INDUSTRY.co.id, Jakarta - Sektor e-commerce Indonesia pada 2018 diprediksi akan semakin menjanjikan. Selain e-commerce nasional yang kian bermunculan, gencarnya pemain asing masuk ke pasar Indonesia menjadi bukti betapa potensinya pasar dalam negeri.

Ketua Umum Indonesian E-commerce Association (Idea) Aulia Marinto mengakui optimisme pertumbuhan e-commerce tersebut berkaca pada stabilitas ekonomi dan politik yang cukup baik.

 “Kita sudah melewati beberapa kali tahun politik biasa saja kok, keramaian itu justru memunculkan perputaran bisnis. Dari sisi consumer business-nya sendiri, kita melihat memang ada perlambatan daya beli, tapi kita melihat pemerintah sudah tanggap dan sudah tahu sehingga sekarang sedang diperbaiki, dan itu yang membuat kita semakin percaya. Overall, saya melihat industri e-commerce akan semakin berkembang,” jelasnya.

Optimisme itu, tambahnya, juga disebabkan gaya bertransaksi e-commerce yang semakin tinggi di masyarakat. Meskipun begitu, data akurat dikatakan Aulia belum dapat diberikan karena masih dalam proses riset digital.

“Namun, secara umum industri digital itu akan berkembang dengan berbagai deriva­tifnya, apakah itu di musik, fintech, e-commerce, maupun mobile apps, yang namanya digital itu semakin muncul ke permukaan dan bukan hanya dilakukan pemain-pemain besar, melainkan juga pemain kecil dengan munculnya berbagai teknologi baru,” tambahnya.

Terkait dengan rumor akan masuknya raksasa e-commerce asal Amerika Serikat, Amazon, ke Indonesia, Aulia tetap percaya diri karena para pelaku e-commerce lokal memiliki kelebihan dengan mengetahui medan Indonesia.

Keberhasilan Amazon di India dinilai bukan jaminan untuk hasil sama di Indonesia. Geografi Indonesia yang merupakan negara kepulauan memberikan tantangan lebih untuk arus distribusi.

“Kalau mereka masuk tentu saja kompetisi semakin ketat dan mengindikasikan hal yang bagus buat e-commerce Indonesia. Akan tetapi, daripada kita fokus kepada asing, lebih baik kita fokus pada pemain lokal. Bagaimana lokal ini menjadi lebih meningkat daya saingnya dalam bentuk apa pun sehingga digital service kita betul-betul bisa mulai merambah regional tahun depan,” imbuh Aulia.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira memprediksi nilai transaksi e-commerce Indonesia pada 2018 akan menembus nilai Rp100 triliun. Ini meningkat dari tahun 2016 yang Rp75 triliun, sedang 2017 sekitar Rp85 triliun.

Nasib UMKM

Di sisi lain, Bhima mengingatkan laju konsumsi masyarakat di e-commerce belum tentu memberikan kesempatan pada UMKM untuk berkembang. Itu terjadi karena 90% dari barang yang diperjualbelikan merupakan barang impor.

“Dengan masuknya Lazada, Tokopedia yang mendapat suntikan dari Alibaba, sekarang di Lazada dan Tokopedia itu ada marketplace Tiongkok yang muncul di aplikasinya Lazada dan Tokopedia yang artinya barang impor dari Tiongkok makin masuk ke Indonesia. Lalu rencana masuknya Amazon dan E-Bay ke sektor e-commerce Indonesia yang dikhawatirkan pangsa dari e-commerce bisa sampai 98% diisi barang-barang impor,” jelas Bhima.

Sebelum hal tersebut terjadi, pemerintah diharapkan segera memperjelas roadmap e-commerce terutama soal usaha mikro, kecil, dan menengah yang masuk ke e-commerce. Salah satu regulasi penting yang harus dibuat pemerintah, menurut Bhima, ialah mengenai jumlah maksimal barang impor yang diperjualbelikan.

“Saya sarankan kepada pemerintah harus buat regulasi misalnya minimun 20% barang yang dijual di e-commerce itu barang-barang lokal atau produk UMKM,” imbuhnya.