Lenzing AG (Austria) Mencatat Kinerja Positif pada Pasar Kompetitif

Oleh : Herry Barus | Jumat, 09 Agustus 2019 - 08:00 WIB

Stefan Doboczky (CEO) bersama pimpinan Lenzing AG di Austria
Stefan Doboczky (CEO) bersama pimpinan Lenzing AG di Austria

INDUSTRY.co.id - Jakarta-Lenzing AG dari Austria mencatat kelanjutan pengembangan bisnis yang solid pada semester pertama di tahun 2019 ini. Meskipun ada tantangan yang signifikan dari pasar berupa harga serat viscose yang masih di bawah harapan, akan tetapi Lenzing AG berhasil meraih peningkatan pendapatan bisnisnya.

Tercatat ada peningkatan 1,2% pada semester pertama 2019 atau sekitar EUR 1,09 Miliar. Pendapatan perusahaan meningkat signifikan sebesar 48,4 %, melampaui periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya sebesar 44,1 % sedangkan untuk EBITDA mengalami penurunan 7 % atau sekitar EUR 181,2 Juta. Fenomena penurunan ini terutama disebabkan oleh jumlah volume yang meningkat serta nilai tukar mata uang asing sehingga berakibat biaya produksi pulp meningkat serta biaya tenaga kerja maupun kondisi pasar serat viscose saat ini yang ketat.

EBITDA turun dari 18,1% pada semester pertama tahun 2018 menjadi 16,6% pada catatan laporan keuangan perusahaan. EBIT turun dari sebesar 17,9 % atau sekitar EUR 105,6 Juta dengan EBIT lebih rendah 9,7 % sehingga menghasilkan laba bersih pada periode tersebut juga turun 15,9 % dari EUR 91,3 Juta menjadi EUR 76,8 Juta.

“Yang terjadi sesuai dengan strategi sCore TEN, karena bisnis serat berkembang sangat positif, yang membuat daya tahan korporasi lebih kuat secara signifikan dibanding beberapa tahun lalu. Investasi Lenzing dalam kapasitas produk baru untuk serat Lyocell serta fokus pada produk dengan merek dagang kami yaitu Tencel dan Veocel menjadikan Lenzing semakin tangguh menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif dan semakin memperkuat sebagai produsen serat unggulan yang terkemuka di dunia. Lenzing melaksanakan tahap pertama dari rencana pertumbuhan yang ambisius dengan pembangunan pabrik Lyocell yang canggih di Thailand,” kata Stefan Doboczky, CEO Lenzing Group, Kamis (8/8/2019)

“Konflik dagang di antara negara – negara besar semakin meningkat sehingga memastikan keputusan Lenzing untuk memantau proyek Mobile di Alabama (Amerika Serikat) secara seksama dan akan melakukan review secara bertahap.

Perluasan Kapasitas Produki Serat Unggulan

Lenzing secara mendasar meningkatkan produksi serat Lyocell untuk memenuhi permintaan pasar yang besar untuk produk serat unggulan seperti ini. Lenzing menempatkan fokus pada pertumbuhan dan stabilitas keuntungan perusahaan serta meningkatkan langkah strategis yang memperhatikan ekologi industri tekstil maupun industri non woven melalui perluasan produksi serat unggulan. Langkah pertama ekspansi dari strategi pertumbuhan yang ambisius tersebut adalah dengan disetujuinya pada kuartal kedua tahun 2019 untuk membangunan pabrik produksi dengan teknologi mutakhir untuk serat Lyocell di propinsi Prachinburi yang berada di Thailand, Total investasi untuk pabrik baru di Thailand tersebut adalah sekitar EUR 400 Juta dengan memiliki kapasitas 100.000 ton. Menurut catatan bahwa proyek ini semula akan dibangun di Indonesia namun pemerintah Thailand berhasil memberikan kepastian secara tertulis untuk investasi asing di negara Gajah Putih.

Perluasan Kapasitas Produksi Pulp

Lenzing dan Duratex – sebagai mitra bisnis dari Brasil, menindaklanjuti rencana pembangunan pabrik pulp yang terletak pada negara bagian Minas Gerais di Brasil. Tahap perencanaan teknis, persiapan lokasi, serta perijinan yang menjadi keharusan sudah terlaksana sesuai rencana. Direncanakan pada akhir tahun 2019 ini ada keputusan untuk investasi di negara tersebut.

Lenzing berhasil menyelesaikan perluasan dan modernisasi kapasitas produksi untuk pulp dissolve di lokasi pabrik Lenzing di Austria.

Transparansi Bisnis – Mulai Dari Kayu Hingga Menjadi Pakaian

Lenzing akan menggunakan blockchain technology untuk mendukung bisnis serat bermerek dagang Tencel, serta memastikan transparansi dan kemudahan mengenali merek dagang serat tersebut pada produk pakaian jadi. Pada kuartal kedua 2019, Lenzing mengumumkan kerjasama dengan TextileGenesis yaitu sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di Hong Kong, untuk merealisasikan recana ini. Lenzing akan melakukan beberapa uji coba produk yang melibatkan mitra di sepanjang mata rantai bisnisnya dan diharapkan rencana ini akan terlaksana pada tahun 2020.

 

Mendukung Pemeliharan Iklim

 

Lenzing bertujuan untuk memperkuat posisinya sebagai pelopor pelopor dalam industri serat, dengan menginvestasikan lebih dari EUR 100 Juta dalam langkah-langkah penghematan energi, dalam konversi yang berkelanjutan untuk energi terbarukan dan dalam teknologi baru. Dalam perencanaan fasilitas pulp dan Lyocell baru seperti pabrik di Thailand, Lenzing juga menempatkan fokus untuk sumber energi rendah karbon dan proses produksi. Tujuan dari strategi iklimnya adalah untuk mengurangi emisi bersih dari gas rumah kaca menjadi nol pada tahun 2050. Tonggak penting dalam cara menjadi netral-iklim ditetapkan untuk tahun 2030. Pada saat itu, Lenzing berkomitmen untuk mengurangi emisi per ton serat dan pulp sebesar 50 persen dibandingkan dengan 2017.

 

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi Pekerja Migran Indonesia (foto Ist)

Rabu, 29 Juni 2022 - 14:21 WIB

Sedih! Muhaimin Iskandar: 3-4 Juta Pekerja Migran Indonesia Belum Jadi Peserta BP Jamsostek

Jakarta- Warga kita yang berada di luar negeri seperti Hongkong, Taiwan, Malaysia, Arab Saudi, dan lain-lain, yang tentu membutuhkan perhatian serius dan belum menjadi peserta BP Jamsostek.…

Presiden Jokowi di Ukraina

Rabu, 29 Juni 2022 - 14:21 WIB

Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Tiba di Kyiv Ukraina

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 11 jam, Kereta Luar Biasa (KLB) yang membawa Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana tiba di Peron 1 Stasiun Central Kyiv, Ukraina sekitar pukul 08.50…

Jajaran Komisaris dan Direksi BEI yang hadir pada RUPST BEI 2022. (Foto: Humas BEI)

Rabu, 29 Juni 2022 - 14:14 WIB

Iman Rachman Resmi Jadi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Hingga 2026

Para pemegang saham PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk tahun buku 2021 telah menyetujui pengangkatan Iman Rachman sebagai Direktur Utama BEI…

Suasana Pengisian BBM (Pertamina)

Rabu, 29 Juni 2022 - 14:01 WIB

Pembelian Pertalite Melalui Aplikasi MyPertamina Jangan Sampai Menyulitkan Rakyat Kecil di Daerah

Mulai 1 Juli 2022, pembeli BBM jenis Pertalite dan Solar subsidi harus mendaftar ke website MyPertamina atau aplikasi MyPertamina. Dengan begitu, hanya konsumen terdaftar saja yang bisa membeli…

Ilustrasi SPBU Coco

Rabu, 29 Juni 2022 - 13:59 WIB

Soal Beli Solar dan Pertalite Pakai Aplikasi! DPR: Penggunaan MyPertamina untuk Hindari Kebocoran Subsidi

Jakarta-Rencana penggunaan aplikasi MyPertamina untuk mengakses solar dan Pertalite bagi masyarakat ditujukan untuk menutup kebocoran subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini dianggarkan.…