INDUSTRY.co.id, Papua-Membangun Jembatan Hewet Distrik Asotipo Kabupaten Jayawijaya, dengan swadaya Masyarakat. Itulah salah satu bukti kepedulian Masyarakat Wilayah 1 Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua, yang hendak membangun dirinya tanpa ada bantuan dan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Jayayawijaya.
Jembatan Hewet yang mereka bangun itu, terletak di kampung Sogokmo Distrik Asotopo Kabupaten Jayawijaya. Provinsi Papua.
Info seputar Pembangunan jembatan itu diceritakan oleh Theo Hesegem, Direktur Eksekutif dari Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (Pembela Ham Se-Dunia).
Menurut Theo, pada tanggal 08 Juni 2020, masyarakat wilayah 1 dari Distrik Tangma, Distrik Ukha,Distrik Kurima, bekerja sama kerja dengan bergotong-Royong membangun Jembatan Hewet Distrik Asotipo Kabupaten Jayawijaya.
Untuk membangun jembatan yang dimaksud masyarakat harus memikul kayu dasar dari kali Jetni. Kayu yang dimaksud kurang lebih panjang 16 meter, masyarakat dengan ramai-ramai memikul dari Kali Jetni, jarak dari kali Jetni diperkirakan kurang lebih 1, kilo 500 meter.
“Ya sekalipun Jaraknya cukup jauh, namun kepedulian, dan semangat masyarakat, yang sangat luar biasa sehingga terpaksa mereka harus mengangkat dengan berjalan kaki,”ujarnya dalam keterangan pers yang diterima redaksi Industry.co.id, Selasa (9/6/2020).
Menurut Theo, yang disampaikan ini bukan mengkritisi Pemerintah Pemerintah Yahukimo dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, tetapi ini kenyataan yang sedang terjadi.
“Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kepada pemerintah untuk dapat melihat dengan jelih upaya swadaya yang sedang dilakukan oleh Masyarakat sipil,”ujarnya.
Pekerjaan ini sebuah jembatan ini, lanjut Teho, sebenarnya, layak dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dan Pemerintah Kabupaten Yahukimo.
Perlu ketahui bahwa Jalan Kurima, Wamena adalah jalan Trans antar lintas Kabupaten, oleh sebabnya Pemerintah Provinsi Papua, perlu melihat dan memperhatikan pekerjaan Swadaya yang sedang dikerjakan masyarakat
“Menurut saya Pekerjaan swadaya yang dilakukan oleh masyarakat ini, sangat memalukan pemerintah daerah Provinsi dan daerah, karena ini jalan antar lintas Kabupaten,”ujarnya.
Jadi menurut Theo, masyarakat mulai hendak kesadaran untuk membangun Jembatan dengan biaya sendiri tanpa ada bantuan dari Pemerintah Pusat, Provinsi dan Daerah.
Hal ini telah menunjukan bahwa pemerintah sangat tidak mampu melayani masyarakat sebagai warga negaranya.
“Hari ini kami akan mengerjakan dan memasang papan di jembatan yang dimaksud,”tambahnya.
Theo mengatakan, pemerintah Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Yayawijaya perlu ketahui bahwa masyarakat pekerjaan swadaya yang dilakukan oleh masyarakat karena ada beberapa hal.
1. Beberapa jembatan jalan Wamena-Kurima, rusak dengan kondisi yang sangat parah.
2. Dengan kondisi yang sangat parah, masyarakat harus naik turun, hingga sampai membayar mobil 2 sampai kali lipat apa lagi naik oyek.
Sehingga dengan keadaan terpaksa masyarakat menyadari hal itu dan mulai membangun kesadaran dalam persatuan untuk membangun dirinya sendiri.
Menurut pemahaman dan analisa Theo, tindakan pembangunan swadaya adalah suatu wujud kegagalan Pemerintah dalam kerangka Otonomi Khusus di Papua.
“Kami tlah dibantu oleh Kapolres Jayawijaya, 30 liter, dari Dandim 1702 Jayawijaya berupa Gula dan Kopy, dari adik Step anggota Kodim 1702 membantu bensin 20 Liter, secara pribadi, Dirintel Polda Papua membantu Bensin 20 liter, rokok anggur Kupu 2 slop, roko 20 bungkus, dana sebagian kami bayar kayu untuk bangun Jembatan, bantuan ini dalam bentuk pribadi dari kepedulian saja,”jelas Theo.
Theo mengatakan, beberapa kaju mereka harus bayar dengan biaya sendiri dari rasa kepedulian terhadap masyarakat. Kepala distrik, tangma, Kepala Distrik Kurima dan Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua Theo Hesegem mengawal kegiatan pembangunan jembatan yang dimaksud.
“Saya sangat mengharapkan Kegiatan swadaya masyarakat ini, dapat diperhatikan oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Bapak Presiden Rebuplik Indonesia,”tutup Theo.