INDUSTRY.co.id, Jakarta - Jumlah wisatawan yang bepergian dari sejumlah negara berkembang di kawasan Asia-Pasifik pada beberapa tahun mendatang dinilai bakal melonjak lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

"Pertumbuhan kelas menengah mendorong pertumbuhan wisata di Asia Pasifik, bersamaan dengan tren lain seperti munculnya wisatawan milenial Asia dan wisatawan usia senior di sisi lainnya, serta perkembangan teknologi dan infrastruktur," kata Senior Vice President Asia Pasific Mastercard Advisors (perusahaan finansial), Eric Schneider, dalam rilis kepada wartawan, Rabu (15/2/2017).

Berdasarkan laporan Mastercard bertajuk "Future of Outbound Travel in Asia Pasific 2016 to 2021", jumlah wisatawan yang bepergian dari negara-negara berkembang di Asia Pasifik (China, India, Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, Vietnam, Bangladesh, Myanmar dan Sri Lanka) saat ini telah melampaui wisatawan outbound dari negara-negara maju di Asia Pasifik.

Selain itu, angka tersebut diprediksikan akan tumbuh dua kali lebih cepat dalam lima tahun ke depan (7,6 persen dibandingkan 3,3 persen).

Secara kolektif, negara-negara di Asia Pasifik diprediksikan akan tumbuh sebesar enam persen setiap tahunnya mulai dari 2016 hingga 2021.

Data tersebut tidak mengejutkan, sebab China diprediksikan sebagai negara dengan wisata terbesar pada tahun 2021 dengan 103,4 juta kunjungan.

Jumlah itu berkontribusi hingga sebesar 40 persen dari total keseluruhan wisata outbound di Asia Pasifik, hampir empat kali lipat dari negara terbesar ke-2 dan ke-3, yakni Korea Selatan (25,6 juta) dan India (21,5 juta).

"Wisatawan Asia Pasifik akan terus memicu pertumbuhan pariwisata global di tahun-tahun mendatang, menyediakan beragam kesempatan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan melalui pengembangan produk dan solusi yang senantiasa diupayakan untuk meningkatkan keseluruhan pengalaman perjalanan mereka," kata Eric Schneider.

Myanmar diproyeksikan akan menjadi negara asal wisatawan yang mengalami pertumbuhan tercepat dengan pertumbuhan sebesar 10,6 persen per tahun dalam jangka lima tahun ke depan, diikuti dengan Vietnam (9,5 persen), Indonesia (8,6 persen), China (8,5 persen), dan India (8,2 persen).

Di antara negara-negara maju di Asia Pasifik, pertumbuhan tercepat dialami oleh Korea Selatan (3,8 persen), diikuti oleh Singapura (3,5 persen), Australia (3,5 persen) dan Selandia Baru (3,4 persen).

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata I Gede Pitana mengatakan Indonesia membutuhkan sedikitnya 2,5 juta tenaga kerja dalam lima tahun mendatang.

"Kita membutuhkan 2,5 juta tenaga kerja. Sekitar 70 persen diantaranya untuk tingkatan pekerja vokasi," ujar Pitana, Senin (13/2).

Dia mengatakan pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat cepat dan sangat tinggi menyerap tenaga kerja sehingga SDM untuk bidang pariwisata benar-benar disiapkan terutama sekali tenaga kerja profesional.

Top 10 Branding Destination yang ditetapkan Kemenpar adalah Great Jakarta, Great Bali, Great Kepri, Joglosemar, Bunaken-Wakatobi-Raja Ampat, Medan, Lombok, Makassar, Bandung, dan Banyuwangi.

Sedangkan Top 10 New Bali adalah Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai.