INDUSTRY.co.id - JAKARTA - Harga batu bara yang sedang membaik membuat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka peluang untuk menaikkan kuota produksi nasional.

Bahlil mengatakan, saat ini harga batu bara kalori tinggi sudah menyentuh 154 dollar AS per ton, sehingga idealnya produksi juga ditingkatkan.

"Batu bara kan sekarang sudah bagus nih, idealnya kan harganya bagus, produksinya banyak," ujar Bahlil usai pembukaan Mineral and Batubara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Bahlil yang juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi menegaskan, penentuan kuota produksi dan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) akan tetap mempertimbangkan keseimbangan supply and demand.

Ia mencontohkan, pada 2025 kontribusi Indonesia mencapai 540 juta ton dari total 1,3 miliar ton batu bara yang diperjualbelikan di dunia. Akibat jor-joran buka lahan, harga jatuh ke level terendah.

"Profit perusahaannya tidak terlalu banyak, pendapatan negara tidak terlalu maksimal, akhirnya barang kita dijual murah," katanya.

Untuk merespons itu, pemerintah menaikkan harga batu bara acuan (HBA) dan memangkas produksi. Hasilnya, pendapatan negara justru melonjak meski produksi turun.

Data Direktorat Jenderal Minerba mencatat produksi 2025 mencapai 817,48 juta ton. Hingga Juli 2026, produksi tercatat 423,71 juta ton atau rata-rata 60,5 juta ton per bulan, turun dari rata-rata 68,1 juta ton pada 2025.

Namun, PNBP batu bara hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp 66 triliun, naik dari Rp 59 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Tercatat, produksi batu bara hingga kini telah mencapai 566,74 juta ton atau 77 persen dari target.