INDUSTRY.co.id, Lombok. NTB - Unik, sebuah pengalaman langka yang Salah satunya, terjadi para tour guide di Desa Wisata Sade, Ende dan Setanggor, Nusa Tenggara Barat (NTB), ketika satu waktu mereka menjadi seorang wisatawan.
Kegiatan ini, diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata, Asdep Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata. Tujuannya, untuk mendukung pengembangan destinasi wisata tradisi dan seni budaya di Mandalika.
Untuk menjadi tour gouide di Desa Sade, tidak sembarang orang, yang boleh yakni lelaki yang tinggal di desa adat Sade saja. Syaratnya adalah, hanya mereka anak bungsu lelaki yang tinggal di desa adat Sade, sementara yang lain tinggal di luar desa.
Menjadi seorang tour guide di Sade adalah sebuah tanggung jawab adat yang besar, karenanya mereka cukup taat menjalankan titah leluhur untuk mempertahankan dan mengenalkan budaya asli Sade kepada para wisatawan.
Berkat pemberitaan dan promosi akan Sade lewat media jurnalis ataupun media sosial, telah membuat kunjungan wisatawan nusantara meningkat secara drastis. Kian hari pekerjaan menjadi tourguide kian padat.
Tetapi, hanya di hari Senin hingga Rabu saja tourguide Sade bisa santai, selebihnya mereka harus bergantian secara kompak untuk menjadi tourguide dan menanta kendaraan-kendaraan pengunjung yang sering membuat macet.
Titin Fatimah, Tetty D. S Aryanto dan Krissanti Kruniawan sebagai praktisi pariwisata yang ditunjuk sebagai narasumber pada kegiatan ini sengaja memberikan sebuah pengalaman baru bagi para tour guide agar mereka bisa menilai dan membandingkan kurang dan lebihnya tour guide-tour guide di desa adat Sade, Ende dan Setanggor.
"Setelah itu dengan kesadaran sendiri, mereka bisa memperbaiki apa yang kurang dan melakukan berbagai improvisasi dan kreasi sebagai tour guide agar apa yang mereka ceritakan kepada wisatawan benar-benar sesuai dengan yang diinginkan wisatawan itu sendiri," ujar Titin Fatimah, melaui siaran persnya kepada Industry.co.id, Jakarta, Kamis (30/3/2017).
Tetty menambahkan, masing-masing wisatawan memiliki ketertarikan yang berbeda-beda. Mungkin mereka tertarik dengan budayanya, historinya, landscapenya, atau yang sekedar mencari spot-spot selfie.
Sebagai seorang tour guide, kata Tetty, harus bisa membaca kebutuhan wisatawan agar mendapatkan kesan yang leih mendalam.
Tetty yang juga sebagai anggota dari Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), menekankan agar para tour guide bisa menghadirkan berbagai hal yang menarik bagi wisatawan dari waktu ke waktu supaya turis yang datang tidak bosan meskipun sudah datang ke desa Sade berulang kali.
Sementara, Kurdap Salake, sebagai kepala adat desa adat Sade mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas perhatian Kementerian Pariwisata dan berjanji akan meningkatkan pelayanan dan kretatifitas para tourguide asuhannya untuk membawa destinasi wisata desa adat Sade sebagai destinasi terbaik di Lombok.