INDUSTRY.co.id, NTB - Hasil asesmen pemetaan pemilihan industri potensial kompetitif daerah (IPKD) Nusa Tenggara Barat menyebutkan pariwisata berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB Achris Sarwani.

Advertisement

"Panorama alam yang indah dengan modal geografis berupa 2.333 kilometer garis pantai, 280 pulau kecil dan 8 gunung menjadi faktor utama berkembangnya pariwisata di NTB," katanya di Mataram, Selasa.

Ia mengatakan berdasarkan pemetaan hasil survei dan forum diskusi grup yang telah dilakukan, diketahui bahwa komponen kekuatan (strength) yang dimiliki NTB dalam pengembangan industri pariwisata, di antaranya infrastruktur seperti air bersih, listrik dan komunikasi. Selain itu, rambu-rambu jalan sudah tersedia dengan baik.

Advertisement

NTB juga memiliki objek wisata yang khas dan cita rasa makanan yang beragam. Di sisi lain, daerah tetangga Bali itu juga memiliki peluang (opportunity) yang cukup besar untuk mengembangkan pariwisatanya. Di antaranya kebijakan bebas visa, terbukanya investasi bagi investor dan pengembangan industri yang mendukung pariwisata.

Meskipun begitu, kata Achris, NTB juga memiliki kelemahan (weakness) yang perlu dibenahi. Berdasarkan hasil pemetaan "critical constraint", diketahui bahwa fasilitas umum menjadi kekurangan utama yang harus diperbaiki.

Advertisement

"Faktor tersebut berkaitan erat dengan kelemahan kritikal berikutnya, yaitu tingkat kebersihan yang perlu untuk ditingkatkan. Tingkat keamanan destinasi wisata juga perlu untuk ditingkatkan," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan kualitas tenaga kerja sebagai faktor pendukung, juga masih menjadi kendala. Faktor terkait yang menjadi perhatian utama para pelaku usaha adalah tingkat pelayanan yang belum sesuai dengan ekspektasi.

Advertisement

Kelemahan tersebut tentunya perlu diatasi mengingat dalam mengembangkan industri pariwisata, NTB juga memiliki ancaman (threat) seperti adanya kemiripan antardaerah, persaingan harga dengan pariwisata luar negeri, dan maraknya promosi wisata negara asing.

Menurut Achris, dalam membangun identitas pariwisata tersebut, masing-masing pihak memiliki peran masing-masing.

Pemerintah berperan untuk membangun dan mempersiapkan fasilitas dasar, seperti konektivitas transportasi, infrastruktur dasar, pengaturan keamanan, serta promosi identitas pariwisata daerah melalui berbagai saluran.

Pihak swasta (bisnis perhotelan dan travel agent) berperan dalam penanaman investasi pada bisnis pendukung, melakukan penjualan paket pariwisata secara masif.

"Selain itu, turut mengembangkan kawasan-kawasan pariwisata di NTB bersama dengan pemerintah," ujar pria yang baru satu bulan menjabat sebagai Kepala Perwakilan BI NTB ini.

Dalam pengembangan sumber daya manusia, kata dia, saat ini telah terdapat beberapa institusi pendidikan formal di bidang pariwisata, di mana sebagian besar lulusan institusi tersebut bekerja di bidang perhotelan.

Pengembangan institusi pendidikan formal tersebut juga diikuti dengan pemberdayaan masyarakat, di antaranya melalui pembentukan desa wisata dan kelompok sadar wisata (pokdarwis). (Ant)