Inkonsistensi Kebijakan Rusak Industri TPT Dalam Negeri

Oleh : Ridwan | Jumat, 13 Maret 2020 - 09:45 WIB

Ilustrasi Pemintalan Benang (Ist))
Ilustrasi Pemintalan Benang (Ist))

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Inkonsistensi kebijakan perdagangan selama 10 tahun terakhir kerap menghantui industri tekstil dan produk tekstil (TPT) hingga sektor ini terpuruk dengan tingkat utilisasi saat ini dibawah 50%.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) menyatakan bahwa keengganan para pejabat pemerintah untuk menjadikan pasar domestik menjadi jaminan pasar bagi produk dalam negeri sangat berbanding terbalik dengan kebijakan lain yang menaikan biaya produksi.

Selama 10 tahun terakhir importasi terus-terusan dibuka bahkan difasilitasi melalui Kawasan Berikat dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor hingga yang terakhir Pusat Logistik Berikat.

"Untuk produk dalam negeri ada tata niaga melalui larangan terbatas (lartas) namun kebijakan ini kan terus diamputasi dan sengaja dibuat masuk angin, pengenaan BMAD dan BMTP sulitnya minta ampun” jelas Redma di Jakarta (13/3/2020).

Ia pun menuding bahwa kebijakan perdagangan yang tidak pernah mempertimbangkan integrasi hulu hilir dan cenderung berpihak pada barang impor memang sengaja dibuat kebijakannya atas upaya lobi importir pedagang.

Namun disisi lain tarif listrik, gas, upah karyawan, biaya logistik dan pungutan lainnya terus naik ditambah berbagai pengetatan aturan lainnya menambah beban biaya industri.

"Tax holiday dan tax allowance belum bisa membantu industri TPT karena tidak langsung bisa mengurangi biaya produksi plus harus ada investasi untuk dapatkan fasilitas itu. Yang ada saja pada gulung tikar, kapasitas idle sampai 50%, siapa mau investasi?," Tegasnya.

Corona dan Blunder Fasilitasi Impor

Kondisi dan permasalahan industri TPT ini sudah sangat dipahami oleh pemerintah selaku pembuat kebijakan. 2 kali pertemuan dengan Presiden Jokowi yang memberikan arahan jelas bahwa industri ini harus diselamatkan memberikan optimism dan harapan baru.

Kebijakan safeguard sementara selama 200 hari dengan mulus bisa cepat diimplementasikan dan beberapa PLB ditutup, meski sempat kecolongan revisi PERMEDAG 77 2019 yang sangat pro impor terlanjur ditandatangani.

Belum lagi kebijakan pro produk lokal dipasar domestik bisa terimplementasi dengan baik, kembali pemerintah akan melakukan relaksasi impor sebagai langkah antisipasi corona. "Jelas kami tidak mengerti apa hubungan corona dengan relaksasi impor," tanya Redma.

Redma mengungkapkan bahwa kalau pemerintah perlu dorong ekspor, bahan baku sudah difasilitasi KB/KITE sdh bebas bea masuk dan PPN. Kalau untuk orientasi dalam negeri, harusnya pemerintah dorong penggunaan bahan baku dalam negeri untuk dorong utilisasi, karena produsen bahan baku serat, benang hingga kain saat ini utilisasinya masih dibawah 50%.

"Kalau impornya dibuka, utilisasi akan turun lagi dan kembali terjadi tambahan PHK Relaksasi impor di sektor tekstil itu kebijakan blunder berbau lobi importir pedagang," tegas Redma.

APSyFI mengusulkan pembebasan PPN hulu-hilir untuk menggairahkan kembali penggunaan produksi dalam negeri, bukan lagi-lagi memfasilitasi bahan baku impor.

"Bahan baku impor sudah diberikan fasilitas KB/KITE, bahan baku lokal yang belum pernah diberikan fasilitas, ini timpang," cetusnya.

Oknum Pejabat Dukung Impor

Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) Suharno Rusdi menyatakan bahwa pemerintah harus berkomitmen berpihak pada produk dalam negeri termasuk bahan baku dalam negeri.

"Bapak Presiden sudah memberikan arahan, harusnya bisa diimplementasikan oleh level Menteri, eselon 1 hingga eselon 2. Jangan lagi mengulangi kesalahan sebelumnya dengan melakukan relaksasi impor," tegasnya.

Rusdi menjelaskan bahwa kebijakan safeguard sementara dan penutupan PLB belum bisa menolong ITPT karena implementasinya masih masuk angin.

"Transhipment dan pemalsuan COO terjadi untuk menghindari safeguard, under invoice, under volume di PLB yang masih dibuka untuk TPT masih terjadi," cetusnya.

IKATSI menuding bahwa Bea Cukai masih setengah hati menjalankan agenda penyelamatan industri TPT.

"Ini memang masih ada oknum pejabat yang terkoneksi erat dengan importir pedagang masih bercokol dibeberapa kementerian, jadi arahan Presiden Jokowi belum bisa terlaksana dengan baik," jelasnya.

Bahkan pihaknya melihat ada beberapa oknum pejabat yang ingin mengeliminir penetapan safeguard selama 4 tahun kedepan. "Revisi PERMENDAG 77 2019 pun terancam kembali masuk angin seperti 64 ke 77," tegasnya.

Ia pun meminta Presiden Jokowi tegas mendisiplinkan para pejabat yang terkoneksi erat dengan para mafia impor agar agenda penyelamatan industri TPT benar-benar bisa dijalankan.

"Kebijakan yang dibuat oleh pejabat pro importir pasti akan selalu memberikan lubang yang bisa dimanfaatkan importir pedagang seperti revisi PERMENDAG 64 2017 ke PERMENDAG 77 2019. Belum lagi implementasi dilapangan dimana praktik borongan masih marak, bahkan tahun lalu kita lihat drama praktik impor borongan dipelabuhan dipindahkan ke PLB," pungkasnya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi Nyamuk Demam Berdarah

Senin, 13 Juli 2020 - 00:02 WIB

Tolong Catat! Kasus DBD Hingga Juli Capai 71 Ribu, Jawa Barat Tertinggi

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid mengatakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia hingga juli mencapai 71.633.…

29 Tahun Tupperware

Minggu, 12 Juli 2020 - 22:10 WIB

Berkat Inovasi Produk, Tupperware Tetap Menjadi Kesayangan 'Mama' Selama 29 Tahun

Di Indonesia, tepat 29 tahun yang lalu Tupperware hadir di tengah masyarakat, ya! 29 tahun, sebuah perjalanan yang tidak singkat bagi sebuah merek untuk dapat terus eksis dan di cintai, terlebih…

Eksotisme Goa-Goa Pangandaran, Seiring Wista Seru di Era New Normal

Minggu, 12 Juli 2020 - 21:15 WIB

Eksotisme Goa-Goa Pangandaran, Seiring Wisata Seru di Era New Normal

Wisata seru di era new normal, Anda bisa mencoba menelusuri jejak zaman prasejarah lewat goa-goa Pangandaran, Jawa Barat, yang eksotis.

Bijak dan Cerdas Siaran Melalui Sosial Media

Minggu, 12 Juli 2020 - 20:17 WIB

Keluarga Bisa Jadi Pintu Masuk Untuk Literasi Digital

Jakarta-Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran belum juga kelar. Banyak pihak menyarankan supaya inisiatif dilakukan di tingkat masyarakat.

Penampakan group musik Weird Genius di Times Square AS

Minggu, 12 Juli 2020 - 20:10 WIB

Muncul di Times Square, Group Musik Asal Indonesia Ini Bikin Masyarakat AS Mabuk Kepayang

Weird Genius, sebuah grup musik yang digawangi Reza Arap, Eka Gustiwana, dan Gerald Liu, mengumumkan sebuah kabar gembira bagi penggemar mereka. Belum lama ini dikabarkan jika karya mereka mendapat…