INDUSTRY.co.id, Jakarta-Pasar suku cadang karoseri otomotif di Indonesia menyimpan potensi bisnis yang besar. Namun, peluang tersebut belum sepenuhnya dapat dinikmati industri manufaktur dalam negeri. Tingginya ketergantungan terhadap komponen impor masih menjadi tantangan bagi produsen lokal untuk memperbesar pangsa pasar di negeri sendiri.

Kebutuhan suku cadang karoseri, mulai dari bumper, fender, kap mesin, pintu kendaraan, panel bodi hingga komponen pendukung lainnya, terus terbuka seiring besarnya populasi kendaraan bermotor di Indonesia. Pasar penggantian suku cadang atau aftermarket menjadi salah satu sumber permintaan yang relatif berkelanjutan.

Namun, tingginya kebutuhan tersebut belum otomatis mendorong pertumbuhan produsen lokal. Sejumlah produk masih mengandalkan pasokan impor, terutama untuk komponen yang membutuhkan presisi manufaktur, teknologi produksi, serta standar kualitas tertentu.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, nilai impor otomotif Indonesia pada Januari-September 2025 mencapai US$ 8,26 miliar. Khusus impor komponen otomotif dengan kode HS 8708, nilainya meningkat dari US$ 2,29 miliar pada 2024 menjadi US$ 2,42 miliar pada 2025.

Ketua Umum Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), Hamdani Dzulkarnaen Salim, sebelumnya mengungkapkan bahwa pasar aftermarket memiliki potensi besar karena kebutuhan suku cadang pengganti bergantung pada jumlah kendaraan yang beroperasi.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan bagi produsen komponen yang masih mengandalkan bahan baku impor. Kondisi tersebut berpotensi menekan struktur biaya produksi dan margin keuntungan perusahaan.

Persaingan produk impor juga menjadi perhatian pelaku industri. Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki, dalam pemberitaan Bisnis.com pada April 2025, mengkhawatirkan masuknya produk aftermarket murah dari China yang dapat melemahkan daya saing produsen lokal.

Persaingan harga tersebut menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi produsen domestik. Sebab, produk impor tidak hanya menawarkan variasi barang, tetapi juga dapat memiliki keunggulan dari sisi skala produksi dan efisiensi biaya.

Managing Strategist PT Mitra Abadi Autoparts, Yudi Aditya Putra, dalam pemberitaan Bisnis.com pada Agustus 2025, menyebut konsistensi kualitas produk aftermarket dan pemberian garansi sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk bertahan di tengah tekanan pasar.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persaingan industri suku cadang tidak semata-mata ditentukan harga. Kualitas, ketahanan produk, ketersediaan barang, dan layanan purnajual juga menjadi faktor penting dalam mempertahankan konsumen.

Tantangan regulasi dan substitusi impor

Dari sisi kebijakan, pemerintah sebenarnya telah memiliki sejumlah instrumen untuk mengatur perdagangan sekaligus mendorong penguatan industri dalam negeri.

Permendag Nomor 16 Tahun 2025 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor menjadi salah satu payung regulasi tata niaga impor. Aturan tersebut kemudian diubah melalui Permendag Nomor 37 Tahun 2025.

Selain itu, Permendag Nomor 22 Tahun 2025 mengatur impor sejumlah barang industri tertentu, termasuk kelompok besi atau baja, ban, kaca, dan plastik hilir. Namun, ketentuan pembatasan setiap produk tetap perlu dilihat berdasarkan klasifikasi barang dan kode HS masing-masing.

Sementara itu, dari sisi penguatan industri domestik, Permenperin Nomor 35 Tahun 2025 tentang Ketentuan dan Tata Cara Sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan Bobot Manfaat Perusahaan menjadi instrumen untuk mendorong penggunaan komponen produksi dalam negeri.

Kementerian Perindustrian juga mendorong keterlibatan industri kecil dan menengah dalam rantai pasok otomotif melalui program kemitraan dan link and match dengan industri besar.

Persoalannya, substitusi impor tidak bisa dilakukan hanya dengan kebijakan pembatasan perdagangan. Industri lokal harus memiliki kemampuan untuk memproduksi komponen dengan kualitas, kapasitas, dan harga yang kompetitif.

Peluang bisnis masih terbuka

Di tengah berbagai tantangan tersebut, pasar aftermarket tetap menawarkan prospek menarik. Populasi kendaraan yang terus beroperasi menciptakan kebutuhan penggantian komponen, baik akibat kerusakan, kecelakaan, maupun usia pakai kendaraan.

Peluang ini semestinya dapat dimanfaatkan produsen lokal untuk memperluas kapasitas produksi dan mengembangkan variasi produk. Apalagi, segmen kendaraan niaga juga membutuhkan dukungan komponen karoseri untuk menjaga kelangsungan operasional armada.

Namun, pengembangan industri tidak cukup hanya mengandalkan besarnya permintaan domestik. Produsen harus berinvestasi dalam teknologi manufaktur, meningkatkan standar kualitas, memperkuat jaringan distribusi, serta membangun kemitraan dengan distributor dan bengkel.

Bagi importir dan distributor, tantangannya adalah menjaga kesinambungan pasokan di tengah fluktuasi kurs dan dinamika perdagangan internasional. Diversifikasi negara pemasok juga menjadi salah satu strategi untuk mengurangi risiko ketergantungan terhadap satu sumber impor.

Pada akhirnya, besarnya pasar suku cadang karoseri Indonesia seharusnya menjadi peluang untuk memperkuat industri komponen nasional. Jika tidak dibarengi peningkatan daya saing manufaktur domestik, pertumbuhan permintaan justru berpotensi lebih banyak dinikmati pemasok dari luar negeri.

Pekerjaan rumah pemerintah dan pelaku industri bukan sekadar mengendalikan impor, melainkan membangun kemampuan produksi lokal agar mampu bersaing secara kualitas, harga, dan ketersediaan produk.