INDUSTRY.co.id - Terletak sekitar 45 km sebelah utara Jakarta, Kepulauan Seribu yang secara administratif merupakan bagian dari Provinsi DKI Jakarta. Dengan luas 108.000 hektare atau sebelas kali luas daratan Jakarta, daerah ini merupakan kawasan pelestarian alam bahari yang terdiri atas 342 pulau, termasuk 158 pulau-pulau pasir dan terumbu karang baik yang bervegetasi maupun tidak.

Untuk berwisata ke kawasan gugusan Kepulauan Seribu, salah satu keistimewaannya adalah para wisatawan tentunya tak bakal dihadang oleh kemacetan. Mereka bakal menikmati akses yang mudah dan cepat lewat transportasi laut.

Untuk mencapai Kepulauan Seribu tidaklah sulit, sejumlah akses yang bisa dilalui pertama bolehlah disebut lewat dermaga tradisional Muara Angke, yang terletak persis di belakang pasar ikan Muara Angke. Setiap hari sekitar jam 07.00 pagi, sejumlah kapal motor penumpang (KMP) berlayar melayani rute Pulau Tidung, Pulau Pari, Pulau Pramuka, Pulau Harapan dan Pulau Kelapa. Akses berikutnya, para wisatawan bisa menuju Kepulauan Seribu lewat Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke. Pelabuhan ini dibangun oleh Pemerintah Provinsi Jakarta untuk memudahkan akses penduduk dan wisatawan ke Kepulauan Seribu. Setiap hari, Kapal Motor Lumba-Lumba dan KM Kerapu yang mengangkut para penumpang menuju Pulau Seribu.

Sementara bagi yang menginginkan moda penyeberangan yang nyaman, mereka bisa berangkat lewat dermaga Marina Ancol. Mereka dapat menggunakan yacht ke Kepulauan Seribu, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit 2 jam tergantung pulau tujuan dan kondisi cuaca.

Sejauh ini publik memandang kawasan Kepulauan Seribu sebagai kawasan wisata laut dan konservasi semata. Apalagi kawasan ini punya nama resmi sebagai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Namun sebenarnya ada citra yang cukup kuat pada gugusan kepulauan ini sebagai sebuah destinasi wisata sejarah. Sejumlah gedung dan benteng peninggalan kolonial Belanda menjadi objek yang sangat menarik untuk dikunjungi, ditambah kisah yang melatarbelakangi dibangunnya fasilitas-fasilitas tersebut.

Kisah pertama tampaknya layak didengar dari Pulau Kelor, sebuah pulau tak berpenghuni, namun di pulau yang dikenal sebagai Pulau Kherkof ini terdapat peninggalan galangan kapal dan benteng yang dibangun oleh VOC untuk menghadapi serangan Portugis di abad ke 17. Benteng bernama Martello adalah benteng bulat dari bata yang dibuat dengan meniru benteng Mortella di Corsica yang dibangun di sebuah pulau di Laut Tengah. Mengapa ada benteng di Pulau Kelor, tentu tak terlepas dari pertimbangan bahwa pulau ini merupakan garda terdepan untuk mempertahankan Batavia dari serangan angkatan laut musuh.

Pulau lainnya yang memiliki situs bersejarah dan wajib disambangi adalah Pulau Cipir atau yang dulunya bernama Pulau Khayangan. Pulau ini dulunya terhubung dengan sebuah jembatan dengan Pulau Onrust yang terletak di seberangnya. Sayangnya jembatan tersebut habis terkikis dan hanya tertinggal reruntuhannya saja.

Pulau Cipir sejatinya merupakan lahan untuk rumah sakit untuk perawatan serta karantina penyakit menular bagi para jemaah haji pada era tahun 1911. Para jemaah haji dari seluruh Indonesia yang ingin naik haji dipusatkan di pulau ini untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dan perawatan jika ada jemaah yang terkena penyakit. Banyak cerita beredar, pemerintah kolonial Belanda sengaja membuat karantina di pulau ini, karena adanya kekhawatiran para jamaah yang tiba dari Mekkah dan Madinah telah terpengaruh oleh gerakan Pan-Islam yang berkembang di Timur Tengah saat itu.

Nah, Pulau Onrust sebenarnya adalah sebuah resor di era 1700-an. Nama Onrust diambil dari bahasa Belanda yang berarti tidak pernah beristirahat atau dalam bahasa Inggris disebut Unrest. Pulau Onrust merupakan pelabuhan VOC sebelum pindah ke Tanjung Priok Jakarta dan juga merupakan markas tentara Belanda sebelum masuk Jakarta. Pada tahun 1930-an, Pulau Onrust juga sempat dijadikan sebagai karantina jemaah haji sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi.

Terkenal pula sebuah kisah tentang Maria Van De Velde yang meninggal pada usia 25 tahun, dengan menggunakan baju pengantinnya. Saat itu ia menunggu sang kekasih yang tak pernah datang dari Belanda, yang sebenarnya pria itu telah meninggal terlebih dahulu. Makam Maria terdapat di pemakaman khusus Belanda di pulau tersebut.

Sejauh ini beberapa pulau yang telah dihuni di gugusan Kepulauan Seribu di antaranya adalah Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, Pulau Panggang, Pulau Harapan, Pulau Pramuka, Pulau Tidung, Pulau Payung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa. Sementara beberapa pulau lainnya merupakan pulau private dengan resort-resort mewah seperti Pulau Macan, Pulau Matahari, Pulau Putri, Pulau Pantara, Pulau Sepa, dan Pulau Bidadari.