INDUSTRY.co.id - Jakarta- Kinerja keuangan emiten telekomunikasi memang masih dibayang-bayangi registrasi prabayar yang beberapa waktu lalu diterapkan pemerintah. Namun registrasi tersebut tidak menyurutkan beberapa emiten telekomunikasi untuk melakukan ekspansi jaringannya.
PT Telkomsel, anak usaha PT Telkomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), atau Telkom, paling gencar membangun jaringan telekomunikasi khususnya broadband. Ini dapat dilihat dari jumlah BTS on air mereka yang meningkat 19,9% yaitu dari 147 juta BTS menjadi 176 juta BTS per Juni 2018.
Emiten lain yang rajin membangun BTS adalah PT XL Axiata Tbk (EXCL). Itu dibuktikan dengan peningkatan jumlah BTS mereka dari 94 juta BTS menjadi 112 juta BTS.
Menurut Andri Ngaserin, analis saham dari Bahana Sekuritas, pembangunan jaringan telekomunikasi harus dilakukan oleh operator telekomunikasi jika mereka ingin mempertahankan kinerja keuangannya dan jumlah pelanggannya. Terlebih lagi, jika emiten telekomunikasi tersebut ingin meningkatkan jumlah pelanggan data.
Fitch Ratings juga mencatat kebutuhan akan broadbanddi Indonesia sangatlah tinggi. Tingginya kebutuhan broadband membuat operator telekomunikasi secara agresif menggelontorkan belanja modal (capital expenditure/Capex).
Operator yang saat ini gencar menggeluarkan Capex adalah Telkomsel dan XL. Fitch mencatat rata-rata Capex yang dikeluarkan operator untuk penggembangan jaringan mereka mencapai 20% dari pendapatan mereka.
Menurut Andri, mereka wajar saja mengeluarkan Capex yang besar untuk membiayai pengembangan layanan data dan digital. Itu karena broadband akan menjadi tulang punggung pendapatan emiten telekomunikasi ke depan.
“Nantinya investor hanya akan melirik emiten telekomunikasi yang memiliki komposisi pendapatan data terbesar. Laba bersih Telkom yang mengalami penurunan dikarenakan Telkom dan Telkomsel melakukan investasi yang sangat besar di broadband,” papar Andri.
Hingga kini emiten yang dinilai Andri memiliki komposisi pendapatan data lebih besar dari pendapatan regulernya adalah XL. Sedangkan Telkomsel dinilai Andri masih mengarah untuk menuju ke layanan data.
Andri optimistis, melalui investasi, Telkom dan Telkomsel yang besar di layanan data, akan membuat komposisi pendapatan mereka akan berubah dari pendapatan regulernya menjadi ke pendapatan data dan bisnis digital.
Menurut laporan keuangan Telkom, pendapatan bisnis digital Telkomsel mengalami kenaikan signifikan, yaitu sebesar 17,5%. Pendapatan itu memberikan kontribusi 49,7% dari pendapatan konsolidasi Telkomsel. Padahal, pendapatan bisnis ini pada tahun lalu hanya mencapai 39,3% dari pendapatan konsolidasi Telkomsel.
“Sedangkan untuk Indosat, saya masih belum bisa melihat mereka menuju ke layanan data. Itu karena jaringan mereka kurang bagus karena selama ini operator tersebut melakukan perang harga. Indosat saat ini cukup berat untuk meningkatkan pendapatannya karena jaringannya yang kurang bagus. Untuk telpon saja susah apalagi untuk data,” papar Andri.
Beberapa waktu yang lalu emiten telekomunikasi masih melakukan perang harga di layanan data dan layanan reguler. Tetapi dalam dua bulan terakhir ini, Andri melihat perang harga sudah mulai berkurang.
Analis saham Bahana Sekuritas itu berharap, emiten telekomunikasi di masa mendatang tidak lagi melakukan perang harga untuk meraih pelanggan. Jika para operator konsisten untuk tidak melakukan perang harga lagi, Andri optimistis margin dan kinerja keuangan mereka akan pulih pada akhir tahun ini.
Dari tiga emiten telekomunikasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), menurut Bahana Sekuritas, Telkom melalui Telkomsel masih memiliki ARPU (average revenue per user) terbaik yaitu Rp41.000. Sementara XL memiliki ARPU Rp34.000. Sedangkan Indosat memiliki ARPU terendah yaitu hanya Rp12.000.
Jika mereka tidak melakukan perang harga lagi, maka industri telekomunikasi diharapkan dapat menjadi lebih sehat. Untuk membuat industri telekomunikasi menjadi sehat, Andri berharap tarif data tidak jor-joran lagi.
Bahkan Andri menilai, jika harga layanan data dinaikkan 10%-20%, maka itu sudah dapat membantu memenuhi komitmen pembangunan para operator tersebut, memperbaiki kinerja keuangan emiten telekomunikasi dan menjaga kualitas layanan bagi konsumennya.
“Memang, jika terjadi perang harga dengan melakukan penurunan tarif secara jor-joran, maka emiten telekomunikasi tak akan mampu lagi mempertahankan kualitas layanannya. Apalagi untuk mengembangkan jaringan telekomunikasi,” imbuh Andri. (Abraham Sihombing)