INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan Global Megatrends. 

Advertisement

Di mana, telah terjadi perubahan besar pada bidang ekonomi, sosial, politik, geostrategi dan teknologi yang akan berdampak terhadap kebutuhan dan struktur pasar energi global. 

Untuk itu, Indonesia harus menyiapkan berbagai langkah guna mengantisipasi setiap perubahan, konvergensi teknologi, dan disrupsi digital yang dapat mengimbas pada banyak aspek kehidupan.

Advertisement

Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah membekali para pejabat dengan kompetensi Kepemimpinan Strategis. 

"Pemimpin harus mampu memberikan arah dan inspirasi yang diperlukan dalam melaksanakan visi, misi organisasi, dan strategi untuk mencapai tujuan organisasi,” jelas Nadiem dalam sambutannya di acara diklat Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan 6 tahun 2021 di lingkungan Kemendikbud, seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id pada Rabu (24/3/2021).

Advertisement

Dijelaskannya, para pemimpin strategis harus mampu mengantisipasi perubahan di lingkungan eksternal organisasi dan dapat mempengaruhi kinerja organisasinya dengan baik. 

Para pemimpin juga harus mampu bersaing dan membangun kompetensi, mengevaluasi implementasi dan membuat penyesuaian secara strategis, dan menjadi komunikator yang efektif. Serta membangun tim kerja yang efektif, efisien, dan memotivasi, agar mampu menentukan tujuan prioritas yang tepat.

Advertisement

“Kita sebagai aparatur pemerintah dituntut untuk terus menerus meningkatkan kapasitas dan kompetensi serta memperbaiki dan menyederhanakan proses bisnis pemerintahan, sehingga sebagai sosok pelayan masyarakat, pemerintah lebih gesit dan lentur dalam menghadapi perubahan-perubahan yang begitu cepat,” tandas Nadiem.

Sementara itu, Kepala Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, Adi Suryanto mengatakan bahwa untuk belajar menjadi seorang pemimpin perubahan bisa dengan menggunakan metode experiential learning (pembelajaran pengalaman). 

Menurutnya, syarat untuk menjadi pemimpin perubahan pertama adalah harus mampu memetakan masalah dalam organisasi dan yang kedua adalah mencari solusi masalah kebijakan.

“Jika ingin menjadi pemimpin perubahan harus dapat menguasai permasalahan dari organisasi, bahkan sekecil jarum jatuh pun harus dapat dimengerti,” ujar Adi.

Selain itu, Adi juga berpesan kepada seluruh peserta untuk menjadi guru bagi sesama peserta lainnya. 

Hal ini menurutnya dapat membangun kerjasama tim yang baik dan meningkatkan pengetahuan antar sesama peserta. 

“Pesan saya adalah, bahwa 60 peserta disini adalah guru bagi satu sama lain, tukar menukar pengalaman dan pengetahuan itu merupakan hal yang penting,” tutup Adi.

Perlu diketahui, peserta PKN Tingkat II seluruhnya berjumlah 60 (enam puluh) orang, terdiri atas 50 (lima puluh) orang dari Kemendikbud dan 10 (sepuluh) orang peserta lainnya berasal dari Kepolisian 5 (lima) orang, BPK 1 (satu) orang, KPK 2 (dua) orang, Dinas Pendidikan Kota Cirebon, dan Dinas Pendidikan Kabupaten Kepahiang 1 (satu) orang.