowi memberikan mandat kepada PT. JABABEKA khususnya ke Pak SD Darmono selaku founder untuk bagaimana bisa memulai bahwa kota tua ini menjadi sebuah kawasan ekonomi khusus, jadi sebagai inisiator," jelas Yayat.

Oleh karena itu, tak lama berselang, lanjut Yayat, sejumlah pimpinan perusahaan-perusahaan developer berkumpul dimenara Batavia, Jakarta.

"Pada waktu itu yang berminat, Jababeka sendiri, lalu Agung Podomoro, Agung Sedayu Grup, Ciputra, Plaza Indonesia, Intiland, Sinarmas, Mordaya Poo, Grup Saratoga," ujarnya.

"Dan secara tidak langsung Pak Sandiaga Uno ikut ya dalam konsep karena beliau masih di Saratoga, sehingga waktu itu kita membuat satu bentuk badan hukum perusahaan namanya PT. Pembangunan  Kota tua Jakarta dan satu lagi berbentuk yayasan yaitu Jakarta Endowment for Arts & Herritage," sambung Yayat.

Ditegaskan Yayat, sebwtulnya merevitalisasi kota tua sudah dilakukan sejak dulu bahkan sejak era Pak Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta.

"Jadi revitalisasi yang kita maksud adalah bangunan praktis pemerintah DKI sendiri kan hanya punya kepemilikan bangunan 2% di kota tua, 48 % nya justru dimiliki oleh BUMN  dan 50% dimiliki oleh individu dan swasta. Nah oleh karenanya yang harus kita lakukan diawal, kita pikir ini berarti  perlu skema kerjasama maka yang kita usung diawal bagaimana ini bisa mendorong Public Private Partnership, dan itu tercapai," jelasnya.

Dimana pilot project pertama kerjasama adalah dengan BUMN, yakni memperbaiki kantor atau bangunan PT pos indonesia.

Dimana diareal tersebut dibangun museum kontemporery art, kemudian visitor center dan sebagainya.

"Nah itu langsung di launching oleh pak Jokowi selaku gubernur DKI Jakarta  tahun  2013 di taman Fatahillah," kata Yayat.

BUMN berikutnya ialah PT. PPI. Saat itu, perusahaan plat merah ini memiliki kewenangan terhadap gedung-gedung peninggalan atau penyerahan dari Belanda seperti Darma Niaga, Cipta Niaga, Kertaniaga dan sebagainya.

"Nah itu semua dikelola oleh PPI dan semua itu Alhamdulillah berhasil Dan itu tak lepas dari jasa pak SDD Darmono dan pak Lin Che Wei yang pertama membuka komunikasi dengan PT Pos Indonesia dan itu merupakan satu sejarah, BUMN mau bekerjasama dengan Swasta," imbuh Yayat.

Ditambahkan Darmono, bahwa menurutnya waktu itu Pak Lin Che Wei berhasil meyakinkan Pak Dahlan Iskan sebagai menteri BUMN waktu itu untuk mengajak pimpinan BUMN yang memiliki gedung-gedung di sekitar kota tua untuk bergabung bekerjasama dengan PT pembangunan kota tua ini.

"Itulah sebetulnya pencapaian yang istimewa jadi kita punya konsesi selama 20 tahun," tandas Darmono.

Menurutnya, dulu target yang di sampaikan Pak Jokowi selaku gubernur adalah project ini untuk masa kerja 25 tahun.

Namun semua itu terkendala oleh masalah yang terjadi, yakni banyaknya overlap antara instansi satu dengan instansi yang lainnya baik di DKI sendiri maupun di pusat.

"Kita berharap awalnya ini menjadi semacam trigger terus ini bisa di copy paste menjadi template dikota kota yang ada diseluruh Indonesia," katanya.

Dalam kesempatan itu, Darmono juga berpesan kepada Yayat Suyatna agar sebagai putra daerah sekaligus Ketua Pengembangan Kota Tua untuk terus konsisten membangun Kawasan Kota Tua.

"Anda orang Betawi asli kan, asli jakarta kan. Jadi siapa lagi yang akan bangun Jakarta kalau bukan orang asli nya sendiri, mesti tetap semangat, kerja sabar dalam jalani rutinitas," pungkas Darmono.