INDUSTRY.co.id - Jakarta - Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jenderal (Purn) Dr Moeldoko menyebutkan ada lima kendala yang umumnya dihadapi para petani Indonesia.

Advertisement

"Ada lima persoalan petani, yang pertama tanah semakin sempit, kedua persoalan modal, ketiga teknologi, lalu manajemen dan pascapanen," kata Moeldoko dalam Rakernas HKTI 2018 yang diselenggarakan di Gedung Krida Bhakti Jakarta, Senin (30/4/2018).

Moeldoko yang juga menjabat Kepala Staf Kepresidenan itu mengatakan selain kepemilikan lahan yang semakin sempit, lahan pertanian juga mengalami kerusakan karena penggunaan pestisida dan pupuk yang berlebihan.

Advertisement

Petani juga kesulitan mendapatkan modal untuk meningkatkan produksinya sehingga hidupnya pun bergantung pada tengkulak.

Ketum HKTI juga menyoroti permasalahan pascapanen yang dihadapi petani, yaitu produksi diserap oleh tengkulak dengan harga yang serendah-rendahnya, sehingga keuntungan petani tidak terlalu banyak.

Advertisement

Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Pertanian (Mentan) Bidang Lingkungan, Mukti Sardjono, mengatakan alih fungsi lahan pertanian yang cukup besar serta kepemilikan lahan petani yang semakin menurun juga menjadi dua dari empat kendala yang dihadapi petani.

Kepemilikan lahan petani umumnya tidak mencapai satu hektare. Guna meningkatkan produksi pangan, Kementerian Pertanian pun mengoptimalkan lahan suboptimal, seperti lahan rawa.

Advertisement

"Rencananya untuk daerah lahan rawa yang akan dioptimalkan lebih dari satu juta hektare, terutama di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah," kata Mukti.

Sejumlah kendala petani tersebut akan dibahas dalam Rakernas HKTI yang menekankan tiga materi utama, yaitu Rencana Strategis (Renstra) HKTI, Peraturan Organisasi (PO), dan Program Kerja HKTI.

Rakernas HKTI diikuti oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD), Dewan Pengurus Kabupaten dan Kota (DPK), Badan Otonom dan organisasi sayap HKTI: Pemuda Tani HKTI dan Perempuan Tani HKTI. (ant)