INDUSTRY.co.id - Jakarta– PT. Bahana Artha Ventura (BAV) memperkuat sinergi dengan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam rangka semakin mengembangkan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menghadapi situasi pandemi Covid-19. Terutama melalui optimalisasi penyaluran kredit Program Kemitraan (PK).

Advertisement

PK yang merupakan program dari BUMN untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri tersebut memang merupakan salah satu fokus yang dijalankan oleh BAV.

Saat ini, BAV yang merupakan anak perusahaan Indonesia Financial Group (IFG) sebagai Holding Perasuransian dan Penjaminan telah dipercaya oleh sedikitnya 19 perusahaan BUMN untuk mengelola dana PK sehingga bisa menyediakan akses permodalan UMKM bagi mitra binaannya.

Advertisement

Direktur Utama BAV, Agus Wicaksono, mengatakan upaya untuk terus menumbuhkembangkan UMKM Indonesia harus terus dilakukan karena UMKM merupakan salah satu tulang punggung perekonomian sehingga memiliki peran sangat strategis bagi Indonesia. ”UMKM selalu didorong untuk dapat berkontribusi terhadap perekonomian nasional,” ucapnya saat menyampaikan sambutan webinar nasional “UMKM Hebat, Indonesia Kuat” dalam rangka 30 tahun BAV, Bersama Mengembangkan UMKM, Selasa (30/3/2021)

Sejalan dengan itu, BAV terus berupaya menyalurkan permodalan sekaligus pembinaan kepada para UMKM yang salah satunya berupa penyaluran kredit PK bekerjasama denganperusahaan BUMN.

Advertisement

”Program Kemitraan BUMN bukan hal baru bagi BAV dan jaringan PMVD (Perusahaan Modal Ventura Daerah) karena sudah dijalankan sejak 2008 dan terus berkembang sampai saat ini,” Agus mengungkapkan.

Penyaluran kredit PK tersebut dilakukan ke berbagai sektor mulai dari pertanian, peternakan, perdagangan, perkebunan, hingga sektor jasa. BAV telah melakukan investasi dengan total nilai sebesar Rp 13,2 Triliun secara akumulasi, kepada 67.675 pelaku usaha dan telah menyerap sebanyak 2,1 juta tenaga kerja. Selain itu BAV juga dipercaya untuk menyalurkan dana Program Kemitraan yang bersinergi dengan BUMN.

Advertisement

Sampai dengan Periode 2020, penyaluran PK BAV mencapai Rp 760 miliar dan mitra binaan yang menerima Program Kemitraan mencapai 4.948 mitra binaan, dengan tingkat pengembalian lancar atau rasio NPL 0%.

Pada tahun 2021 ini, penyaluran PK BAV diproyeksikan bertambah sebesar Rp 200 miliar, sehingga diharapkan total penyaluran PK BUMN akan menjadi Rp 1 Triliun.

Ke depan, melalui peningkatan sinergi dengan BUMN tersebut diharapkan dapat lebih banyak lagi para pelaku UMKM yang terlayani PK sehingga bisa berkontribusi terhadap pemulihan dan pertumbuhan perekonomian negara.

”Program Kemitraan ini merupakan sesuatu yang sangat positif dan harus terus dijaga mengingat dampaknya yang begitu besar kepada para pelaku UMKM sehingga akan berdampak positif juga kepada ekonomi negara,” Agus menambahkan.

Teddy purnama selaku Koordinator TJSL BUMN Madya Kementerian BUMN, menyatakan bahwa PT BAV memiliki kapasitas dan pengalaman untuk menyalurkan dana program kemitraan ini, maka Teddy mengapresiasi inisiatif BAV yang menggelar webinar nasional

“UMKM Hebat, Indonesia Kuat” sebagai bentuk pembekalan bagi para UMKM mitra binaan supaya selain semakin termotivasi juga mendapatkan tambahan wawasan serta ilmu untuk menghadapi tantangan yang semakin kuat saat ini.

Webinar yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke 30 BAV ini dihadiri para pelaku UMKM mitra binaan dan menghadirkan sejumlah pembicara mulai dari praktisi  brand sampai para pelaku UMKM yang sukses melewati masa pandemi untuk menceritakan kisah suksesnya (success story). Acara dipandu oleh selebriti Novita Angie.

Pada sesi pemahaman tentang pentingnya brand dan branding, Founder Indonesia Bisa Bikin Brand Subiakto Priosoedarsono yang kerap disebut sebagai bapak branding Indonesia mengatakan bahwa kebanyakan UMKM belum memahami hal ini.

”Sejak 2014 saya bantu UKM ternyata banyak yang belum paham brand. Logo bukan brand, slogan bukan brand, website bukan brand, iklan bukan brand,” tegasnya.

Brand, kata pria yang akrab disapa pak Bi itu adalah persepsi atau emosi yang dirawat oleh pelanggan yang merefleksikan mereka berhubungan dengan pemilik produk dan atau jasa.

”Maka sebuah brand kalau sudah jadi, bukan anda (pelaku UMKM) yang takut kehilangan tapi pelanggan yang takut kehilangan brand anda,” ungkapnya.

Sehingga menurutnya, seseorang membeli itu karena percaya. ”Ketika kita minta orangmembeli karena percaya terhadap produknya maka bangun lah product brand. Kalau percaya sama orangnya, maka bangun lah personal brand”.

UKM membangun brand dianalogikan oleh pak Bi seperti seorang ibu yang melahirkan.

”Ibunya masih di ruang persalinan, bayinya sudah dibawa ke tempat lain, dimandikan, dibedaki, terus dikasih gelang yang di gelang itu tertulis nama ibunya. Misalnya nama ibunyanadalah Dina. Ketika si ibu lupa ngasih nama bayi tadi misalnya sampai usia 20 tahun, ketikaada orang yang menanyakan, maka karena ibu lupa kasih nama kepada bayinya terus si anak itu akan dipanggil anaknya bu Dina karena anaknya tidak punya nama,” pak Bi menjelaskan.

Hal tersebut terjadi pada merek kuliner ternama seperti Gudeg Yu Djum dan Bebek Haji Slamet. ”Yang ngasih nama Yu Djum itu adalah konsumennya karena ketika mulai jualan 40 tahun lalu Yu Djum tidak kasih nama. Begitu juga Bebek Slamet yang pak Slametnya sudah almarhum, itu yang ngasih nama juga konsumennya. If you don’t brand your self, somebody else will brand you,” pak Bi menerangkan.

Secara umum pak Bi menjelaskan bahwa cara membangun brand terdiri atas tiga tahap. Pertama melakukan promosi. Kedua memastikan pembeli tahu kalau beli akan dapat apa dan ketiga, branding-nya adalah pembeli itu jadi siapa ketika membeli produk anda.

”Produk itu bukan sekadar produk tetapi lebih dari sekadar produk. Sebab brand itu  menciptakansustainabilitas (keberlangsungan jangka panjang) dan brand adalah jaminan pendapatan di masa mendatang (future income)”

Setelah sesi pak Bi, webinar dilanjutkan dengan talkshow yang dipandu Novita Angie menghadirkan tiga pelaku UMKM sebagai narasumber yaitu Lisa Yumi (Founder PrabuFootwear), Asep Mulyadi (Direktur Utama Ethica), dan Cucu Purhiyat (Owner Rumah Tempe Azaki Bogor). Sesi ini membahas bagaimana ketiga narasumber mampu bertahan dan bahkan tetap tumbuh di tengah pandemi serta inovasi apa saja yang dilakukan di era digital.