INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Kompetisi kuliner La Cuisine yang menjadi bagian dari rangkaian Krista Interfood 2026 berlangsung mulai 4-7 November 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2 Tangerang Banten.

La Cuisine Competition 2026 merupakan lomba kuliner paling spektakuler dengan melibatkan sekitar 1.100 peserta dari 16 negara. Kompetisi ini menghadirkan beragam kategori lomba, mulai dari jajanan pasar tradisional, olahan ayam dan daging sapi, masakan Asia, hingga pastry.

Selain menjadi ajang unjuk keterampilan, La Cuisine juga diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi baru chef profesional yang memiliki kemampuan, kepercayaan diri, serta daya saing di industri kuliner.

Antusiasme Tinggi dari Anak Muda

Ditemui di arena lomba, Kamis (5/11), La Cuisine Competition 2026 Judge, Mili Hendratno, mengatakan jumlah peserta yang cukup besar menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat, khususnya kalangan anak muda, untuk mengembangkan kemampuan di bidang kuliner.

"Pesertanya lumayan banyak dan banyak juga kelasnya, dari tingkat anak muda sampai yang lebih profesional. Kategorinya juga banyak," ujar Mili di sela kompetisi.

Menurutnya, kompetisi ini tidak sekadar menjadi ajang untuk memperebutkan gelar juara, tetapi juga sarana pembelajaran bagi peserta dalam memperkuat kemampuan dasar memasak sekaligus mengembangkan kreativitas.

"Kita berharap acara ini bisa memotivasi para anak muda untuk terus berkarya dan terus semangat. Ini juga melengkapi basic mereka, memperkuat mereka, dan ke depannya semoga ada regenerasi yang lebih bagus lagi," katanya.

Sejumlah kategori yang dipertandingkan antara lain jajanan pasar, cooking chicken, Asian main course, beef Asian main course, ayam bakar, sate-satean, serta pastry.

Dinilai Juri Nasional dan Internasional

Dalam pelaksanaannya, kompetisi La Cuisine 2026 melibatkan juri dari Indonesia maupun sejumlah negara lain, di antaranya Thailand, Singapura, Malaysia, dan Australia.

Mili menjelaskan, setiap kelas kompetisi umumnya dinilai oleh empat hingga lima juri yang dipimpin seorang juri senior. Sistem tersebut diterapkan untuk memastikan proses penilaian berlangsung secara objektif dan menyeluruh.

Adapun kriteria penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir makanan, tetapi juga mencakup proses dan teknik pengolahan.

"Kriteria penjurian dinilai dari, pertama, adalah persiapan. Kedua, sekuens dari produknya itu sendiri, cara handling-nya, dan waktunya juga," jelasnya.

Aspek lain yang turut diperhitungkan meliputi kebersihan dan sanitasi, pengelolaan limbah atau waste, teknik memasak, hingga presentasi hidangan.

"Yang terbaik dinilai dari jumlah point, rasa dengan 10 point dan presentasi juga," ujar Mili.

Melatih Mental dan Kepercayaan Diri

Mili menyoroti pentingnya keterlibatan anak muda dalam kompetisi kuliner sebagai bagian dari proses regenerasi tenaga profesional di industri makanan dan minuman.

"Ini bukan menang atau kalah. Saya selalu mengarahkan untuk anak-anak ini, kalian harus apresiasi sama diri kalian sendiri. Bahwa kalian bisa percaya diri buat datang ke sini, dan kalian bisa menyelesaikan waktunya, menurut saya sudah prestasi," tuturnya.

Menurutnya, suasana kompetisi yang penuh tekanan dapat menjadi bekal berharga ketika peserta memasuki dunia kerja.

"Pertandingan itu kan pressure juga. Itu mereka bisa bawa juga pas di dunia pekerjaan. Ketika pressure itu ada, mereka akan bekerja dengan detail," paparnya.

Pengalaman dan Jejaring bagi Peserta

Selain keterampilan teknis, kompetisi La Cuisine 2026 juga memberikan manfaat lain berupa pengalaman bertanding, peningkatan kepercayaan diri, hingga kesempatan membangun jejaring.

"Yang pasti sekarang benefit satu, ini adalah satu experience buat mereka. Benefitnya apa? Satu experience, confidence-nya juga," ujar Mili.

Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh Syauqillah, mahasiswi semester III Politeknik Sahid Pondok Cabe, yang untuk pertama kalinya mengikuti kompetisi La Cuisine pada kategori jajanan pasar.

"Saya ikut kelas jajanan pasar. Saya bikin pisang ijo tartlet, cantik manis terakota, putu mayang, talam ubi dan klepon. Harus inovasi, misal pisang ijonya dibuat jadi tartlet," ungkap Syauqillah.

"Jadi sebuah pengalaman bagi saya yang baru perdana ikut lomba, tetapi sudah internasional di acara ini. Jadi bisa jadi portofolio buat saya," katanya.

Apresiasi Penyelenggaraan

Mili turut mengapresiasi Krista Exhibitions sebagai penyelenggara yang telah menghadirkan kompetisi kuliner berskala besar dengan fasilitas venue yang mendukung.

"Jujurnya saya really appreciate sama Krista untuk ngadain event sebesar ini. Dan tidak mudah juga bikin event sebesar ini," ujarnya.

Ia menilai fasilitas NICE PIK 2 mampu mendukung penyelenggaraan pameran dan kompetisi berskala internasional.

"Menurut saya juga nggak kalah sama exhibition yang ada di Singapura. Kita masih bisa bersaing," katanya.

Dengan jumlah peserta lebih dari 1.000 orang serta keterlibatan juri nasional dan internasional, La Cuisine Competition diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembelajaran dan pengembangan talenta kuliner Indonesia.