INDUSTRY.co.id - Indonesia memasuki tahap pembangunan di mana kawasan industri tidak lagi cukup hanya menyediakan tanah, jalan, listrik, air, dan bangunan pabrik. Persaingan global sekarang ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih penting: kualitas manusia, kemampuan berinovasi, dan keberanian menciptakan usaha baru.

Pengalaman membangun Jababeka memberikan satu pelajaran penting bagi saya: sebuah kawasan industri yang ingin bertahan puluhan tahun harus berkembang menjadi sebuah kota dan kemudian menjadi sebuah ekosistem. Di dalam ekosistem itu, industri, pendidikan, tempat tinggal, teknologi, pelayanan kesehatan, budaya, serta entrepreneurship harus tumbuh bersama.

Itulah sebabnya sejak awal kami tidak melihat Jababeka hanya sebagai tempat berdirinya pabrik. Kami ingin membangun sebuah kota tempat orang dapat bekerja, belajar, tinggal, membangun keluarga, berinovasi, dan akhirnya menciptakan perusahaan baru.

Ketika Industri Membutuhkan Universitas

Ketika industrialisasi Cikarang berkembang pesat, kami melihat persoalan yang sangat jelas. Perusahaan-perusahaan berdatangan, termasuk berbagai perusahaan internasional. Tetapi perusahaan tidak hanya membutuhkan tanah dan infrastruktur. Mereka membutuhkan manusia yang mempunyai pengetahuan, disiplin, kemampuan berbahasa, pemahaman teknologi, dan pengalaman bekerja di lingkungan industri.

Dari kebutuhan itulah pada tahun 2001 kami mendukung pendirian yayasan pendidikan yang kemudian melahirkan President University. Pemikirannya sederhana: Mengapa universitas harus jauh dari tempat mahasiswa nantinya bekerja? Kalau universitas berada di tengah kawasan industri, maka perusahaan dapat menjadi bagian dari proses pendidikan.

Mahasiswa tidak hanya mendengar teori mengenai perusahaan dari dosen. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana perusahaan kelas dunia beroperasi. Karena itu, salah satu karakter pendidikan yang kami dorong adalah kuliah sambil mendapatkan pengalaman industri melalui internship atau magang.

Mahasiswa belajar di kampus, tetapi sekaligus mengenal lingkungan perusahaan. Mereka memahami bahwa di dunia nyata terdapat target, kualitas, disiplin waktu, keselamatan kerja, teknologi, pemasaran, keuangan, logistik, budaya perusahaan, serta persaingan internasional.

Dengan pengalaman tersebut, hubungan antara universitas dan dunia kerja menjadi lebih dekat. Universitas mengetahui apa yang dibutuhkan industri. Industri dapat mengenal talenta sebelum mereka lulus. Mahasiswa memperoleh pengalaman sebelum memasuki dunia kerja. Inilah salah satu bentuk hubungan industry–university collaboration yang menurut saya perlu diperluas di Indonesia.

Dari Industrial Estate Menjadi Education Ecosystem

Perkembangan Cikarang kemudian memperlihatkan efek lain yang menarik. Ketika industri tumbuh, jumlah tenaga kerja bertambah. Ketika tenaga kerja dan keluarganya bertambah, kebutuhan terhadap sekolah dan pendidikan tinggi ikut meningkat.

Secara alamiah kemudian tumbuh berbagai sekolah, universitas, lembaga pelatihan, dan institusi pendidikan di kawasan Bekasi, Cikarang, Karawang dan sekitarnya. Artinya, sebuah kawasan industri dapat menjadi katalis bagi lahirnya sebuah industri pendidikan. Dan sebaliknya, kehadiran pendidikan berkualitas membuat sebuah kawasan industri semakin kompetitif karena tersedia pasokan sumber daya manusia yang lebih baik.

Hubungan itu membentuk lingkaran pertumbuhan:

Industry creates jobs.

Education creates talent.

Talent creates innovation.

Innovation creates new businesses.

New businesses create more jobs.

Inilah yang saya sebut sebagai evolusi dari industrial estate menjadi knowledge and entrepreneurship ecosystem.

Jangan Hanya Mencetak Job Seekers

Namun ada satu tantangan yang lebih besar. Indonesia tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Kita harus menghasilkan semakin banyak job creators.

Di President University, kami ingin agar mahasiswa tidak hanya bertanya: "Setelah lulus saya bekerja di perusahaan apa?" Tetapi juga berani bertanya: "Perusahaan apa yang dapat saya bangun?"

Pengalaman magang di perusahaan nasional dan multinasional dapat menjadi sekolah bisnis yang luar biasa. Mahasiswa dapat melihat bagaimana sebuah perusahaan membangun produk, menjaga kualitas, mengelola tenaga kerja, menggunakan teknologi, mencari pasar, dan bersaing secara global. Pengetahuan tersebut kemudian dapat menjadi modal ketika mereka ingin membangun usaha sendiri.

Karena itu, saya selalu melihat entrepreneurship bukan sekadar mata kuliah. Entrepreneurship adalah mindset. Seorang entrepreneur melihat masalah sebagai peluang. Ia berani mengambil risiko yang terukur. Ia menciptakan produk, pekerjaan, dan akhirnya menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Indonesia membutuhkan jauh lebih banyak entrepreneur. Kita harus mempunyai keberanian untuk menargetkan pertumbuhan jumlah entrepreneur menuju 10 persen masyarakat yang mempunyai semangat dan kemampuan menciptakan usaha produktif. Sebab negara besar tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah atau perusahaan-perusahaan besar untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Jutaan pekerjaan baru harus datang dari perusahaan baru, SME, startup, industri kreatif, serta generasi baru entrepreneur Indonesia.

Bekasi–Cikarang–Karawang sebagai Laboratorium

Koridor Bekasi–Cikarang–Karawang mempunyai posisi yang sangat menarik bagi masa depan industrialisasi Indonesia. Di wilayah ini terdapat konsentrasi industri, tenaga kerja, perumahan, universitas, logistik, infrastruktur, pusat perdagangan dan berbagai jasa pendukung dalam skala besar.

Dengan kata lain, wilayah ini dapat menjadi laboratorium industrialisasi Indonesia. Kita dapat belajar apa yang berhasil, apa yang tidak berhasil, kemudian membawa model terbaik tersebut ke berbagai wilayah lain.

Indonesia bukan hanya Jawa. Kita mempunyai sekitar 17.000 pulau, dengan sumber daya, budaya, dan potensi ekonomi yang sangat berbeda. Karena itu kita membutuhkan pusat-pusat pertumbuhan baru.

Tidak semua harus menjadi seperti Jakarta. Tidak semua harus menjadi seperti Cikarang. Setiap wilayah harus berkembang berdasarkan keunggulannya sendiri — manufaktur, agro-industry, mineral processing, tourism, maritime industry, digital economy, atau kombinasi beberapa sektor.

Namun prinsip dasarnya sama. Di mana ada industri, harus ada pendidikan. Di mana ada pendidikan, harus ada innovation. Dan di mana ada innovation, harus muncul entrepreneurship.

Formula Baru Kota Industri

Karena itu saya melihat pembangunan kawasan industri masa depan membutuhkan lima unsur yang tidak dapat dipisahkan: Industry – Infrastructure – Education – Innovation – Entrepreneurship.

Industry memberikan kegiatan ekonomi. Infrastructure membuat kegiatan tersebut efisien. Education menghasilkan manusia yang menjalankannya. Innovation membuat industri terus berkembang. Entrepreneurship melahirkan perusahaan-perusahaan baru.

Bila lima unsur ini tumbuh bersama, sebuah kawasan industri tidak lagi sekadar menjadi kumpulan pabrik. Ia menjadi sebuah mesin pertumbuhan ekonomi. Lebih jauh lagi, ia menjadi tempat lahirnya generasi baru profesional, ilmuwan, manajer, teknisi, dan entrepreneur.

Human Capital adalah Infrastruktur Utama

Selama puluhan tahun kita terbiasa melihat infrastruktur sebagai jalan tol, pelabuhan, pembangkit listrik, bandara dan kawasan industri. Semua itu memang penting. Namun dalam ekonomi abad ke-21, ada satu infrastruktur yang lebih menentukan daripada semuanya: human capital.

Jalan dapat dibangun dalam beberapa tahun. Pabrik dapat dibangun dalam beberapa bulan. Tetapi membangun manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Karena itu industrialisasi dan pendidikan harus direncanakan bersama sejak awal.

Indonesia mempunyai bonus demografi, pasar yang besar, sumber daya alam, posisi geografis strategis dan generasi muda yang sangat adaptif terhadap teknologi. Yang diperlukan sekarang adalah menghubungkan seluruh kekuatan tersebut dalam sebuah ekosistem.

Think Big, Start Small, Move Fast

Ketika Jababeka mulai dikembangkan, kami memulai dari sebuah kawasan industri. Kemudian berkembang menjadi kota. Ketika President University dirintis, kami memulai dengan keyakinan bahwa universitas dapat menjadi bagian dari ekosistem industri.

Kini tantangannya jauh lebih besar. Indonesia harus menciptakan banyak pusat pertumbuhan baru di seluruh Nusantara. Kita harus membangun kota-kota di mana industri, pendidikan, teknologi, penelitian, entrepreneurship dan kehidupan masyarakat berkembang bersama.

Prinsipnya tetap sama: Think Big. Start Small. Move Fast.

Karena pada akhirnya, masa depan industrialisasi Indonesia tidak hanya akan ditentukan oleh berapa banyak pabrik yang kita bangun. Masa depan kita akan ditentukan oleh berapa banyak manusia berkualitas yang kita lahirkan, berapa banyak inovasi yang kita ciptakan, dan berapa banyak entrepreneur baru yang berani membangun perusahaan dan membuka lapangan pekerjaan.

Itulah transformasi yang Indonesia perlukan: dari kawasan industri menjadi kota industri, dari kota industri menjadi knowledge ecosystem, dan dari knowledge ecosystem menjadi pusat lahirnya entrepreneur Indonesia.