INDUSTRY.co.id - Manggarai  Barat,  sebuah kabupaten di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur ( NTT),  memiliki banyak tempat wisata yang menarik. Tak hanya  Taman  Nasional Komodo yang namanya sudah mendunia, tapi  Komodo juga memiliki gugusan pulau indah di sekitarnya,  dengan panorama Pulau Padar yang sangat indah, hingga sensasi tracking ala Jurrasic di Pulau Rinca.

Advertisement

Kota Labuan Bajo juga kini menjadi magnet, dan terus menjadi  sasaran akhir membuang penat bagi wisatawan lokal dan mancanegara.  Data menyebutkan, jumlah turis ke Labuan Bajo mencapai 95.410 wisatawan (data 2015). Dari jumlah tersebut, sebanyak 80 persen turis mancanegara dengan pertumbuhan kedatangan mencapai 18, 3 persen per tahun.  Bahkan ditargetkan hingga 2019 menembus 500 ribu pengunjung.

Presiden Joko Widodo dan Kemenpar menetapkan Labuan Bajo sebagai “Bali baru”, sebagai salah satu destinasi prioritas Kemenpar. 

Advertisement

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar, Esthy Reko Astuti, mengatakan,  Agar destinasi Labuan Bajo mengalami percepatan, seperti arahan dari Menteri Arief Yahya, kuncinya adalah, pengembangan destinasi wisatanya  itu harus bersandar pada 3A, yakni: Atraksi, Amenitas dan Aksesbilitas.  Apabila 3A di Labuan Bajo maka Kemenpar akan menyiapkan beberapa critical success factor yang begitu disentuh.

Sebagai catatan, CNN  International pernah menempatkan destinasi bahari, Labuan Bajo ini sebagai nomor dua terbaik dunia, setelah Raja Ampat.  Karena di NTT terdapat keindahan alam dan pantai dari Larantuka sampai Labuan Bajo yang sangat menawan. Kondisi itu memerlukan akses kapasitas wisman yang bisa terangkut menuju ke Labuan Bajo,  khususnya direct airlines baik antara daerah serta antar negara, sehingga bisa tiba di Labuan Bajo. Selain jalur dibuka, maka yang perlu diperhatikan adalah bandaranya harus naik level menjadi internasional airport.

Advertisement

Hingga saat ini, pembangunan  infrastruktur Labuan Bajo begitu gencar dilakukan. Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan pembangunan pelabuhan marina sebagai tempat berlabuh kapal pesiar internasional di Labuan Bajo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur membutuhkan anggaran sebesar Rp300 miliar.

"Kita butuh anggaran sekitar Rp300 miliar untuk menyiapkan pelabuhan marina di Labuan Bajo," katanya kepada awak media Kemenpar di Denpasar, Jumat (14/4/2017) lalu.

Advertisement

Menteri Arief Yahya pun ikut menghadiri pertemuan dalam rangka pemantapan kerja sama pariwisata antara Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan operator kapal pesiar internasioal asal Amerika Serikat, Carnival di atas kapal pesiar Pasific Eden yang berlabuh di Benoa, Bali, Kamis (13/4/2017) lalu.

Menurut Menteri Arief, anggaran untuk pembangunan pelabuhan marina di Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 destinasi prioritas nasional itu bersumber dari kombinasi APBN dan pihak swasta. Dengan anggaran itu, nantinya  akan dipersiapkan pelabuhan yang besar dan panjang di Labuan Bajo sehingga kapal-kapal pesiar internasional bisa berlabuh di Labuan Bajo. Kisaran anggaran Rp300 miliar tersebut kata Menpar, telah disiapkan pemerintah pusat dikombinasikan dengan swasta untuk pengembangan Bandara Komodo di Labuan Bajo.

Gubernur NTT Frans Lebu Raya mengakui kerja sama pariwisata dengan Carnival itu telah didukung penuh pemerintah pusat melalui lintas kementerian terkait sehingga pariwisata Labuan Bajo akan menjadi bagian dari fokus pembangunan. Dia menyebut pembanguan pelabuhan marina ditargetkan akan selesai pada 2019.

Labuan Bajo adalah pintu masuk wisatawan mancanegara yang datang dengan kapal pesiar, selanjutnya dapat menyinggahi berbagai destinasi wisata unggulan lainnya yang menyebar di sepanjang Pulau Flores, Lembata, Timor, Alor, dan Sumba. Jika kapal pesiar internasional dengan kapasitas muatan mencapai ribuan orang nantinya mulai berlabuh, maka wisatawan bisa turun langsung ke darat sehingga dampak secara ekonomi lebih dirasakan secara langsung oleh masyarakat di daerah wisata. Jadi  "Mereka akan berbelanja, makan, minum, sehingga ekonomi masyarakat bisa bergerak," katanya.

Menurut Frans, selama ini,  NTT belum memiliki pelabuhan marina yang representatif sehingga kapal-kapal pesiar internasional hanya melewati wilayah perairan Nusa Tenggara Timur atau tidak bisa berlabuh. Harapan dia, dengan hadirnya pembangunan pelabuhan marina di Labuan Bajo yang didukung penuh pemerintah pusat, bisa berjalan aman dan lancar sdan  pada 2019 kapal pesiar internasional sudah masuk ke Nusa Tenggara Timur.

Sinergi Tiga  BUMN

Sementara itu untuk menggarap kawasan komersial di Labuan Bajo, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) membangun proyek strategis perdananya melalui pembangunan kawasan komersial di Labuan Bajo, yang terdiri dari pelabuhan marina, peningkatan fasilitas dermaga penyeberangan, hotel, serta area komersial dengan total investasi sekitar Rp 400 miliar. Ditargetkan, proyek yang groundbreaking pada April 2017 ini, akan rampung dan beroperasi penuh pada Desember 2018.

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Faik Fahmi, mengatakan pembangunan dan pengembangan kawasan komersial Labuan Bajo ini sejalan dengan road map perusahaan yang telah disusun, yakni RE-ASDP. Road map tersebut terdiri dari Re-formulation of Business Foundation (2016), Acceleration of Commercial (2017), Services to The Nation (2018), Drive to Excellent (2019) dan Performance to The Best (2020).

Proyek pembangunan kawasan komersial Labuan Bajo merupakan proyek sinergi BUMN antara PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dengan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk dan PT Patra Jasa.

Jadi Kawasan komersial ini akan dikelola oleh ketiga BUMN tersebut. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menjadi pemegang saham mayoritas 51 persen karena pengembangan proyek berada di atas lahan milik ASDP (landlord), PT Patra Jasa sebesar 25 persen, dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) sebesar 24 persen.

Menurut Faik, seiring dengan pengembangan kawasan komersial dan sektor pariwisata di Labuan Bajo, maka direncanakan pembangunan proyek hotel di atas lahan seluas 8.000 meter persegi dengan jumlah 180 unit kamar.  "Kami melihat prospek bisnis properti, khususnya hotel sangat bagus ke depannya. Keberadaan hotel ini akan sangat menunjang pariwisata, karena lokasinya sangat strategis, berada di tepi pantai di Jalan Soekarno Hatta. Sehingga, untuk view hotel sangat indah dan sempurna, karena menghadap ke laut," jelas Faik.

Menteri BUMN Rini M Soemarno mengatakan, pengembangan wilayah Labuan Bajo menjadi prioritas saat ini, sesuai dengan impian bersama untuk menjadikan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata Bali kedua yang menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

Shana Fatina selaku person in charge (PIC) Labuan Bajo dari Pokja Destinasi Prioriras Kementerian Pariwisata, mengatakan, Labuan Bajo terus berupaya berbenah dari sisi sumber daya manusia (SDM) maupun sarana dan prasarana. Dari sisi SDM, usulan untuk mendirikan Akademi Komunitas Pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat telah mendapat lampu hijau dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

“Yakni untuk tingkat diplomas satu dan diploma dua. Sedangkan kurukulum dan dosen vokasinya dari kalangan industri melalui proses RPL (rekognisi pembelajaran lampau,” tutur Shana.

Sedangkan untuk mengebut aksesibilitas, sedang ada proses percepatan pengalihan pengelolaan Bandara Komodo ke PT Angkasa Pura I. “Ada juga pendekatan ke airlines internasional untuk masuk Labuan Bajo, yaitu dari Garuda dan Air Asia,” sebutnya.

Sedangkan untuk akses laut, rencananya akan ada relokasi pelabuhan peti kemas di Kampung Tengah. Nantinya, area bekas pelabuhan peti kemas akan menjadi Kawasan Pelabuhan Pariwisata Terpadu di bawah koordinasi PT ASDP. Selanjutnya, Kemenhub dan Pelindo III membentuk tim untuk mencari lokasi relokasi pelabuhan peti kemas, karena lokasi baru tidak memungkinkan,” sambung Shana.