INDUSTRY.co.id -  Jakarta – Setelah sekian lama saham telekomunikasi tidak mendapat katalis positip akibat diskon tariff yang telah berakhir, akhirnya emiten telco mendapat angin segar dari penjualan menara yang dilakukan oleh PT Indosat, yang dibeli oleh grup PT Telekomunikasi Indonesia dan PT Sarana Menara Nusantara. Pembelian ini membuat hampir semua saham emiten telco merangkak naik.

Advertisement

 Indosat telah menjual total 3.100 menaranya, yang dibeli oleh PT Dayamitra Telekomunikasi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Miratel sebanyak 2.100 tower dan sisanya 1.000 tower dibeli oleh PT Profesional Telekomunikasi Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Protelindo, yang dimiliki oleh PT Sarana Menara Nusantara, dengan total nilai pembelian mencapi Rp 6,394 triliun atau setara dengan Rp 2,063 miliar/tower.

 Menurut Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi, hasil penjualan ini lebih premium dari transaksi penjualan menara yang dilakukan oleh PT XL Axiata pada 2016 silam, senilai Rp 1,43 miliar untuk setiap towernya. ‘’Dengan keberhasilan transaksi ini, Indosat tidak perlu khawatir dengan masalah ketersediaan belanja modal dan melakukan ekspansi usaha untuk tahun depan serta mendapat valuasi asset yang positip,’’ papar Lucky.

Advertisement

 Sehingga rekomendasi Beli diberikan untuk saham Indosat (ISAT) dengan target harga Rp 3.770/saham. Sekuritas milik negara ini memperkirakan pada akhir tahun ini, total pendapatan Indosat akan mencapai Rp 25,095 triliun, naik dibanding pencapaian akhir tahun lalu yang membukukan pendapatan sebesar Rp 23,14 triliun. Laba bersih diperkirakan akan berada pada kisaran negatif Rp 1,6 triliun, di luar laba dari penjualan menara, lebih baik bagi dari pencapaian tahun lalu yang tercatat sebesar negatif Rp 2,404 triliun.

 Transaksi ini juga berdampak positif untuk PT Sarana Menara karena dengan pembelian menara ini, perusahaan berkode saham TOWR ini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penyewaan menara Hutchinson, juga akan mengurangi konsentrasi basis pelanggannya dengan penambahan yang signifikan sewa Indosat dan telkomsel. Bahana memperkirakan dengan pembelian ini, akan menambah pendapatan bersih sekitar Rp 49 miliar/tahun. Bahana memberi rekomendasi beli atas saham TOWR dengan target harga Rp 780/saham.

Advertisement

 Hal yang sama juga berlaku bagi Miratel, dengan pembelian ini mengukuhkan Miratel sebagai perusahaan tower terbesar di Indonesia, yang memiliki lebih dari 27.000 menara, setelah pada awal tahun ini juga membeli 1.000 tower melalui akuisisi Persada Sokka Tama. Strategi ini akan membuat Telkom sebagai induk usaha memiliki kelebihan kas dan neraca keuangan yang semakin kuat ditengah-tengah trend penurunan suku bunga.

 ‘’Kedepan beberapa emiten telekomunikasi kemungkinan masih akan menjual menara lagi, namun waktunya belum dipastikan,’’ ujar Lucky.

Advertisement