INDUSTRY.co.id - Jakarta, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus mengatakan peranan ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih rendah dengan rata-rata 30 persen. Hal ini menunjukkan bahwa produk-produk domestik masih sulit melakukan penetrasi di pasar global.

Advertisement

"Ekspor Thailand dan Malaysia berkontribusi lebih dari 70 persen terhadap PDB, sedangkan di Vietnam mencapai 93 persen, tentu angka ini masih jauh bila dibandingkan Indonesia," ujar Heri pada saat diskusi, Alarm Stagnansi Pertumbuhan Ekonomi, di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, (7/2/2018).

Ia menambahkan, rendahnya nilai ekspor berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang tidak mencapai target. Menurutnya, ekspor seharusnya bisa memberi nilai tambah pada pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Advertisement

"Kita peringkat 5 di ASEAN di nilai ekspor. Padahal negara kita paling besar dan penduduk banyak tapi enggak bisa diolah. Di Thailand saja kalau gak ekspor gak bisa hidup ekonominya," jelasnya.

Selain itu, dikatakan Ahmad, pada 2013 pangsa ekspor Indonesia terhadap total ekspor dunia mencapai lebih dari 1 persen, namun pada 2016 menurun menjadi 0,9 persen.

Advertisement

"Sepanjang 2013 sampai 2016 pangsa ekspor Vietnam menempati posisi 21 sebagai negara pengekspor terbesar di dunia. Singapura, Thailand dan Malaysia masing-masing berada di urutan 14, 22 dan 26. Sementara Indonesia hanya berada di posisi 30 dunia atau posisi 5 di ASEAN," paparnya.

Di Indonesia, kata dia, yang yang terjadi pada ekspor justru lebih banyak dari makanan. Padahal, menurutnya nilai ekspor tersebut hanya mencapai seperempatnya saja.

Advertisement

"Ekspor meningkat ditopang oleh komoditas makanan disumbang barang barang yang nilai tambahnya tidak begitu tinggi." tandasnya.