INDUSTRY.co.id - Jakarta-Terus bertumbuhnya penjualan sepeda motor baik roda dua maupun roda empat, serta makin terbatasnya lahan untuk parkir di kota-kota besar, menjadikan usaha layanan perparkiran menjadi bisnis yang menawarkan keuntungan yang menarik.
Maka tak heran jika para pengelola jasa perparkiran asing pun masuk demi meraup untung dari bisnis lapak perparkiran di Indonesia.
Belakangan muncul nama CentrePark yang juga ikut memperebutkan pasar bisnis perparkiran di Indonesia. CentrePark menjelma menjadi perusahaan berskala nasional di bidang jasa parkir dan industri manajemen, setelah berdiri dan mulai beroperasi pada tahun 2009.
Janti Rusli selaku Business Development Director PT Centre Park Citra Coorpora mengatakan, dari sekitar 65-70 perusahaan yang menjalani bisnis serupa, pasar industri perparkiran nasional praktis dikuasai oleh lima pemain besar, termasuk CentrePark.
"Omzet jasa perparkiran satu gedung perbulannya bisa mencapai Rp4-5 miliar per bulan. Memang receh, namun omzetnya bisa triliunan rupiah dalam satu kawasan di kota besar seperti Jakarta," ujar Janti Rusli saat ditemui INDUSTRY.co.id di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) pernah mengemukakan bahwa potensi pendapatan dari bisnis perparkiran di Jakarta bisa mencapai Rp1,8 triliun per tahun. "Sebuah angka yang cukup signifikan yang bisa disumbangkan bagi pendapatan asli daerah (PAD)," terangnya.
Menurut Janti, saat ini perusahaan punya kiat untuk mencapai misi menjadi penyedia layanan jasa parkir terbesar salah satunya melalui kreatifitas dan inovasi. "Di lingkup bisnis yang dinamis ini, perusahaan tak boleh puas hanya dengan menjadi yang nomor satu atau dua, namun juga harus mampu menciptakan ide-ide baru yang kreatif," kata Janti.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan, saat ini perusahaan akan meluncurkan teknologi terbaru, sehingga sistem perparkiran kita kurang lebih akan sama dengan seperti yang diterapkan di luar negeri. "Selain itu, perusahaan juga akan menggandeng beberapa industri maupun perusahaan yang bisa membawa CentrePark menjadi pemain nomor satu," ucap Janti.
Ia mengungkapkan, salah satu hal yang dibutuhkan perusahaan untuk memperkuat struktur bisnis adalah basis teknologi yang terus ditingkatkan. Peningkatan penggunaan teknologi tentunya akan meninggalkan faktor sumber daya manusia (SDM) yang cakap.
"SDM menjadi salah satu yang punya peranan besar. Oleh karena itu, pelatihan sangat kami tekankan mulai dari perekrutan sampai pembinaan," imbuhnya.
Terkait kendala yang dihadapi para pelaku bisnis perparkiran, Janti menjelaskan, sejauh ini manajemen CentrePark menganggap belum ada persoalan berarti yang dihadapi. Soal perpajakan pun, CentrePark merupakan perusahaan yang taat pajak.
Namun, lanjutnya, sedikit yang masih menjadi ganjalan adalah perbedaan besaran penerimaan pajak daerah (PPD) yang diterapkan tiap daerah. Sejumlah daerah menetapkan PPD yang lebih besar ketimbang Jakarta.
"Jakarta merupakan daerah dengan tingkat PPD terendah di angka 20%, sementara sejumlah daerah menetapkan angka hingga 30%. Sedangkan perusahaan hanya menerapkan tarif parkir mulai dari Rp2.000 - 3.000 ," tuturnya.
Terlepas dari permasalahan tersebut, CentrePark tetap mencanangkan untuk menjadi perusahaan layanan jasa perperkiran nomor satu. "Untuk menuju kesana, kita tidak berhenti untuk terus berinovasi dari sisi teknologi maupun SDM," tutup Janti.