INDUSTRY.co.id - Jakarta-Analis menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Kamis (14/9/2017) masih terlihat betah berada dalam rentang konsolidasi. Diperkirakan IHSG dalam rentang 5802 – 5911.
“Konsolidasi IHSG sembari menanti capital inflow signifikan yang belum kunjung hadir hingga saat ini, potensi pergerakan masih cukup kuat bertahan dengan support teruji kuat, dan potensi meraih resistance level yang cukup besar dapat digapai dalam beberapa waktu mendatang, fluktuasi harga komoditas masih akan memberikan pengaruh terhadap pola gerak IHSG demikian juga dengan apresiasi terhadap rupiah, hari ini IHSG berpotensi menguat,”ujar William Surya Wijaya, Vice president Research Department PT Indosurya Mandiri Sekuritas di Jakarta, Kamis (14/9/2017).
Indeks harga saham gabungan ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (13/9/2017) tertekan sektor tambang.
IHSG ditutup melemah 0,45% atau 26,64 poin di level 5.845,73 setelah juga dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,2% atau 11,89 poin di posisi 5.860,49.
Padahal IHSG (-0.40%) dibuka cukup optimis namun terjadi tekanan jual sesi kedua hingga ditutup turun 23.40 poin dilevel 5848.97 dengan volume perdagangan yang cukup tinggi. Posisi investor asing tercatat net sell 498.75 Miliar rupiah. Indeks sektor pertambangan (-4.40%) terhempas signifikan pada penurunan terendah selama satu hari dalam setahun ini.
Rencana pembuatan aturan khusus pada harga batu bara dalam negeri (DMO) oleh pemerintah karena usulan PLN mengenai pembangkit listrik membutuhkan bahan bakar yang harganya efesien. Berpotensi menurunkan harga batu bara dalam negeri. Saham PTBA (-17.25%), BUMI (-9.17%) dan ADRO (-8.04%) memimpin pelemahan sektor pertambangan.
Ia menyodorkan beberapa saham pilihan yang dapat diakumulasi pemodal yaitu: PGAS, WIKA, AALI, ASII, LSIP, BBNI, MYOR, SMCB dan PTPP