INDUSTRY.co.id - Jakarta — Ekspor ban dari Indonesia tahun ini menghadapi ketidakpastian akibat pengaruh dari kebijakan pemerintahan Amerika Serikat (AS) yang baru.
"Indonesia hanya mengekspor ban ke AS, sehingga kinerja produksi dan ekspor pada tahun ini akan berkaitan dengan kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump. Kami juga harus mewaspadai kemungkinan dilarang masuknya ban dari India dan Tiongkok ke AS, terkait arah perdagangan yang kemungkinan proteksionis," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI), Aziz Pan di Jakarta, Selasa (24/1/2017).
Aziz menilai, jika hal itu terjadi maka jumlah ban dari India dan Tiongkok yang masuk Indonesia dikhawatirkan bertambah dan makin membanjiri pasar domestik. Saat ini, rata-rata ban impor yang masuk Indonesia berkisar 4 juta hingga 5 juta unit setahun.
"Selain kedua negara itu, ban juga diimpor dari Eropa, Korea Selatan, dan Jepang. Adapun permintaan ban di dalam negeri rata-rata sebanyak 9 juta hingga 11 juta unit per tahun," papar dia.
Di sisi lain, produksi ban nasional untuk kendaraan roda empat sepanjang tahun lalu mencapai 72,21 juta unit atau meningkat 7,18% secara year on year dari realisasi 2015 yang sebanyak 67,37 juta unit.
Dalam catatan Imq, produksi untuk kendaraan roda dua pada tahun lalu menyentuh 61,87 juta unit atau 4,13% lebih tinggi dari 2015 sebesar 59,41 juta unit.
"Kami mengkhawatirkan bertambahnya ban impor akan membuat produk yang tidak memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) makin banyak beredar. Dari semua ban impor yang masuk Indonesia, sekitar 40% di antaranya tidak sesuai dengan SNI," ujar Aziz.
Aziz menambahkan, pihaknya menemukan indikasi adanya praktik pengalihan golongan dari SNI Wajib menjadi non SNI Wajib dengan memasukkan nomor HS dari ban SNI Wajib ke ban non SNI Wajib dalam dokumen impor.
"Dengan demikian, ban dengan ukuran di luar SNI bisa beredar dengan leluasa di pasar. Contohnya ban truk dan bus berukuran 10.00 R20 yang sama dengan ban off the road 10.00 R20," pungkasnya.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Perkasa Roeslani kepada INDUSTRY.co.id (24/1/2017) mengatakan, iklim investasi di Indonesia akan terdampak. Pasalnya, Trump yang dikenal dengan nasionalismenya yang kuat, akan memproteksi perdagangan perusahaan AS dengan membatasi ekspor ke AS, sehingga perusahaan AS lebih diuntungkan. Jika hal itu dilakukan, tentunya bakal memengaruhi daya ekspor ke Amerika.
"Kalau lihat kebijakannya yang national interest itu pasti kepentingan nasionalnya tidak diragukan. Kami harapkan, kebijakan-kebijakannya tidak kontraproduktif terhadap perkembangan perdagangan atau investasi kepada dunia luar," ungkapnya