INDUSTRY.co.id - Jakarta - Setara Institute Hendardi mengingatkan seluruh komponen masyarakat menjaga kerukunan beragama dan hendaknya menjauhkan diri dari penggunaan segala cara yang mempolitisasi sentimen primordial, khususnya agama, untuk kepentingan jangka pendek pemilihan.
"Kerukunan antarelemen bangsa dan ikatan kebangsaan di antara mereka terlalu luhur untuk dirusak demi dipertukarkan dengan jabatan politik jangka pendek apa pun," kata Ketua Setara Institute Hendardi, di Jakarta, Senin (12/2/2018)
Sebelumnya telah terjadi dua 'tamparan' sekaligus bagi para tokoh agama dan pemerintah yang baru saja menyelenggarakan Musyawarah Besar Pemuka Agama untuk Kerukunan Bangsa, 8-10 Februari 2018, di Jakarta.
Pertama, persekusi terhadap Biksu Mulyanto Nurhalim dan pengikutnya di Desa Caringin, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang pada 7 Februari 2018, dan baru viral pada 9-10 Februari lalu.
Kedua, serangan terhadap peribadatan di Gereja St Ludwina Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Minggu (11/2) pagi, sehingga menyebabkan Romo Prier dan pengikutnya mengalami luka berat akibat sabetan senjata tajam.
Sebelumnya juga terjadi dua serangan brutal terhadap tokoh agama, yaitu ulama, tokoh NU, dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Cicalengka Bandung KH Umar Basri pada 27 Januari 2018, dan ulama sekaligus Pimpinan Pusat Persis HR Prawoto, dianiaya orang tak dikenal pada Kamis (1/2) hingga nyawanya tak dapat diselamatkan dan meninggal dunia.
"Setara Institute mengutuk seluruh kebiadaban yang sarat dengan sentimen keagamaan tersebut," kata Hendardi.
Setara mengingatkan ulang kepada pemerintah, pemuka agama, dan elite ormas-ormas keagamaan bahwa potret riil kerukunan itu terletak di tingkat akar rumput.
"Kerukunan antarumat beragama tidak cukup hanya dibangun secara simbolik-elitis dalam acara-acara pertemuan antaragama," kata Hendardi kepada awak media.
Menurut Hendardi, potret kerukunan yang riil dapat dilihat dalam relasi antarumat di level bawah, bukan di atas meja rapat dan ruang-ruang seremonial antarpemuka agama.
Setara Institute mengapresiasi inisiatif pemerintah dan para pemuka agama untuk duduk bersama membangun kesepahaman tentang etika lintas umat demi kerukunan bangsa dan umat beragama.
Namun, menurutnya, hal itu tentu tidak cukup. Pemerintah, pemuka agama dan elite organisasi keagamaan harus melakukan tindakan konkret untuk menghentikan persekusi terhadap identitas keagamaan yang berbeda, khususnya atas mereka yang minor, umat agama yang sedikit.
Menurut Hendardi, pemerintah, pemuka agama, dan elite ormas keagamaan sesuai otoritas masing-masing hendaknya mencegah dan menghentikan provokasi di ruang-ruang syiar agama yang membangkitkan perasaan tidak aman (insecured), kebencian (hatred), dan kemarahan (anger) yang dapat memicu tindakan main hukum sendiri (vigilante) dan penggunaan kekerasan (violence) seperti yang terjadi di Sleman, Tangerang, Bandung, juga Bantul dalam dua minggu terakhir.
"Aparat keamanan hendaknya mewaspadai dan mencegah pola-pola gangguan keamanan yang menyasar tokoh-tokoh agama dan menggunakan sentimen keagamaan untuk memecah belah umat beragama dan menghancurkan kerukunan di tingkat akar rumput," katanya pula.