INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Hilirisasi tidak hanya tentang mengolah sumber daya alam, tetapi juga memastikan bahan baku strategis tersedia bagi industri yang tumbuh di dalam negeri.

Melalui kemitraan bersama Indonesia Investment Authority (INA) dan Chandra Asri Group pada proyek Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC), Danantara Indonesia mengarahkan modal ke sektor dengan fundamental komersial yang kuat dan peran penting dalam rantai nilai industri nasional, sekaligus mendorong partisipasi investor swasta pada proyek-proyek strategis.

Danantara Investment Management (DIM), INA, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) telah menyelesaikan transaksi investasi strategis untuk proyek CA-EDC.

Per September 2026, progres konstruksi telah mencapai sekitar 80 persen, dengan proses pemasangan peralatan utama yang sedang berlangsung serta pengembangan infrastruktur pendukung, termasuk dermaga, trestle, serta fasilitas penyimpanan.

Hingga saat ini, pembangunan terus berjalan di seluruh area proyek, dari fasilitas utama hingga infrastruktur pendukung.

Proyek ini ditopang oleh kebutuhan pasar soda kaustik dan EDC yang sudah terbentuk, sehingga memiliki landasan yang kuat untuk keberlanjutan jangka panjang.

Di sisi hilir, rantai industri bauksit dan alumina Indonesia juga diperkirakan akan terus meningkatkan permintaan soda kaustik.

Fasilitas CA-EDC dirancang untuk memproduksi sekitar 400 kiloton per tahun (KTA) soda kaustik dan 500 KTA ethylene dichloride (EDC), dua bahan kimia esensial yang digunakan dalam berbagai proses manufaktur dan industri.

“Danantara Indonesia berkomitmen mengarahkan modal ke sektor-sektor yang menopang ketahanan ekonomi, dengan tetap menjaga disiplin komersial, untuk menghadirkan nilai jangka panjang bagi Indonesia,” ujar CIO Danantara Indonesia Pandu Sjahrir.

Proyek ini dinilai menjadi bagian penting dari upaya memperkuat rantai nilai industri kimia nasional dan mengurangi ketergantungan impor bahan baku strategis.