INDUSTRY.co.id - Jakarta - Asosiasi Perlampuan Indonesia (Apersindo) mendesak pemerintah untuk segera memberlakukan standar nasional Indonesia (SNI) wajib untuk produk light emmiting diode atau LED.

Advertisement

Pasalnya, SNI untuk lampu LED saat ini belum cukup kuat karena hanya sebatas sukarela, sehingga membuat kinerja industri perlampuan dalam negeri sulit untuk melaju.

Ketua Aperlindo Jhon Manopo mengatakan, pihaknya telah mengajukan surat permohonan kepada Kementerian terkait untuk segera melakukan langkah-langkah penetapan SNI lampu LED. Namun, hingga kini masih belum ada respon yang baik.

Advertisement

"Kami sudah berkirim surat kepada Kementerian terkait untuk segera memberlakukan SNI lampu LED. Tapi hingga saat ini belum ada respon yang baik. Apalagi di saat pandemi seperti ini, seharusnya kami di support," kata Jhon saat dihubungi Industry.co.id di Jakarta, Senin (8/6/2020).

Jhon menilai, SNI untuk lampu LED dapat mendongkrak daya saing produk dalam negeri sekaligus melindungi konsumen dari dari produk lampu LED berkualitas rendah ataupun barang palsu.

Advertisement

Menurutnya, penerpan SNI tersebut menjadi penting lantaran teknologi produksi lampu LED telah jenuh, pengetatan SNI oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) di pasar, dan banyak investor yang menunggu SNI tersebut.

"SNI diperlukan, intinya melindungi konsumen. Kalau tidak ada SNI Wajib Lampu LED, nasib konsumen bagaiamana,"  ujarnya.

Advertisement

Lebih lanjut, ia mengatakan, saat ini pasar lampu LED nasional masih dibanjiri oleh produk impor yang kualitasnya dipertanyakan.

"Mereka bebas masuk karena tidak ada nomor HS (harmonized system). Jadi tidak wajib SNI," jelas Jhon.

Jhon optimis dengan adanya wajib SNI, investor asing juga akan semakin nyaman untuk membangun pabrik lampu LED di dalam negeri.

Adapun beberapa produsen lampu multinasional telah menyatakan niat untuk berinvestasi di dalam negeri antara lain dari Korea Selatan, China, Taiwan, Jepang, India, Thailand, dan Vietnam.

Pasalnya, terang Jhon, pasar lampu di dalam negeri merupakan yang terbesar di Asia Tenggara atau sekitar 70 rumah tangga dengan tingkat elektrifikasi di level 98 persen.