INDUSTRY.co.id, Jakarta-Metodius Rodian tidak datang ke Jakarta hanya untuk menerima penghargaan. Kepala SD Negeri Kembur, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, itu membawa cerita tentang kepemimpinan yang tumbuh dari kebersamaan dan semangat belajar di wilayah binaan Borong.

Metodius menjadi salah satu penerima penghargaan kepala sekolah berprestasi 2026 dalam rangkaian Festival Generasi Cerdas (FGC) 2026 yang diselenggarakan Astra melalui Yayasan Astra-Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA MDR). Kegiatan bertajuk “Cerdas Berprestasi, Kreatif Menginspirasi” tersebut berlangsung di Menara Astra, Jakarta, pada 29 September-1 Oktober 2026.

“Untuk bisa meraih prestasi seperti yang saya dapatkan pada kesempatan ini dengan terus melibatkan semua dalam proses memimpin,” ujar Metodius dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9/2026).

Menurut dia, setiap guru memiliki peran yang sama dalam menentukan arah sekolah. Karena itu, keputusan tidak semestinya lahir dari satu pihak, melainkan melalui proses bersama.

“Semua guru memiliki peran yang sama, yaitu bagaimana mereka mengambil sebuah keputusan dilakukan secara bersama,” katanya.

Penghargaan tersebut, bagi Metodius, bukanlah tanda bahwa proses belajar telah selesai. Sebaliknya, capaian itu menjadi titik awal untuk terus mengembangkan diri dan membawa SD Negeri Kembur menjadi lebih baik.

“Saya mendapat prestasi seperti ini bukan berarti saya berhenti belajar. Bagi saya, ini adalah awal bagaimana saya akan terus maju dan berkembang demi sekolah binaan Yayasan Astra-YPA MDR menjadi lebih baik ke depan,” ujar dia.
Merayakan karya sekolah

FGC 2026 menjadi ruang apresiasi bagi karya, kreativitas, dan prestasi sekolah binaan Yayasan Astra-YPA MDR. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di sembilan provinsi dan 18 kabupaten di Indonesia.

Direktur Astra sekaligus Ketua Pembina Yayasan Astra-YPA MDR, Gita Tiffani Boer, mengatakan pendidikan merupakan salah satu fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Menurut dia, peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah, sekolah, dunia usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Astra memandang pendidikan sebagai salah satu fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi yang berkelanjutan,” kata Gita.

Berbagai karya yang ditampilkan dalam festival tersebut merupakan hasil pembinaan melalui empat pilar, yakni karakter, akademik, kecakapan hidup, serta seni dan budaya.

Pada bidang pembelajaran, guru dan siswa mengembangkan media interaktif berbasis digital maupun nondigital. Media tersebut dirancang untuk membuat proses belajar lebih kreatif dan dekat dengan kebutuhan siswa.

Sementara itu, pilar kecakapan hidup ditampilkan melalui karya kain tradisional dari sejumlah daerah. Pengunjung dapat melihat batik khas Daerah Istimewa Yogyakarta, tenun dari Nusa Tenggara Timur, serta tapis dari Lampung Selatan.

Setiap karya mengangkat kekayaan budaya dan identitas daerah asalnya. SD Negeri Jigudan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, menjadikan Tugu Yogyakarta sebagai salah satu inspirasi motif batik.
Keragaman budaya juga terlihat dalam pertunjukan seni. Guru dan siswa memainkan sejumlah alat musik tradisional, seperti sape dari Kalimantan dan sasando dari Rote, Nusa Tenggara Timur. Penampilan tersebut diperkaya dengan permainan ukulele siswa binaan dari Seram Bagian Barat, Maluku.

Prestasi dari daerah

Sepanjang 2026, sekolah binaan Yayasan Astra-YPA MDR mencatat sejumlah prestasi. SD Negeri Kertosari dari Lampung Selatan dan SMP Negeri 1 Borong dari Manggarai Timur meraih juara ketiga dalam Lomba Inovasi Karya Guru tingkat nasional.
Prestasi lain diraih Ferdy Souwalla, siswa SD Negeri Hatusua, Seram Bagian Barat. Ferdy berhasil melaju ke tingkat nasional Olimpiade Sains Nasional 2026 untuk bidang Ilmu Pengetahuan Sosial.

Capaian tersebut menjadi bagian dari proses panjang pengembangan kapasitas kepala sekolah, guru, dan siswa. Apresiasi atas proses dan prestasi itu juga diberikan melalui Forum Komunikasi Sekolah Binaan (FKSB) XIII, yang tahun ini menjadi bagian dari rangkaian FGC 2026.

Lebih dari 1.600 peserta mengikuti enam kategori lomba dalam forum tersebut, yakni BISA, KIMIPA, PIGUR, Karya Kreasi Nusantara, Seni Tari Nasional, dan Menulis.

Ketua Pengurus Yayasan Astra-YPA MDR Gunawan Salim mengatakan, tingginya partisipasi peserta menunjukkan antusiasme sekolah binaan dalam mengembangkan potensi dan membagikan karya.

“Antusiasme tersebut menjadi semangat bagi Yayasan Astra-YPA MDR untuk terus menyediakan ruang bagi sekolah binaan dalam mengembangkan potensi, menunjukkan prestasi, serta membagikan karya yang dapat menginspirasi,” ujar Gunawan.
Membina 190 sekolah

Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim merupakan salah satu dari sembilan Yayasan Astra. Yayasan ini didirikan PT Astra International Tbk untuk menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan di bidang pendidikan, terutama di daerah tertinggal dan strategis.

Dalam pembinaannya, Yayasan Astra-YPA MDR menerapkan program lima tahun yang berfokus pada empat pilar, yaitu karakter, akademik, kecakapan hidup, serta seni dan budaya. Program tersebut dijalankan melalui pelatihan, pendampingan intensif, dan pengembangan pembelajaran intrakurikuler.

Saat ini, Yayasan Astra-YPA MDR membina 190 sekolah negeri yang tersebar di sembilan provinsi dan 18 kabupaten. Sekolah binaan itu terdiri atas 137 sekolah dasar, 37 sekolah menengah pertama, dan 16 sekolah menengah atas atau kejuruan.
Program tersebut menjangkau lebih dari 2.900 guru dan 40.000 siswa. Wilayah binaan meliputi Bogor, Gunungkidul, Bantul, Lampung Selatan, Pacitan, Serang, Kupang, Rote Ndao, Kapuas, Barito Utara, Tangerang, Majalengka, Manggarai Timur, Penajam Paser Utara, Lebak, Sumba Timur, Kutai Barat, dan Seram Bagian Barat.

Pembinaan mencakup pengembangan sumber daya manusia, kurikulum, manajemen sekolah, serta penyediaan sarana dan prasarana sesuai Standar Nasional Pendidikan.

Bagi Astra, upaya tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan filosofi Catur Dharma, khususnya prinsip “Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara”. Melalui bidang pendidikan, yayasan berupaya membantu sekolah meningkatkan kemampuan akademik, intelektual, kecakapan hidup, seni dan budaya, serta karakter yang berlandaskan nilai-nilai luhur bangsa.

FGC 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai panggung penghargaan. Dari karya kain, alat musik tradisional, media pembelajaran, hingga kisah Metodius di SD Negeri Kembur, festival itu memperlihatkan bahwa perubahan pendidikan dapat tumbuh dari sekolah-sekolah di daerah.

Di tempat-tempat seperti Kembur, kemajuan tidak selalu dimulai dari fasilitas yang besar. Ia dapat berawal dari keputusan yang diambil bersama, guru yang bersedia terus belajar, dan kepala sekolah yang memahami bahwa