INDUSTRY.co.id - Jakarta- Perseroan Terbatas Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk membukukan pendapatan senilai 310.5 juta dolar AS pada kuartal ketiga 2017 sehingga melampaui target pendapatan kuartal ketiga 2017 senilai 304.4 juta dolar AS atau sebesar 102 persen dari proyeksi awal.

Advertisement

Direktur Utama GMF Iwan Joeniarto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin, (23/10/2017)  mengatakan pencapaian pendapatan ini pun mengalami pertumbuhan sebesar 15 persen dibandingkan dengan kuartal ketiga 2016 lalu.

Selain itu, pencapaian lainnya adalah laba bersih GMF yang juga sesuai target 2017 sebesar 38.1 juta dolar AS, meningkat 8,9 persen dari kuartal ketiga 2016 sebesar 35 Juta USD.

Advertisement

Persentase pendapatan kuartal ketiga adalah sebesar 73.2 persen dari target keseluruhan pada akhir tahun 2017 sebesar 424 Juta USD.

"Pencapaian yang baik ini datang dari peningkatan volume pekerjaan perawatan mesin dan perawatan komponen yang juga menjadi fokus pengembangan bisnis GMF di 2017," kata Iwan.

Advertisement

Selain itu, dia menambahkam upaya peningkatan kapabilitas perawatan juga berkontribusi atas tercapainya taget kuartal ketiga 2017 ini.

"Kontribusi pendapatan yang positif ini dihasilkan dari pertumbuhan pendapatan oleh lini bisnis perawatan komponen sebesar 25 persen, perawatan 'airframe' 18 persen dan perawatan mesin sebesar 15 persen," katanya.

Advertisement

Dia menyampaikan apresiasinya atas kinerja positif GMF.

Ditambah, setelah 15 tahun memisahkan diri dari induk usahanya Garuda Indonesia, GMF terhitung mencatatkan keuntungan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun.

Apalagi GMF baru saja melantai di Bursa Efek Indonesia, 10 Oktober 2017 lalu.

"Dengan pencapaian kinerja yang positif serta didukung oleh operational excellence', kami yakin GMF memiliki fundamental yang cukup kuat untuk berkancah di pasar modal. Menjadi perusahaan terbuka merupakan langkah awal kami untuk berkembang lebih pesat lagi," kata Iwan.

Dia menilai GMF terus meningkatkan pendapatan dari pelanggan-pelanggan, sehingga rasio pendapatan dari non-Garuda Indonesia Group lebih besar dalam kurun waktu tiga tahun mendatang.

IPO Terkait dengan IPO, perolehan dana yang berhasil dikumpulkan dari aksi korporasi ini adalah senilai 83,5 juta dolar AS atau senilai Rp1,129 Triliun.

Sebesar 60 persen dana IPO ini akan digunakan untuk kebutuhan ekspansi GMF, 25 persen untuk modal kerja dan sisanya untuk refinancing.

Pada 2017 alokasi penggunaan dana IPO untuk pembiayaan modal kerja dan refinancing, serta sebagian untuk belanja modal.

Iwan mengatakan di 2018 dana IPO akan dikonsentrasikan untuk belanja modal dalam rangka pengembangan kapabilitas, kapasitas dan inisiatif inorganik perseroan.

Komposisi investor datang dari investor institusi maupun perorangan baik lokal maupun asing.

Dengan kondisi ini kepemilikan saham GMF oleh induk usaha yang semula sebesar 99 persen berubah menjadi 89,1 persen, sedangkan Aerowisata yang memiliki satu persen saham GMF menjadi 0,9 persen dan sisanya dimiliki publik.