INDUSTRY.co.id - Jakarta- PT Astra International Tbk (ASII), distributor otomotif terbesar di Indonesia, meraih laba bersih Rp15,156 triliun (Rp374 per saham) pada 2016, atau tumbuh 4,78% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp14,464 triliun (Rp357 per saham). Sedangkan pendapatan pada 2016 turun 1,72% menjadi Rp181,084 triliun dibanding pada tahun sebelumnya Rp184,196 triliun.
Pertumbuhan laba itu diperoleh karena manajemen ASII berhasil melaksanakan efisiensi usaha, terutama di sektor pertambangan. Efisiensi yang dilaksanakan ASII tersebut adalah penurunan beban penjualan sekitar 13,84% dari Rp 9,117 triliun menjadi Rp7,855 triliun dan kerugian selisih kurs yang dapat ditekan menjadi Rp155 miliar, lebih rendah 46,74% dibanding Rp291 miliar pada 2015.
Kendati pendapatan lain-lain turun menjadi Rp3,165 triliun pada 2016 dibanding Rp4,234 triliun pada 2015, Astra berhasil memperoleh penghematan yang signifikan atas kerugian penurunan nilai properti pertambangan. Sepanjang 2016, Astra tidak mengalami pos kerugian tersebut sedangkan pada 2015 Astra masih mencatat kerugian di pos tersebut sebesar Rp5,255 triliun.
Dalam siaran pers di Jakarta, Senin (27/02/2017), Prijono Sugiarto, Presiden Direktur ASII, mengatakan, kinerja grup otomotif pada 2016 cukup baik. Itu ditandai dengan kenaikan pangsa pasar mobil dan sepeda motor. Sebaliknya, kinerja penjualan alat berat dan pertambangan tertekan akibat rendahnya harga batu bara di sebagian besar periode 2016 kendati terjadi perbaikan harga pada triwulan terakhir tahun lalu.
Prijono juga mengungkapkan, kinerja bisnis grup Astra sepanjang 2016 cukup memuaskan dengan peningkatan kinerja yang stabil di beberapa bisnis yang dijalankan Astra selama ini. Kinerja usaha Astra pada 2017 tampaknya bakal cukup positif berkat perbaikan kondisi ekonomi dan kenaikan harga batu bara.
Bisnis otomotif masih menjadi kontributor terbesar bagi laba bersih konsolidasi ASII. Pada 2016, kontribusi laba dari bisnis otomotif baik dari penjualan mobil maupun sepeda motor sebesar Rp9,166 triliun, atau naik 23% dibanding Rp7,464 triliun pada 2015. Kontributor laba Astra terbesar kedua berasal dari bisnis alat berat dan pertambangan sebesar Rp3,032 triliun, atau naik 30% dibandingkan Rp2,342 triliun pada 2015.
Sebaliknya, kontribusi laba bersih dari bisnis jasa keuangan yang pada 2015 masih menyumbang laba Rp3,555 triliun bagi Astra, anjlok sebesar 35% menjadi Rp789 miliar pada 2016. Penurunan tajam laba bersih di bisnis jasa keuangan ini pada 2016 karena peningkatan pencadangan yang signifikan untuk jaminan kredit bermasalah PT Bank Permata Tbk (BNLI).
Akibatnya, ASII kehilangan kontribusi laba sekitar Rp3 triliun dari bisnis jasa keuangan. BNLI sendiri akan memperoleh tambahan modal Rp8,5 triliun yang berasal dari capital advance (urunan) antara Astra dengan Standard Chartered Bank sebesar Rp1,5 triliun melalui mekanisme rights issue pada semester pertama 2017 ditambah Rp 5,5 triliun dari hasil rights issue pada Juni 2016. Seperti diketahui, BNLI menderita kerugian Rp6,5 triliun pada 2016 dibandingkan laba sebesar Rp247 miliar pada 2015.
Sementara itu, kontribusi laba dari agribisnis tercatat sebesar Rp1,599 triliun, melonjak 224% dibanding Rp 493 miliar pada 2015. Bisnis infrastruktur dan logistik memberi kontribusi laba Rp263 miliar, atau naik 35% dibanding pada 2015 sebesar Rp195 miliar.
Sedangkan kontribusi laba dari bisnis Teknologi Informasi (TI) turun 4% menjadi Rp196 miliar pada 2016 dibanding Rp 204 miliar pada 2015. Kemudian bisnis properti Astra baru memberikan kontribusi laba sebesar Rp111 miliar pada 2016, turun 47% dibanding Rp211 miliar pada 2015.***