Pengembangan Pembangkit Energi Panas Bumi Mutlak Diperlukan

Oleh : Hariyanto | Sabtu, 30 Desember 2017 - 13:00 WIB

Energi Panas Bumi (Foto Eksplorasi.Id)
Energi Panas Bumi (Foto Eksplorasi.Id)

INDUSTRY.co.id - Jakarta- Pengembangan pembangkit energi yang menggunakan geothermal atau panas bumi mutlak diperlukan dalam rangka mewujudkan cita-cita Republik Indonesia dalam mencapai kedaulatan energi nasional.

"Bagi Indonesia, pengembangan energi panas bumi mutlak diperlukan, jika kita ingin mencapai tujuan nasional swasembada energi dan menjadi produsen tenaga panas bumi terbesar di dunia," kata Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto dalam rilis, di Jakarta, Sabtu (30/12/2017) .

Untuk itu, ujar dia, pihaknya juga sangat menyambut baik dan mendukung investor baik dalam bidang energi yang membantu pengembangan Iptek nasional.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VII DPR Herman Khaeron menyatakan, pengembangan pembangkit panas bumi bakal menjadi alternatif utama pada masa mendatang dan selaras dengan semakin berkembangnya penggunaan sumber energi terbarukan di tataran global saat ini.

"Saya yakin bahwa (panas bumi) ini akan menjadi alternatif utama di masa yang akan datang," kata Herman Khaeron.

Menurut dia, hal utama yang penting pada saat ini adalah bagaimana memberikan energi panas bumi payung hukum yang tepat dan menyeluruh.

Selain Undang-Undang Panas Bumi sudah ada, lanjutnya, tentu juga harus ada yang menaungi seutuhnya menuju penerapan energi baru terbarukan.

Ia memaparkan, Indonesia sebagai negara kepulauan yang disebut "Ring of Fire" tentu memiliki potensi besar energi panas bumi yang dapat dipergunakan sebagai sumber energi listrik.

Ia juga mengemukakan, geothermal atau panas bumi memiliki potensi hingga sebesar 29.000 megawatt (MW) di seluruh pelosok nusantara tetapi yang terpasang baru sekitar 1.600 MW.

Sebelumnya, seperti dilansir Antara, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengkaji penerapan teknologi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) skala kecil untuk kawasan terpencil di Indonesia.

"Sebenarnya potensi panas bumi ada di banyak tempat di Indonesia. Seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat setempat, khususnya untuk wilayah perbatasan dan terpencil," kata Kepala BPPT, Unggul Priyanto saat melakukan kunjungan kerja ke area Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Lahendong, atau Lahendong Binary Plant, Tomohon, Sulawesi Utara.

Energi panas bumi, kata Kepala BPPT Unggul, menjadi pilihan untuk menggantikan energi diesel yang masih digunakan pada kawasan kepulauan seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, serta di Maluku yang selama ini pun masih kurang memadai.

Menurut dia, pembangkit listrik tenaga panas bumi sebenarnya bisa lebih ekonomis jika semua komponen diproduksi oleh perusahaan domestik.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Jojowi tinjau Tol Aceh

Minggu, 23 Februari 2020 - 01:01 WIB

Tinjau Simpang Susun Blang Bintang, Presiden: Alhamdulillah, Pembebasan Lahan Lancar

Tol dari Banda Aceh menuju Sigli ini 74 kilometer dan alhamdulillah pembebasan tanahnya berjalan dengan baik. Biasanya proses konstruksinya yang terhenti di pembebasannya, tapi di sini pembebasannya…

Jokowi resmikan pabrik rayon dan benang terbesar di Indonesia

Sabtu, 22 Februari 2020 - 23:05 WIB

Jokowi Resmikan Pabrik Rayon dan Benang Senilai Rp15.5 triliun di Riau

Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya ke Provinsi Riau pada Jumat, 21 Februari 2020, meresmikan fasilitas produksi rayon dan benang terintegrasi PT Asia Pacific Rayon.

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO)

Sabtu, 22 Februari 2020 - 22:20 WIB

Apindo Minta Omnibus Law RUUCipta Kerja Hapus kewenangan KPPU sebagai hakim

Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono meminta Omnibus Law RUUCipta Kerja menghapuskan kewenangan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai hakim,…

Pekerja PT Timah - foto - IST

Sabtu, 22 Februari 2020 - 21:57 WIB

DPR Sayangkan Industri Timah Nasional Terbesar di Dunia Tapi Alami Kerugian

Kementerian Perindustrian didesak lebih memperhatikan sektor industri yang akan dimajukan, seperti membuat industri turunan timah. Timah kita itu adalah industri terbesar di dunia setelah China.…

 Pakar Ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri, yang juga mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas. (KOMPAS /Roderick Adrian) )

Sabtu, 22 Februari 2020 - 21:39 WIB

Ekonom Senior ini Sebut Harga Gas Industri Tidak Mahal

Harga gas di Indonesia tidak mahal. Siapa itu yang bilang, masalah utama saya kira bukan di gas," kata Faisal Basri di Jakarta