INDUSTRY.co.id - Jakarta- Sekitar sebelas hektare lahan yang berada dalam lokasi Bogor Nirwana Residence (BNR), kompleks perumahan mewah milikGrup Bakri disita oleh Pengadilan Negeri Bogor.

Penyitaan tersebut termaktub dalam putusan Pengadilan Bogor yang menyidangkan kasus gugatan Hasan Ahmad terhadap PT Graha Andrasentra Propertindo dan sembilan tergugat lain, termasuk Badan Pertanahan Kota Bogor (tergugat VIII) dan Badan Pertanahan Provinsi Jawa Barat (tergugat IX).

Putusan penyitaan tersebut berbunyi Menyatakan sah dan berharga sita jaminan (conservatoir Beslaag) yang telah diletakkan oleh juru sita PN Bogor terhadap bidang-bidang tanah seluas 108.324 meter persegi yang terletak dan merupakan bagian dari kawasan area perumahan Bogor Nirwana Residence".

Putusan dibacakan majelis hakim yang diketuai Dewi Lestari dengan anggota Efrida Yanti dan Siti Yuristiya serta panitera pengganti Edi Sofyan di Pengadilan Bogor pada 24 Oktober 2017 lalu. Salinan putusan itu keluar pada 11 Januari lalu.

Graha Andrasentra Propertindo adalah anak usaha Grup Bakri yang mengelola Bogor Nirwana Residence dimana didalamnya terdapat wisata air terkenalThe Jungle. Sebelumnya Bogor Nirwana Residence bernama Bogor River Valey, kompleks pemukiman yang dikembangkan PT Aliyah Pancahafat. Sekitar 1998 grup Bakrimengambil alih Bogor River.

Edi Sofian membenarkan putusan dan penyitaan tersebut. Kendati demikian, ia menyatakan, Graha Andrasentra tetap bisa mengelola lahan yang disita itu, hanya lahan-lahan tersebut tak bisa dipindahtangankan atau dijualbelikan.

Pelarangan peralihan hak memang ada dalam putusan tersebut. Pelarangan tersebut berbunyi, Memerintahkan turut tergugat VIII dan turut tergugat IX menghentikan sementara proses pemberian hak guna bangunan kepada tergugat dan atau penerbitan sertifikat hak guna bangunan atas nama tergugat beserta pemecahannya sepanjang menyangkut bidang-bidang tanah yang disengketakana quo terletak di area Perumahan Bogor Nirwana Residence.

Sebelumnya, pada 2016 Hasan Ahmad menggugat Graha Andrasentra dan Husin Ali Muhammad (Direktur Utama PT Aliyah) karena tak menyerahkan 12 hektare lahan yang berada dalam Bogor Nirwana. Lahan seluas itu merupakan hak 23% aset miliknya pada PT Aliyah.

Hasan merupakan salah satu yang memberi modal Aliyah membangun perumahan Bogor River. Karena penyelesaian pengembalian tanah tak kunjung mencapai kesepakatan maka Hasan pun membawa kasus ini ke pengadilan.

Hasanmenyatakan, sebelumnya ia sudah menyurati Graha Andrasentra untuk mengembalikan 12 hektare lahan miliknya. Yang dikembalikan cuma satu hektare, kata Hasan.

Menurut dia untuk kasus ini ia mendatangkan saksi ahli, guru besarhukumperdata Universitas Indonesia. Saksi ahli itumenyatakan walau perusahaan beralih tangan, aset saya tidak bisa serta merta hilang, kata Hasan. (tmp)