INDUSTRY co.idJakarta, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto terus mendorong agar pasar modal terus bersosialisasi kepada kalangan industri.

Hal ini disampaikan Menperin saat menjadi nara sumber dalam acara 'CEO Focus 2017' yang diadakan oleh Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (6/11/2017).

Menurutnya industri manufaktur sangat berpotensi besar dimana sektor kimia dan elektronik yang pertumbuhannya tinggi bisa disasar oleh pasar modal.

" Hal ini karena  potensi pertumbuhan ekonomi ke depan ada disana. Saya melihat potensi tersebut masih bisa didorong untuk menjadi penghela baru dalam pasar modal," ujar Menteri Airlangga.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri yang tumbuh tinggi pada triwulan I-2017, yaitu industri kimia farmasi dan obat tradisional sebesar 8,34 persen serta industri makanan dan minuman mencapai 8,15 persen. Sedangkan, pertumbuhan ekonomi sekitar 5,01 persen.

Sebelumnya Menteri yang juga menjabat sebagai pembina AEI ini mengatakan, pemerintah akan menyiapkan insentif bagi para emiten industri yang bersedia melakukan peningkatan kapasitas di dalam negeri. Apalagi, bagi industri manufaktur yang sudah jadi perusahaan publik atau berstatus terbuka dinilai telah unggul di sektornya.

" Terkait pembiayaan ekspansi, sebagai perusahaan yang telah melantai di bursa, seharusnya tidak sulit untuk mendapatkan dana perluasan usaha," ungkapnya.

Selain memberikan insentif yang diinginkan pelaku industri, Airlangga mengatakan, pemerintah juga tengah mendorong pendalaman struktur pada sektor industri prioritas.

" Misalnya memacu hilirisasi sektor industri agro dan logam untuk mensubstitusi kebutuhan yang selama ini masih diimpor," imbuhnya.

Kemudian langkah strategis yang dilakukan Kementerian Perindustrian dalam pembangunan industri nasional, antara lain peningkatan kompetensi SDM melalui pendidikan vokasi industri, pengembangan industri padat karya berorientasi ekspor, pengembangan IKM dengan platform digital, pengembangan industri berbasis sumber daya alam, dan pengembangan perwilayahan industri.

Menurutnya, Indonesia saat ini masih harus menghadapi beberapa tantangan, di antaranya terkait dengan cost of fund, kebutuhan energi yang masih tinggi, dan biaya logistik yang besar. 
" Saat ini, pemerintah tengah gencar melakukan pembangunan infrastruktur, diharapkan bisa menggerakkan perekonomian nasional," pungkas Airlangga.