INDUSTRY.co.id -Jakarta, Kementerian Pertanian (Kementan) mangakui bahwa luas area lahan tanaman tebu di Indonesia setiap tahun semakin tergerus.

Advertisement

"Kurangnya minat petani menanam tebu menjadi salah satu penyebab tergerusnya area lahan tebu di Indonesia," ujar Dirjen Perkebunan Kementan, Bambang kepada Industry.co.id di Jakarta (30/3/2018).

Ia menambahkan, masih banyak hal lainnya terutama sebagian besar petani kita yang belum membongkar ratunnya (teknologi pembudidayaan padi).

Advertisement

"Seharusnya saat ini sudah ratun ke 10-11, sehingga produktivitasnya kecil. Nah ini yang perlu kita bongkar untuk ditanami lagi dengan paritas yang baru," terangnya.

Menurut Bambang, saat ini luas area lahan tebu terus menurun. Tahun 2015-2016 mencapai 450 ribu hektar, terus turun menjadi 425 ribu hektar di tahun 2016-2017. Sedangkan di tahun 2017-2018 kembali turun menjadi 420 hektar.

Advertisement

Oleh karena itu, Kementan telah mengajukan usulan kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menaikan harga pokok penjualan (HPP) gula.

"Kita sudah usulkan HPP kita tingkatkan karena semakin rendah niat petani untuk menanam tebu. HPP kita usulkan dari Rp9.500 kita naikkan menjadi Rp10.000 tetapi acuan beli ke konsumen dari Rp9.700 menjadi Rp10.500," papar Bambang.

Advertisement

Lebih lanjut, ia menjelaskan, pihaknya terus mendorong agar petani terus meningkatkan optimalisasi efisiensi, serta mengusulkan meningkatkan HPP gula. "Kalau harganya meningkat, tentu mereka akan melakukan bongkar ratun dan lebih mengintensifkan," imbuhnya.

Namun untuk tahun 2018, Bambang memproyeksikan luas area lahan tebu masih akan tetap sama. Karena masih banyak alternatif komoditi lainnya yang menurut petani masih menguntungkan dibandingkan pasar gula saat ini.

"Kecuali, kalau fasilitas sarana dan pra sarana di tingkat petani bisa pemerintah bantu kemudian industri nya juga lebih maksimal, dan sinergi antara industri dan onfarm bisa maksimal pada akhirnya ada efisiensi, saya kira bisa ditingkatkan," tutur Bambang.