Penurunan Harga Gas Dinilai Mampu Pacu Ekspor Produk Keramik Lokal Hingga 30 Persen

Oleh : Ridwan | Kamis, 14 Maret 2019 - 19:35 WIB

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto (Foto: Ridwan/Industry.co.id)
Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto (Foto: Ridwan/Industry.co.id)

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Industri keramik nasional masih menunggu realisasi dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 Tahun 2016 terkait penurunan harga gas untuk industri.

Hal tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto seusai pembukaan pameran Keramika 2019 di Jakarta Convention Center, Kamis (14/3).

Menurutnya, masih tinggi dan tidak meratanya harga gas industri membuat daya saing industri keramik dalam negeri semakin menurun.

"Harga gas itu sangat berpengaruh besar terhadap daya saing industri keramik nasional. Pasalnya, hampir 35 persen cost perusahaan untuk komponen gas," terangnya.

Saat ini, terang Edy, terjadi perbedaan harga gas untuk industri di beberapa wilayah Indonesia. Misalnya, Jawa Timur harga gas mencapai USD 7,98 per MMBTU, Jawa Barat yang memiliki paling banyak industri-nya mencapai USD 9,1 per MMBTU. Sedangkan di Malaysia sebesar USD 7,5 per MMBTU.

"Kalau memang diberi kesempatan dengan harga gas yang bersaing, kami (Asaki) yakin akan mampu meningkatkan ekspor, karena kalau dilihat dari segi teknologi dan bahan baku, Indonesia lebih kumplit," tutur Edy.

Dijelaskan Edy, total kapasitas produksi industri keramik nasional pada tahun 2018 mencapai 380 juta meter persegi, dan hampir 10 persen-nya di ekspor. "Filipina menjadi pangsa pasar ekspor produk keramik Indonesia," kata Edy.

Edy meyakini dengan harga gas industri yang bersaing mampu meningkatkan nilai ekspor produk keramik Indonesia mencapai 30 persen dari total kapasitas produksi nasional. 

"Kalau harga gas industri di Indonesia selevel dengan Malaysia, kami (Asaki) yakin nilai ekspor akan tembus 30 persen," jelasnya.

Lebih lanjut, Edy menambahkan, pihaknya (Asaki) tidak meminta penurunan harga gas industri sesuai dengan janji pemerintah. Edy menyadari bahwa pihak penyalur gas industri dalam hal ini PGN dan Asaki juga harus tumbuh bersama. 

"Yang penting ada win-win solution, fan berharap harga gas bisa disetarakan antar wilayah sebesar USD 7,98 per MMBTU," tutur Edy.

Sementara itu, Danny Praditya selaku Direktur Komersial PT. Perusahaan Gas Negara (PGN) mengungkapkan, penurunan harga gas menjadi suatu permasalahan yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

"Kami (PGN) juga tidak bisa selesaikan sendiri, dsari hulu sampai hilir banyak prosesnya," terang Danny.

Diterangkan Danny, salah satu cara yang dapat dilakukan dalam waktu dekat adalah diferensiasi harga untuk pelaku industri keramik. 

"Kalau melihat dari struktur harganya, memang selayaknya sudah seperti itu. Kita masih evakuasi secara keseluruhan, mudah-mudahan di bulan Juni nanti ada kabar baik yang bisa kita sampaikan," tutup Danny.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

GSP

Kamis, 20 Februari 2020 - 01:01 WIB

Datangi Amerika, Indonesia Pertahankan Fasilitas Sistem Tarif Preferensial Umum (GSP) Produk Ekspor

Menteri Perdagangan RI Agus Suparmanto menyatakan bahwa Indonesia terus berkomitmen untuk mempertahankan fasilitas sistem tarif preferensial umum (Generalized System of Preference/GSP) bagi…

Menteri Teten usai menerima CEO PT Global Dairi Alami (PT GDA) Ihsan Mulia Putri, di Jakarta, Rabu (19/2).

Kamis, 20 Februari 2020 - 00:31 WIB

Menkop Akan Patahkan Dominasi Susu Impor

Jakarta - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menegaskan, pihaknya akan mematahkan dominasi produk impor susu dalam memenuhi kebutuhan susu nasional.

Larangan untuk mendonorkan dan memperjualbelikan sperma

Kamis, 20 Februari 2020 - 00:19 WIB

Idih! Ada Larangan Jual Beli Sperma dalam RUU Ketahanan Keluarga

RUU Ketahanan Keluarga mengatur kewajiban dan hak suami-istri dalam kehidupan perkawinan. Bahkan RUU itu mengatur secara khusus tentang perasaan.

Bank Danamon Indonesia (Foto Dok Industry.co.id)

Rabu, 19 Februari 2020 - 23:46 WIB

Sejak 1956, PT Bank Danamon Indonesia Tbk Terus Catatkan Pertumbuhan

PT Bank Danamon Indonesia Tbk yang berdiri sejak 1956 terus menunjukkan tata kelola bank yang baik. Hal ini tercermin dari hasil laporan keuangan yang dirilis pada hari ini Rabu (19/2/2020)…

Bank Danamon

Rabu, 19 Februari 2020 - 23:02 WIB

Bank Danamon Raup Laba Bersih Rp 4,07 Triliun

PT Bank Danamon Indonesia Tbk hari ini Rabu, (19/2/2020) merilis laporan keuangan untuk tahun 2019. Dalam laporannya, Bank Danamon membukukan laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar Rp 4,07…