GKR Hemas Resmi Buka Perhelatan Akbar Simposium Wastra ke-7 di Yogyakarta

Oleh : Hariyanto | Rabu, 06 November 2019 - 08:56 WIB

GKR Hemas Resmi Buka Perhelatan Akbar Simposium Wastra ke-7 di Yogyakarta
GKR Hemas Resmi Buka Perhelatan Akbar Simposium Wastra ke-7 di Yogyakarta

INDUSTRY.co.id - Yogyakarta - Perhelatan akbar Simposium Wastra ASEAN Ke-7 (7th ASEAN Traditional Textile Symposium) resmi dibuka oleh Ketua Panitia Penyelenggara, Gusti Kanjeng Ratu Hemas di Yogyakarta, Selasa (5/11/2019). Setiap dua tahun, simposium ini digelar di salah satu negara anggota ASEAN. Tahun 2005, ASEANTTAC sebagai pemrakarsa, yang pada saat itu berinduk pada Himpunan Wastraprema - pecinta wastra adati Indonesia, menggelar simposium yang pertama didukung oleh ASEAN Sekretariat.

Tahun ini, untuk kedua kalinya TTASSEA (Masyarakat Wastra Asia Tenggara) mendapat kehormatan untuk menyelenggarakan ajang yang mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI serta mengambil tema "Merangkul Perubahan, Menghormati Tradisi (Embracing Change, Honoring Tradition)" ini di kota budaya ASEAN, Yogyakarta dari tanggal 5-8 November 2019.

Momen pembukaan resmi 7th ASEAN Traditional Textile Symposium ditandai dengan pemukulan kenong yang dilakukan bersama oleh Ketua Panitia GKR Hemas, Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Yogyakarta, Arofa Noor Indriyani dan Ketua Wastraprema, Adiati Arifin Siregar didampingi oleh Presiden TTASSEA, GKBRAA Paku Alam. Turut hadir tamu kehormatan, Permaisuri Raja Malaysia, Permaisuri Agung Tunku Azizah Aminah Maimunah Iskandariah.

"Adalah suatu kebahagiaan menyambut seluruh peseta Simposium Wastra ASEAN ke-7. Atas nama panitia penyelanggara, saya ingin menyampaikan sambutan hangat kepada para pakar dan pemerhati wastra dunia ke kota yang mempesona," kata Ketua Panitia Penyelenggara 7th ASEAN Traditional Textile Symposium, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, melalui keterangan resmi yang diterima INDUSTRY.co.id, Rabu (6/11/2019).

Dia menambahkan, sejak diprakarsai pada tahun 2009 hingga saat ini, TTASSEA atau Masyarakat Wastra Asia Tenggara telah mengalami berbagai perkembangan yang signifikan. Perkembangan ini meliputi segi sumber daya manusia, segi komunikasi internasional, dan hubungan kerja sama internasional.

"Ajang ATTS ke-7 yang dihelat oleh TTASSEA sebagai salah satu lembaga kemasyarakatan yang sudah diakreditasi oleh ASEAN Secretariat, sangat penting bagi masyarakat, terutama bagi mahasiswa desain dan tekstil, pelaku wastra, peneliti wastra di perguruan tinggi, pecinta wastra Asia Tenggara, dan pemerhati budaya, khususnya budaya material," lanjutnya.

Menurutnya, 7th ASEAN Symposium tidak saja menyediakan panggung untuk saling berbagi pengetahuan dan mengupayakan jalinan persahabatan wastra tetapi juga meningkatkan kolaborasi kalangan akademis, pelaku bisnis, dan pelaku wastra di lapangan. "Acara ini terbuka untuk umum dan kami mengundang masyarakat untuk turut hadir memeriahkannya," katanya.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid menjelaskan bahwa wastra sejatinya merupakan cerminan identitas serta menjadi media penyalur pengetahuan, budaya, dan seni lintas generasi.

"Sejalan dengan amanah UU no. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, dalam upaya pelindungan, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan & Kebudayaan hingga tahun 2019 ini telah menetapkan sebanyak 39 wastra Nusantara menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia, diantaranya batik, ulos, tenun ikat dan songket," ungkap Hilmar.

Lebih jauh Hilmar berharap kegiatan 7th ASEAN Traditional Textiles Symposium dapat mendorong akademisi, pengrajin, kolektor dan pelaku industri tekstil tradisional untuk secara aktif mencari solusi bagi isu-isu pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan kain tradisional, serta menumbuhkan rasa saling menghormati dan membentuk kerjasama yang kuat diantara komunitas wastra di wilayah ASEAN dan dunia.

Lebih dari 20 pembicara dan pemerhati wastra mancanegara diagendakan akan mempresentasikan makalah penelitian mereka terkait wastra. Di antaranya membahas Tenun di ASEAN: Berbagi Sejarah, Tema Bersama oleh Christopher Buckley dari Universitas Oxford, Safe guarding-menjaga Tekstil Tradisional Indonesia oleh Jadin Jamaludin dari Indonesia, dan Talismanic Seeing, Gambar Figuratif dan Islam dalam Batik Jawa oleh James Bennett dari Australia.

Makalah lain yang disampakan termasuk Nilai Estetika Ikat Ganda: Studi Kasus Gringsing dan Oshima-Tsumugi oleh Shigemi Sakakibara dari Jepang, Tenun Tiongkok Kuno: Perangkat Pola Heddle Berganda oleh Long Bo of China dan Melestarikan Tekstil Terfo Papua di Wilayah Sarmi oleh I Wayan Rai dari Indonesia.
 
Berbagai acara pendukung dihelat antara lain kompetisi rancang dan fotografi. Ada 30 finalis dalam kompetisi fotografi dan kompetisi desain tas dan aksesoris serta 10 finalis dalam kompetisi desain sarung dan syal. Dua puluh enam peserta yang terdiri dari pelaku usaha kecil dan menengah telah dipilih dan memamerkan produk tekstil mereka di Pendopo Royal Ambarrukmo dan ruang Pendopo Ndalem Ageng di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Yasarini Lanud Silas Papare Undang Orangtua Peserta Didik

Rabu, 15 Juli 2020 - 13:09 WIB

Yasarini Lanud Silas Papare Undang Orangtua Peserta Didik

Memasuki tahun ajaran baru 2020/2021, Yasarini Lanud Silas Papare mengundang orangtua peserta didik dalam acara Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Sekolah Angkasa Lanud Silas Papare, Selasa,…

Tissa Biani

Rabu, 15 Juli 2020 - 13:00 WIB

Tissa Biani Menjadi Duta Festival Film Indonesia 2020

Festival Film Indonesia tetap hadir di tahun 2020. Memasuki tahun ke-40 penyelenggaraan, Komite Festival Film Indonesia yang dipimpin oleh Lukman Sardi berkomitmen agar apresiasi tertinggi terhadap…

Pembukaan Garmin Brand Store ketiga di Indonesia

Rabu, 15 Juli 2020 - 12:15 WIB

Gandeng Erajaya Group, Garmin Buka Toko Ketiganya di Indonesia

Garmin Indonesia hari ini mengumumkan pembukaan Garmin Brand Store ketiga di Indonesia bersama PT. Erafone Artha Retailindo, anak usaha Erajaya Group. Garmin Brand Store yang baru dibuka berlokasi…

CEO Indodax Oscar Darmawan

Rabu, 15 Juli 2020 - 12:01 WIB

Setelah Dogecoin, Kini Giliran Aurora Naik 350 Persen Dalam Sehari

Di market Indodax.com, harga Aurora meningkat dari Rp53 per koin pada 12 Juli 2020. Kemudian, Aurora meningkat menjadi Rp242 pada 13 Juli malam.

Amelia Hapsari Terpilih Sebagai Anggota Terbaru Academy Award

Rabu, 15 Juli 2020 - 12:00 WIB

Amelia Hapsari, Terpilih Sebagai Anggota Terbaru Academy Award

Salah seorang kurator film dokumenter untuk Festival Film Indonesia, Amelia Hapsari terpilih sebagai anggota terbaru Academy Award. Ke depannya beliau berhak memberikan voting untuk menentukan…