INDUSTRY.co.id, Jakarta - Pengamat pertahanan Connie Rahakundini Bakrie mengatakan, TNI Angkatan Udara membutuhkan alat utama sistem senjata (alutsista) yang memadai dalam melaksanakan tugasnya sebagai alat pertahanan negara.

"TNI AU berkeinginan membangun kekuatan sistem pertahanan udara nasional (sishanudnas) yang membutuhkan ketersediaan alutsista yang memadai guna mendukung kemampuan operasi udara kita," kata Connie, Kamis (5/1/2017), menanggapi pembelian helikopter Agusta Westland (AW)-101 buatan Inggris.

Menurut dia, ada hal-hal yang bisa berpotensi menjadi resiko jika tetap memaksakan untuk menggunakan alutsista yang setelah dikaji banyak mengalami permasalahan seperti yang di alami oleh Super Puma Cougar EC275 (versi militer).

"Banyak data terbuka menjelaskan Cougar atau Superpuma bermasalah di mana-mana, karena masalah gearbox," katanya.

Connie yang juga Dewan Pembina National Air and Space Power of Indonesia menyebutkan, jika industri pertahanan Indonesia terhambat bukan karena tidak mampu secara teknologi.

"Tetapi karena kita sendiri yang membuat prosesnya terhambat akibat "like and dislikes" proses dalam penentuan siapa yang boleh masuk dan mengembangkan industri pertahanan di dalam pengadaan Alutsista," tuturnya.

Industri pertahanan Indonesia, tambah dia, bisa maju dan berkembang dengan catatan sistem pengadaannya bukan asal bapak senang.

Pembelian Helikopter AW 101 sebagai pengganti Super Puma yang akan habis masa pakainya 2018 sempat menuai protes dari kalangan karena helikopter tersebut lebih mahal ketimbang Super Puma.

Badan Keamanan Udara Eropa pun pada pertengahan 2016 telah melarang segala jenis penerbangan komersial yang menggunakan varian Super Puma ini.

Hal itu disebabkan helikopter tersebut sudah beberapa kali mengalami kecelakaan yang telah menewaskan puluhan orang sepanjang kariernya.(iaf)