INDUSTRY.co.id - Jakarta - Indonesia berhasil mendapatkan suntikan dana sebesar USD 10 miliar atau sekitar Rp 140 triliun dari Uni Emirat Arab (UEA) yang disalurkan melalui Indonesia Investment Authority (INA) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI).
Suntikan dana segar ini merupakan buah manis dari percakapan antara Presiden Jokowi dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed Bin Zayed Al Nahyan (MBZ) pada 19 Maret 2021 melalui sambungan telepon. Salah satu materi yang menjadi fokus pembicaraan adalah INA atau LPI yang telah terbentuk dan beroperasi di Indonesia.
"Investasi ini merupakan buah manis dari komunikasi melalui sambungan telepon antar pimpinan kedua negara. Pada senja menjelang Maghrib pukul 17.30 WIB hari Jumat tanggal 19 Maret 2021, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melakukan pembicaraan dengan MBZ," tulis KBRI Abu Dhabi dalam keterangan pers yang dikutip INDUSTRY.co.id, Rabu (24/3/2021).
Keduanya juga disebut terlibat dalam pembicaraan akrab dan hangat dengan diskusi mengenai perkembangan hubungan dan kerja sama antar kedua negara.
Investasi sebesar Rp 140 triliun yang digelontorkan akan difokuskan pada sektor-sektor strategis di Indonesia, termasuk infrastruktur, jalan, pelabuhan, pariwisata, dan pertanian. UEA juga akan melirik sektor-sektor lain yang menjanjikan yang berpotensi untuk tumbuh dan dapat berkontribusi pada pertumbuhan serta kemajuan ekonomi dan sosial.
Hubungan antara kedua negara telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir dengan peningkatan kunjungan timbal balik di tingkat kepemimpinan puncak dan pejabat senior. Terutama kunjungan Presiden Indonesia Joko Widodo pada September 2015 ke UEA, dan kunjungan Yang Mulia Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan ke Indonesia pada Juli 2019.
Kedua negara menandatangani beberapa kesepakatan dan kesepakatan kerja sama. Terakhir, Indonesia dan UEA baru saja melakukan pekan pertemuan bisnis sebulan lalu. Beberapa perjanjian kerja sama telah ditandatangani terkait dengan pelabuhan, logistik, industri strategis dan pertahanan, energi, pariwisata, ekonomi kreatif, dan pertanian bakau.
Dalam hubungan perdagangan dan ekonomi, terjadi pertumbuhan yang luar biasa, dengan volume pertukaran perdagangan mencapai sekitar USD 3,7 miliar.
Dengan investasi ini, UEA menjadi investor utama yang terbesar (anchor investor) pada INA atau LPI. Sebelumnya beberapa negara, antara lain Jepang, Amerika Serikat dan Kanada telah mengumumkan komitmen investasi pada Indonesia.
Bergabungnya UEA juga semakin menunjukkan tingginya kepercayaan dunia internasional untuk berinvestasi pada INA dan akan semakin menarik investor dunia lainnya untuk bergabung dan berinvestasi.
INA dibentuk dan beroperasi berdasarkan mandat dari UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) dan merupakan suatu lembaga pengelola investasi Indonesia yang dibentuk khusus dengan undang-undang yang bertujuan untuk meningkatkan optimalisasi aset, menarik investasi dan kerja sama dari berbagai pengelola investasi lainnya di dunia serta untuk meningkatkan iklim investasi yang lebih baik di Indonesia.
Husin Bagis, Duta Besar Republik Indonesia untuk UEA berharap agar INA dengan dana kelolaannya dapat meningkatkan kemampuan permodalan bagi pembiayaan berbagai proyek pembangunan tanpa meningkatkan utang, menerapkan international best practice serta meningkatkan kinerja dan manfaat aset yang dapat dinikmati oleh masyarakat.
"Kami akan terus aktif dan bekerja keras dalam meningkatkan hubungan bilateral antar kedua negara, khususnya dalam memfasilitasi upaya investasi dan kerja sama strategis di berbagai bidang dan antar berbagai pihak dengan prinsip yang saling menguntungkan, untuk mendukung upaya pembangunan nasional Indonesi," kata Husin.