INDUSTRY.co.id - Jakarta- Pemerintah berupaya meyakinkan pelaku pasar bahwa stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga kendati ada gejolak pasar global melalui pertemuan dengan pimpinan sejumlah institusi keuangan dan para analis.

"Hari ini kami semuanya, Gubernur BI, kemudian Ketua Dewan Komisioner OJK, dan tadi juga Ketua Dewan Komisioner LPS, dan saya sendiri mengundang 40 institusi baik direkturnya, dirutnya, CEO-nya maupun analis. Tujuannya untuk memberikan update kondisi terkini dalam perkembangan perkeonomian baik di sektor keuangan, capital market, surat berharga, untuk juga memberikan keyakinan dan update mengenai apa yang dilakukan bersama BI, OJK, pemerintah dan LPS untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani saat jumpa pers di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat (11/5/2018)

Menkeu menuturkan, dalam beberapa minggu terakhir, gejolak atau volatilitas perekonomian di dalam negeri dan global meningkat tinggi akibat langkah yang dilakukan Bank Sentral aS atau The Fed dalam menyesuaikan tingkat suku bunganya menuju normal yang baru atau "The New Normal".

Hal tersebut, lanjut Menkeu, terjadi bersamaan dengan berbagai kebijakan baik yang berhubungan dengan perdagangan yaitu ketegangan perdagangan Amerika Serikat dan China, kebijakan fiskal AS, penurunan defisit, serta kebijakan keamanan di AS berhubungan dengan Korea Utara dan perjanjian nuklir dengan Iran.

"Hal-hal tersebut memberikan dampak dinamika yang semakin meningkat, apa itu diukur dalam bentuk 'capital outflow' dari semua negara menuju ke AS, atau dalam bentuk "yield" atau "price" dari "bond" atau surat berharga, terkena kepada berbagai surat berharga di seluruh dunia, termasuk juga "stock exchange"," ujar Sri Mulyani.

Ia menambahkan, si satu sisi pemerintah melihat gejolak ekonomi global saat ini berdampak pada perekonomian domestik yang sifatnya temporer namun tetap harus diwaspadai. Perbaikan ekonomi AS menyebabkan adanya penyesuaian kebijakan moneter Negeri Paman Sam tersebut yang kemudian berdampak ke seluruh dunia, termasuk ke negara-negara berkembang yang salah satunya Indonesia.

"Indonesia dalam menghadapi kenaikan volatilitas dan dinamika yang meningkat, pada 2017 sudah memiliki fondasi yang meningkat. Momentum pertumbuhan cukup meningkat dari sisi permintaan dan suplai. Lihat dari konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, kita positif meskipun impor mengalami kenaikan yg lebih cepat dari ekspor, dan ini perlu diwaspadai," kata Sri Mulyani.