Industri Keramik Keluhkan Harga Gas yang Masih Mahal

Oleh : Ahmad Fadli | Kamis, 18 Oktober 2018 - 17:35 WIB

Marketing Manager PT Saranagriya Lestari Keramik, Susan Anindita
Marketing Manager PT Saranagriya Lestari Keramik, Susan Anindita

INDUSTRY.co.id, Jakarta - Industri keramik masih terus mengeluhkan harga gas industri yang masih mahal. Rata - rata harga gas industri masih sekitar USD9 per MMBTU. Padahal Presiden Joko Widodo sudah meminta agar harga gas industri turun sehingga beban produksi industri lebih ringan. Namun nyatanya sampai saat ini harga gas masih mahal.

Asal tahu saja, harga gas industri saat ini sekitar USD8,03 per MMBTU di Jawa Timur dan di Jawa Barat harga gas mencapai USD9,15 per MMBTU, bahkan di Sumatra Utara harganya mencapai USD9,8 per MMBTU. Mahalnya harga gas ini sangat berpengaruh pada kinerja industri keramik. Selain karena faktor persaingan yang ketat dan serbuan produk impor, harga gas yang mahal membuat banyak industri keramik tutup usaha.

Hal itu juga dirasakan oleh PT Saranagriya Lestari Keramik selaku produsen Milan Keramik nasional. Meski terbilang masih eksis ditengah kondisi yang serba sulit, namun perusahaan ini sebenarnya juga berteriak dan mengeluhkan mahalnya harga gas industri. Menurut, Marketing Manager PT Saranagriya Lestari Keramik, Susan Anindita, sudah seharusnya pemerintah merealisasikan harga gas yang murah agar industri dalam negeri khususnya industri keramik yang tergabung dalam Asaki tidak semakin banyak yang tutup usahanya.

"Kita harusnya harga gas industri itu di bawah rata-rata harga di dunia. Bertahun - tahun seperti ini dan masih mahal juga padahal Presiden bilang diturunkan tapi tetap tidak turun. Saya nggak tahu kenapa kok pemerintah sepertinya sulit menurunkan harga gas itu," kata Susan saat bincang - bincang dengan awak media di Milan Gallery, Jakarta Pusat, Kamis (18/10).

Untuk diketahui, harga gas industri di Indonesia dibandingkan Malaysia terpaut cukup jauh. Di Malaysia harga gas industri sebesar USD6 per MMBTU. Sementara di Eropa mencapai USD3 per MMBTU.  Hal ini membuat daya saing produk keramik dalam negeri terseok-seok ditengah masifnya produk keramik impor.

Dita menambahkan selain harga mahal, tarif listrik bagi industri juga tergolong mahal. Selain itu, adanya kerja sama yang tertuang di dalam Asean China Free Trade Agreement, justru kian berpotensi menggerus produsen lokal. Bayangkan saja, saat bea masuk impor keramik China masih 20 persen saja, pertumbuhan impornya mencapai 22 persen setiap tahun. Dia berharap ada keberpihakan pemerintah yang konkrit agar industri keramik nasional tetap bertahan.

"Bagaimana mengatasi harga gas tidak kompetitif dan berbagai masalah itu, ya kita harus lakukan efisiensi tapi tidak langsung kurangi kuantiti produksi, kalau dikurangi overheatnya malah makin tinggi. Kita investasi teknologi mesin yang hemat energi meskipun memang di satu sisi tetap tidak bisa kompetisi dengan impor," ucap dia.

Demi mensiasati pasar yang semakin ketat, Dita menyatakan Milan Keramik akan fokus untuk menyasar pasar domestik meskipun disaat yang sama perusahaannya tetap melakukan ekspor. Setidaknya terdapat 25 negara yang menjadi tujuan ekspor. Namun pangsa ekspor diakuinya tidak terlalu besar dan hanya ditargetkan tahun ini hanya bisa tumbuh single digit saja.

"Kita tidak genjot masif ekspor karena kita ingin optimalkan penyerapan di lokal, kalau ternyata di ekspor nanti tertarik lagi kita sangat welcome. Kalau dalam negera sendiri masih butuh banyak mengapa kita tidak suplai ke dana dari pada dijajah produk impor," pungkas Dita

Untuk diketahui, Milan Tiles yang memiliki jumlah motif dari 600 varian, adalah pilihan tepat bagi desainer interior, arsitek dan design enthusiast yang mengerti akan kualitas dalam setiap detailnya. Sedangkan inovasi dari segi material, menjadikan Milan Tiles bernilai tambah yang mengedepankan fitur kekuatan, ketepatan ukuran, kerapihan, dan keindahan keramik.

Tahun ini, Milan Tiles memperkenalkan 3 efek spesial yang ada di koleksi HABITAT GRESS, yaitu PEARL Effect (efek kilau mutiara di atas keramik satin, TINKERBELL Effect (efek serbuk berkilauan untuk menambah dimensi pada keramik), dan GLAM Effect (efek yang memberikan hasil akhir glamor dan mewah).

 .

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Satgas Pamtas Yonif 411 Patroli Simpatik di Bivak Warga Pedalaman Papua

Selasa, 07 April 2020 - 04:30 WIB

Satgas Pamtas Yonif 411 Patroli Simpatik di Bivak Warga Pedalaman Papua

Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Republik Indonesia-Papua Nugini (Satgas Pamtas RI-PNG) Yonif Mekanis Raider 411/Pdw Kostrad, melaksanakan kegiatan patroli simpatik di salah satu bivak warga…

Korps Marinir Adakan Survey Kepuasan Masyarakat

Selasa, 07 April 2020 - 04:30 WIB

Korps Marinir Adakan Survey Kepuasan Masyarakat

Korps Marinir melakukan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM). Kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasaan masyarakat terhadap pelayanan instansi pemerintah ini dilaksanakan oleh Korps…

Cek Kesiapan Operasional Kendaraan, Brigif Para Raider 18/SEY Gelar Pemeriksaan

Selasa, 07 April 2020 - 04:00 WIB

Cek Kesiapan Operasional Kendaraan, Brigif Para Raider 18/SEY Gelar Pemeriksaan

Dalam rangka upaya pencegahan serta menekan terjadinya pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas serta menjamin kesiapan kendaraan dinas operasional, Brigif Para Raider 18/SEY menggelar apel pemeriksaan…

Personel TMMD Kodim 1707 Ajari Warga Kampung Epem Bercocok Tanam

Selasa, 07 April 2020 - 03:00 WIB

Personel TMMD Kodim 1707 Ajari Warga Kampung Epem Bercocok Tanam

Tak hanya menjalankan kegiatan fisik berupa pembangunan 20 unit rumah untuk warga Kampung Epem, Distrik Citak Mitak, Kab. Mappi, Papua, personel Satuan Tugas TNI Manunggal Membangun Desa (Satgas…

Prajurit TNI Bantu Warga Perbatasan RI-PNG Panen Rambutan

Selasa, 07 April 2020 - 02:27 WIB

Prajurit TNI Bantu Warga Perbatasan RI-PNG Panen Rambutan

Prajurit TNI dari Batalyon Infanteri Mekanis Raider 411/Pandawa (Yonif MR 411/Pdw) Kostrad yang tergabung dalam Satgas Pamtas RI-PNG, membantu salah satu warga binaannya panen buah Rambutan…