INDUSTRY.co.id - Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke China pada Mei 2026, yang kemudian dibalas dengan kunjungan Presiden Xi Jinping ke Amerika Serikat pada September 2026, menandai babak baru hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Setelah bertahun-tahun diwarnai perang tarif, pembatasan teknologi, dan ketegangan perdagangan, kedua negara mulai menunjukkan kesediaan untuk mengelola persaingan melalui dialog dan negosiasi.

Hasilnya memang belum berupa perdamaian dagang secara menyeluruh. Berbagai tarif dan pembatasan teknologi masih berlaku. Namun, diperpanjangnya gencatan perdagangan hingga Januari 2027 memberikan ruang bagi dunia usaha untuk kembali merencanakan investasi dengan tingkat kepastian yang lebih baik.

Menurut saya, perubahan ini membawa pesan penting: Amerika dan China mungkin akan terus bersaing, tetapi keduanya juga menyadari bahwa mereka saling membutuhkan.

Amerika memiliki kekuatan dalam teknologi, keuangan, riset, dan pasar konsumen. China memiliki kemampuan manufaktur yang luar biasa, jaringan pemasok yang luas, dan infrastruktur produksi yang sangat efisien. Sulit bagi keduanya untuk sepenuhnya memisahkan hubungan ekonomi tanpa menanggung biaya yang besar.

Karena itu, yang mungkin kita saksikan bukanlah berakhirnya persaingan, melainkan perubahan bentuk persaingan menuju hubungan yang lebih terkelola.

Bagi Indonesia, inilah kesempatan yang perlu dimanfaatkan.

Indonesia Tidak Perlu Memilih Amerika atau China

Selama beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan internasional mengembangkan strategi China Plus One, yaitu menambah lokasi produksi di luar China untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara. Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan India menjadi bagian dari pertimbangan tersebut.

Namun, jika hubungan Amerika dan China membaik, apakah peluang investasi di Indonesia akan berkurang? Saya berpendapat tidak harus demikian.

Peluang Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada perang dagang.

Dengan penduduk lebih dari 280 juta jiwa, sumber daya alam yang besar, serta posisi strategis di ASEAN, Indonesia memiliki alasan ekonomi yang kuat untuk menjadi pusat produksi dan investasi internasional.

Perusahaan China membutuhkan pasar baru, lokasi produksi internasional, dan kesempatan memperluas usahanya. Perusahaan Amerika juga membutuhkan mitra produksi, sumber daya, dan pasar yang berkembang.

Indonesia dapat menjadi tempat keduanya membangun kegiatan usaha yang saling melengkapi.

Kita tidak perlu menjadi pihak Amerika atau pihak China. Kita perlu menjadi mitra yang dipercaya oleh keduanya. Tetapi untuk itu, Indonesia harus menawarkan lebih dari sekadar tanah murah dan tenaga kerja berbiaya rendah.

Dari Kawasan Industri Menuju Ekosistem Industri

Selama lebih dari tiga puluh tahun mengembangkan Jababeka, saya mempelajari satu hal penting: Investor asing tidak cukup hanya membutuhkan sebidang tanah untuk mendirikan pabrik.

Mereka membutuhkan kepastian hukum, energi, air bersih, pengolahan limbah, transportasi, logistik, tenaga kerja terampil, tempat tinggal, pendidikan, layanan kesehatan, dan lingkungan usaha yang aman.

Karena itu, pengembangan kawasan industri seharusnya tidak berhenti pada pembangunan pabrik. Kita harus membangun kota industri yang memungkinkan perusahaan, pekerja, keluarga, perguruan tinggi, lembaga riset, dan penyedia jasa tumbuh bersama.

Jababeka di Cikarang, yang berkembang di kawasan sekitar 5.600 hektare dengan lebih dari 2.000 perusahaan industri, merupakan salah satu contoh pendekatan tersebut.

Dalam pandangan saya, Indonesia memerlukan lebih banyak kota industri terintegrasi semacam ini, tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga di berbagai provinsi.

Apabila hubungan Amerika dan China terus membaik, Indonesia justru dapat menawarkan diri sebagai basis kerja sama industri internasional. Perusahaan China dapat membawa keahlian produksi, pemasok, dan teknologi manufaktur. Perusahaan Amerika dapat membawa inovasi, akses pasar, teknologi, dan jejaring investasi. Pengusaha Indonesia harus menjadi mitra aktif, bukan sekadar penyedia tanah dan tenaga kerja.

Jangan Hanya Memindahkan Barang, Tetapi Bangun Industri yang Sesungguhnya

Ada satu hal yang harus diwaspadai. Perang dagang menciptakan keinginan sebagian perusahaan untuk memindahkan jalur ekspor tanpa benar-benar memindahkan kegiatan industrinya. Barang dikirim melalui negara ketiga untuk memperoleh keuntungan tarif tertentu.

Namun, Indonesia tidak boleh menjadi tempat sekadar mengganti label asal barang. Kegiatan semacam itu berisiko menimbulkan persoalan aturan asal barang (rules of origin), penyelidikan perdagangan, dan hilangnya kepercayaan mitra internasional.

Kita harus mendorong investasi yang nyata. Pabrik harus benar-benar berproduksi di Indonesia, menciptakan pekerjaan, membayar kewajiban sesuai peraturan, menggunakan jasa dan pemasok lokal, serta memberikan kesempatan transfer teknologi.

Investasi yang sehat bukan hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga memperkuat struktur perekonomian Indonesia. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia tetap akan menarik bagi investor, apakah hubungan Amerika dan China sedang membaik ataupun kembali mengalami ketegangan.

Pendidikan dan Kesehatan sebagai Fondasi Industrialisasi

Salah satu kelemahan utama industrialisasi di negara berkembang adalah kurangnya tenaga kerja yang siap menghadapi perkembangan teknologi. Membangun pabrik dapat dilakukan relatif cepat apabila modal tersedia. Tetapi membangun sumber daya manusia membutuhkan waktu panjang.

Itulah sebabnya sekitar seperempat abad yang lalu saya ikut mendirikan Yayasan Pendidikan Universitas Presiden bersama sejumlah tokoh pendidikan dan pemerintahan, termasuk Prof. Juwono Sudarsono, dengan dukungan dan restu Presiden Abdurrahman Wahid.

Melalui President University, kami ingin mempersiapkan generasi muda Indonesia untuk bekerja dan berusaha dalam lingkungan industri internasional. Mahasiswa tidak cukup hanya belajar di ruang kuliah. Mereka perlu mengenal dunia usaha melalui magang, pelatihan praktis, penguasaan bahasa asing, pemahaman budaya, dan interaksi dengan perusahaan dari berbagai negara.

Ke depan, kemampuan berbahasa Inggris dan Mandarin, penguasaan kecerdasan buatan, otomasi, serta keterampilan manajemen internasional akan semakin penting.

Namun, pendidikan saja belum cukup. Kawasan industri yang dihuni banyak pekerja dan keluarga juga membutuhkan layanan kesehatan yang berkualitas. Pengembangan Fakultas Kedokteran President University dan President University Research and Teaching Hospital merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan dan kesehatan tersebut.

Pendidikan dan kesehatan seharusnya tidak dilihat hanya sebagai peluang bisnis yang mengejar keuntungan finansial. Keduanya juga merupakan bentuk investasi sosial jangka panjang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memperoleh kepercayaan mereka.

Investor asing yang ingin berhasil di Indonesia harus memahami bahwa keberhasilan bisnisnya akan lebih berkelanjutan apabila masyarakat di sekitarnya ikut memperoleh manfaat.

Menjadikan Indonesia Tempat Bertemunya Pengusaha Dunia

Menurut saya, Indonesia perlu mengembangkan kawasan industri yang sekaligus berfungsi sebagai tempat pertemuan para pengusaha, ilmuwan, peneliti, akademisi, dan investor internasional.

Kita sudah mempunyai ribuan perusahaan dari berbagai negara yang beroperasi di Indonesia. Mengapa jaringan tersebut tidak dimanfaatkan untuk mempertemukan teknologi Amerika, kemampuan manufaktur China, pengalaman industri Jepang dan Korea, serta potensi pasar ASEAN?

Bayangkan apabila sebuah perusahaan teknologi Amerika, produsen mesin China, pemasok komponen Jepang, dan pengusaha Indonesia dapat bertemu dalam satu ekosistem untuk mengembangkan produk baru. Produk tersebut tidak hanya ditujukan kepada konsumen Indonesia, tetapi juga kepada pasar ASEAN dan dunia.

Inilah bentuk industrialisasi yang seharusnya kita perjuangkan. Indonesia tidak hanya menjadi tempat pabrik-pabrik asing berdiri, tetapi juga menjadi tempat lahirnya kerja sama, inovasi, dan perusahaan-perusahaan baru.

Kawasan industri masa depan perlu menyediakan fasilitas riset, pusat pelatihan, konferensi internasional, pendidikan tinggi, layanan kesehatan, dan kehidupan perkotaan yang menarik bagi para profesional dari berbagai negara.

Momentum bagi Indonesia

Perbaikan hubungan Amerika-China merupakan perkembangan positif, tetapi Indonesia tidak boleh hanya menunggu apa yang akan diputuskan Washington dan Beijing. Kita harus menentukan arah industrialisasi kita sendiri.

Pemerintah perlu terus memperbaiki kepastian hukum, mempermudah investasi yang berkualitas, memperkuat infrastruktur, dan meningkatkan pendidikan serta keterampilan tenaga kerja.

Dunia usaha harus mengembangkan kemampuan manajemen, produktivitas, integritas, dan daya saing internasional. Perguruan tinggi harus semakin dekat dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.

Masyarakat juga harus merasakan bahwa hadirnya investasi asing menciptakan kesempatan yang lebih baik bagi mereka dan generasi berikutnya.

Bagi saya, ini bukan sekadar kesempatan untuk menjual lebih banyak tanah industri. Ini adalah kesempatan membangun Indonesia sebagai salah satu pusat industri, pendidikan, teknologi, dan perdagangan internasional.

Kita perlu berpikir jauh ke depan. Perang dagang mungkin akan mereda, tetapi transformasi industri dunia akan terus berlangsung. Indonesia harus membangun daya saing yang tetap kuat dalam masa persaingan maupun masa perdamaian.

Dengan semangat yang selalu saya pegang: Think Big, Start Small, Move Fast.

Mari kita jadikan perubahan hubungan Amerika-China bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sebagai momentum untuk mempercepat industrialisasi Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Pesan Kunci: Indonesia harus menarik investasi karena keunggulannya sendiri, bukan karena konflik dua negara besar. Peran Jababeka dapat berkembang dari pengembang kawasan industri menjadi penghubung kerja sama industri internasional.