INDUSTRY.co.id - Kawasan wisata Gunung Bromo dan Pegunungan Tengger sebenarnya secara administratif berada di empat wilayah kabupaten, yakni di Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Probolinggo. Jika menelusuri dari asal muasal namanya, Bromo berasal dari kata Brahma yang merupakan bahasa Sanskrit dan berarti  Dewa Utama dalam agama Hindu.

Gunung Bromo sendiri merupakan gunung vulkanik yang masih aktif hingga sekarang. Letusan pertama yang tercatat terjadi pada tahun 1775, dan letusan terbesar pada abad 20 pernah terjadi pada tahun 1974.

Gunung ini oleh para penduduk sekitar, khususnya suku Tengger, dianggap sebagai gunung suci, dimana mereka selalu menggelar acara keagamaan Yadnya Kasada, atau Kasodo atau Kesada setiap tahunnya di bulan kesepuluh sekitar tanggal 14 atau 15 menurut penanggalan Jawa. Pada setiap perayaan keagamaan Kasodo, para penganut Hindu Tengger melemparkan sesajen berupa makanan dan minuman, dan kadang hewan-hewan ternak mereka seperti ayam hingga kambing ke arah kawah Bromo.

Upacara keagamaan Hindu Tengger ini menjadi atraksi wisata khusus, karena saat pelemparan sesajen tersebut, akan diwarnai oleh aksi tangkap dari masyarakat lainnya di bagian dalam kawah, yang sesungguhnya adalah langkah berisiko jika mereka jatuh ke dalam kawah yang masih aktif. Kini  Upacara Kesada telah berkembang menjadi kalender wisata yang rutin dilaksanakan oleh Kabupaten Probolinggo setiap tahun, dan menjadi ajang penarik wisatawan ke daerah tersebut.

Selain upacara Kesada, maka masyarakat Tengger memiliki perayaan tradisi lainnya yang cukup ramai, disebut Hari Karo. Upacara  Karo dilakukan sebulan sesudah hari Kesada. Seperti halnya hari raya Idul Fitri bagi masyarakat Muslim dan  Natal bagi kaum Nasrani, penyelenggaraan upacara Karo jauh lebih besar daripada hari Kesada.

Hanya saja jika Kesada diselenggarakan di puncak Gunung Bromo, sedang upacara Karo diselenggarakan di tiga desa yang saling berdekatan, yakni Desa Ngadisari, Desa Jetak, dan Desa Wonotoro.  Upacara Karo  merupakan upacara pemindahan pusaka keramat yang disebut “Kelontong”,  yang amat dihormati dan dikeramatkan. Pusaka “Kelontong” merupakan jimat atau pusaka orang Tengger yang berwujud kumpulan barang-barang kuno, seperti 8 lembing, beberapa keping uang logam kuno, serta tempayan dari kayu.

Di Bromo, para wisatawan akan dimanjakan oleh lansekap yang sangat indah, seperti Gunung Batok dan Lautan Pasir serta Gunung Semeru yang menjadi latar belakang lansekap Gunung Bromo. Puncak Gunung Bromo yang luasnya 10 km merupakan perpaduan antara lembah dan ngarai dengan panorama yang indah sehingga dari sana bisa dinikmati pemandangan hamparan lautan pasir seluas 50 km.

Kawah bagian utara Gunung Bromo berada di ketinggian 2.392 m, masih aktif dan setiap saat mengeluarkan kepulan asap. Sementara di bagian selatan merupakan dataran tinggi yang dipisahkan oleh lembah dan ngarai, danau-danau kecil yang membentang di kaki Gunung Semeru yang dirimbuni hutan dan pepohonan.

Untuk mendaki ke kawah Bromo, tersedia anak tangga beton yang awalnya dibangun oleh Belanda pada tahun 1928.  Pada waktu Bromo meletus tahun 1948 dan 1969, tangga pendakian  pernah tertutup lahar. Kemudian tangga tersebut digali kembali oleh penduduk bersama-sama dengan anggota tentara dari Batalyon 527.