INDUSTRY.co.id, Jakarta - Sebanyak 7,8 juta balita di Indonesia terindikasi stunting (bertumbuh pendek) atau sekitar 35,6 persen, melewati batas toleransi yang telah ditetapkan organisasi badan kesehatan dunia (WHO) maksimal 20 persen atau seperlima dari jumlah keseluruhan balita.

Advertisement

Karenanya, organisasi kemasyarakatan PP Muslimat NU menyoroti pentingnya peran masyarakat untuk mendukung program pemerintah dalam mengurangi angka stunting.  Dr Mursidah Thahir dari PP Muslimat NU mengatakan pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting dari status awal 32,9 persen turun menjadi 28 persen pada tahun 2019.

“Kami sebagai ormas yang tersebar di seluruh Indonesia dan mengakar rumput siap mengawal program pemerintah dalam menurunkan angka stunting. Terjadinya gizi buruk berawal dari keluarga yang tidak bisa mencukupi kebutuhan gizi bagi anak-anaknya. Akibatnya stunting tidak bisa dihindari dalam masyarakat kita,” ujar anggota komisi Fatwa MUI ini, dalam Menyambut Hari Gizi Nasional 2018, di Kemendikbud Selasa (22/1/2018).

Advertisement

Dr. Damayanti Rusli, S, pAK, Phd anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menuturkan faktor utama tingginya masalah stunting di Indonesia adalah buruknya asupan gizi sejak janin masih dalam kandungan, baru lahir sampai anak berusia dua tahun.

“Kekurangan gizi pada dua tahun pertama kehidupan dapat menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat lagi diperbaiki. Investasi gizi pada 1000 hari pertama kehidupan merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar,” ujarnya

Advertisement

Anak yang mengalami stunting umumnya memiliki tingkat kecerdasaan dibawah normal, rentan terhadap penyakit dan menurun produktivitasnya.

Permasalahan stunting dan gizi buruk tidak hanya dialami masyarakat ekonomi lemah, namun juga masyarakat menengah ke atas. Penyebabnya adalah pemahaman masyarakat yang salah terkait kebutuhan nutrisi anak.

Advertisement

Sementara itu, Peneliti Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB, Prof. Dr. Dodik Briawan menyampaikan intervensi gizi perlu dilakukan dalam bentuk edukasi secara berkesinambungan kepada masyarakat, terutama orang tua.

“Orang tua harus paham betul kebutuhan nutrisi anak, makanan yang baik dan tidak baik, tidak terpengaruh gaya hidup yang serba instan serta iklan-iklan produk makanan anak yang kadang menjanjikan hal berlebihan,” jelas dia

Menurutnya, kesalahan dalam memberikan asupan makanan pada anak dapat berisiko bagi depan bangsa. Seperti halnya awal 2018 ini, di Kendari ditemukan balita menderita gizi buruk akibat diberi susu kental manis akibat ketidaktahuan orang tua.