INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menerima kunjungan delegasi bisnis Uni Emirat Arab (UEA) yang dipimpin oleh H.E Zayed Owaidah Al Qubaisy di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (6/1/2018).

Advertisement

"Dalam kunjungannya kali ini, mereka tertarik bekerja sama dengan Indonesia di bidang industri alat kesehatan (Alkes), pembangkit listrik, migas, dan yang lainnya," ujar Airlangga.

Ia menambahkan, kunjungan ini untuk membicarakan potensi kerja sama di bidang pengembangan industri pembangkit listrik,dan alat kesehatan.

Advertisement

"Selain itu juga terkait upaya pengembangan industri energi alternatif dan migas yang dapat dilakukan oleh kedua belah pihak," terangnya.

Seperti diketahui, Kementerian Perindustrian terus mendorong industri fotovoltaik yang merupakan satu sektor yang diharapkan berkontribusi dalam pengembangan sistem ketenagalistrikan nasional sebagai alternatif dari penggunaan energi fosil.

Advertisement

Fotovoltaik merupakan sektor energi dan penelitian yang berhubungan dengan aplikasi panel suryauntuk energi dengan mengubah sinar matahari menjadi listrik.

Kemenperin memfasilitas investor yang ingin investasi di bidang ini. Kita membantu mereka untuk mengarahkan, dengan harapan tentu untuk mempercepat proses.

Advertisement

"Yang kita butuhkan investor untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kalau industri modul surya kita sudah ada 10 industri yang bergerak untuk menghasilkan modul surya. Namun, untuk investor kita belum punya," ucap Menperin.

Terkait industri alat kesehatan, ia mengungkapkan, potensi pasar untuk industri alat kesehatan Indonesia dinilai besar, namun membutuhkan dukungan pihak asing. Potensi ini nampak besar terutama dengan adanya program jaminan kesehatan nasional (JKN).

Populasi industri alat kesehatan dalam negeri terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2017, terdapat sebanyak 226 produsen alat kesehatan yang beroperasi di dalam negeri.

"Sistem lelang pengadaan alat kesehatan dalam e-katalog yang diberlakukan pemerintah membuka kesempatan yang lebih besar bagi industri ketimbang distributor," imbuhnya.

Saat ini, Indonesia masih bergantung terhadap produk alat kesehatan impor. Berdasarkan data izin edar alat kesehatan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan,produk buatan dalam negeri hanya memegang sebesar 8% pangsa pasar domestik. Sementara itu, produk impor masih mendominasi pasar domestik sebesar dengan porsi sebesar 92%.