INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Ekosistem industri furnitur Indonesia kembali mendapat panggung besar melalui penyelenggaraan interzum jakarta, International Hardware Fair Indonesia (IHF Indonesia), dan IFFINA+ powered by imm cologne yang resmi dibuka hari ini di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Jakarta.
Berlangsung pada 24–27 September 2026, ketiga pameran tersebut menghadirkan lebih dari 500 exhibitor dan menyatukan berbagai mata rantai industri, mulai dari material, komponen, hardware, hingga furnitur dan produk interior siap pakai.
Diselenggarakan oleh Nine Koeln Indonesia, dengan ASMINDO (Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia) sebagai mitra industri sekaligus co-organiser IFFINA+ powered by imm cologne, gelaran ini dirancang sebagai platform B2B yang mempertemukan pelaku industri dari sisi hulu hingga hilir.
Ketiga pameran tersebut menjadi bagian dari Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect (IMMFC), sebuah rangkaian pekan industri yang lebih luas dan turut mencakup IFMAC WOODMAC, yang berlangsung pada 23–26 September 2026 di JIExpo Kemayoran.
Semangat memperkuat ekosistem industri tersebut tercermin dalam seremoni pembukaan yang mempertemukan perwakilan pemerintah, industri, dan sektor pameran. Di antaranya hadir Mathias Kuepper, Managing Director dan Regional President Asia-Pacific Koelnmesse; Dedy Rochimat, Ketua ASMINDO; serta perwakilan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Tahun ini, partisipasi internasional datang dari sejumlah negara dan wilayah, termasuk Tiongkok, Hong Kong, Singapura, India, Turki, dan Taiwan. Kehadiran peserta internasional tersebut memperlihatkan semakin luasnya jangkauan regional dan global yang ingin dibangun melalui ketiga pameran.
Selama empat hari, penyelenggara menargetkan sekitar 15.000 pengunjung. Target tersebut didukung Hosted Buyer Programme yang mempertemukan buyer dengan exhibitor secara langsung di area pameran.
“Edisi ini menjadi tahun fondasi bagi ekosistem industri kami di Indonesia. Melalui joint venture baru kami, Nine Koeln Indonesia, kami membangun platform yang lebih terintegrasi dan menghubungkan rantai nilai furnitur, mulai dari material hingga produk jadi. Fokus kami tahun ini adalah pada kualitas dan kesiapan struktural, sebagai landasan bagi relevansi regional dalam jangka panjang,” ujar Mathias Kuepper, Managing Director dan Regional President Asia-Pacific, Koelnmesse Pte Ltd.
Mempertemukan Hulu dan Hilir Industri
interzum jakarta dan IHF Indonesia memasuki penyelenggaraan tahun kedua setelah debutnya di Jakarta pada tahun sebelumnya. Sementara itu, IFFINA+ powered by imm cologne memasuki fase baru dengan jadwal, venue, dan konsep yang lebih luas.
Pada edisi 2026, IFFINA+ memberikan perhatian lebih besar pada sektor furnitur hospitality sebagai salah satu segmen pertumbuhan, sekaligus mempertahankan fokus pada kebutuhan residensial dan interior design. Langkah tersebut sejalan dengan ambisi menjadikan IFFINA+ sebagai hub regional untuk furnitur, desain, dan kerajinan.
Menurut Dedy Rochimat, penguatan industri furnitur membutuhkan keterhubungan antarbagian dalam ekosistem, bukan hanya peningkatan pada satu sektor.
“Daya saing industri furnitur tidak bisa dibangun sendiri-sendiri. Ketika bahan baku kuat, industri efisien, teknologi berkembang, desain baik, logistik kompetitif, dan akses pasar terbuka, produk furnitur Indonesia akan semakin mampu bersaing di pasar dunia," kata Ketua ASMINDO.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki modal berupa sumber daya alam, craftsmanship, serta talenta desainer dan entrepreneur kreatif yang dapat menjadi fondasi pengembangan industri.
“Karena itu, kolokasi interzum jakarta, IHF Indonesia, dan IFFINA+ powered by imm cologne ini bukan sekadar exhibition, tapi meeting point bagi seluruh ekosistem industri, dan kami siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk mewujudkan measurable economic impact bagi Indonesia,” kata Dedy.
Pemerintah Dorong Nilai Tambah Industri
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa industri furnitur memiliki ruang pertumbuhan yang masih besar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Di tengah eskalasi ketidakpastian global, Indonesia terus memperkuat ketahanan ekonomi domestik dan daya saing industri, dan IFFINA 2026 menjadi sarana strategis untuk memperluas pasar serta mempererat hubungan langsung dengan buyer internasional,” ujar Airlangga.
Ia menyebut industri furniture tumbuh double digit sebesar 11,82 persen dan telah mencatatkan surplus dagang sejak 2021. Namun, menurutnya, peluang ekspansi masih terbuka, antara lain karena pangsa pasar Indonesia di Amerika Serikat disebut baru mencapai 0,77 persen.
Potensi tersebut juga ditopang kekayaan bahan baku kayu dan rotan nasional. Indonesia disebut sebagai penghasil lebih dari 80 persen rotan dunia, sementara posisi Indonesia sebagai eksportir furnitur dunia masih berada di peringkat ke-25.
“Karena struktur industri masih didominasi IKM yang mencapai 99,79 persen dari total unit usaha, pemerintah hadir dengan dukungan konkret berupa insentif fiskal, akses pembiayaan padat karya, restrukturisasi mesin, hingga penguatan SVLK untuk mendorong nilai tambah di dalam negeri,” lanjut Airlangga.
Rantai Sourcing dalam Satu Platform
Kolokasi ketiga pameran membentuk alur sourcing yang menghubungkan berbagai kebutuhan industri furnitur.
interzum jakarta berfokus pada material dan komponen melalui tiga segmen utama, yakni Material & Nature, Function & Components, serta Textile & Upholstery. Sejumlah exhibitor yang berpartisipasi antara lain Startha Group, Virgo Laminates, Wana Lestari Industri, Carta, Dekkson, Ocean Centra Furnindo, Prakarsa Uretan Sejahtera, Wright of Hong Kong Limited, Hunter Douglas, dan Danzer AG.
Sementara itu, IHF Indonesia melengkapi ekosistem tersebut melalui kategori hardware dan peralatan, mulai dari tools dan fasteners hingga home improvement, alat pelindung diri, serta jaringan pemasok internasional. Exhibitor yang hadir antara lain Sheda Tools Indonesia, Dekorindo Mandiri, PT Gisma Cipta Sukses, PT Shibataya Engineering, CV Karya Nasional Engineering, dan Zhejiang Urus Tools Co., Ltd.
Di sisi hilir, IFFINA+ powered by imm cologne menghadirkan furnitur jadi dan produk interior. Beberapa nama yang berpartisipasi di antaranya Rifyo, LUAR, Every, Sol by PDM, Alessio, Latif Living, Livante by Wisanka, Enviro, Vivere, CG Interior x Indofitting, Homeware International, dan Wovn Textiles.
Konsep kolokasi tersebut memungkinkan pengunjung melihat tahapan rantai bisnis secara berdampingan. Pengunjung dapat membandingkan material dan solusi, menelusuri bagaimana material dikembangkan menjadi produk jadi, sekaligus menemukan pemasok dari kategori yang sebelumnya mungkin berada di luar jalur sourcing mereka.
Segmen pengunjung yang disasar mencakup produsen furnitur, desainer interior dan arsitek, wholesaler dan distributor, importir dan eksportir, distributor serta peritel hardware, produsen peralatan, pemasok konstruksi dan bangunan, hingga pelaku bisnis hospitality dan properti.
Business Matching hingga Program Desain
Selain area pameran, rangkaian program selama empat hari juga diarahkan untuk memperkuat networking dan pertukaran pengetahuan.
Hosted Buyer Programme dilanjutkan dengan sesi Business Matching yang mempertemukan buyer internasional dan regional dengan exhibitor dari ketiga pameran.
Program panggung bersama IFFINA+ Talks menghadirkan pembicara dari sektor furnitur, hospitality, desain, dan produksi material. Sejumlah nama yang dijadwalkan tampil antara lain sutradara film Jay Subiakto, arsitek sekaligus pengusaha hotel Harry Soedarsono, co-founder MBLOC Jacob Gatot, serta design leader LIXIL Yoichiro Tomiyoka.
Di interzum jakarta, pengunjung juga dapat mengikuti program Mobile Space yang tahun ini menghadirkan edisi khusus “Mobile Podcast”. Program tersebut berupa studio mobile premium di dalam kendaraan hasil kolaborasi dengan media otomotif Otodriver, desainer interior Rica Ishak, dan produsen bodi kendaraan Delima Mandiri.
IFFINA+ dan interzum jakarta turut menghadirkan Experience Lab bersama Playo untuk mengeksplorasi inovasi material lokal. Ada pula 100+ Designers Club, jalur networking yang dipandu desainer interior Lea A. Aziz untuk mempertemukan desainer dengan brand.
Sementara itu, IHF Indonesia menghadirkan DIY Class, DIY Fest, dan DIY Workshop. Program tersebut menawarkan demonstrasi praktik, pengembangan keterampilan teknis, hingga peluang sertifikasi profesional bagi pengunjung industri, melalui kolaborasi dengan ArchLabs dan Gamma (Federasi Industri Pengerjaan Logam Indonesia).
Membangun Hub Industri Regional
Penyelenggaraan bersama ketiga pameran tersebut pada akhirnya diarahkan bukan hanya untuk memperbesar skala event, tetapi juga mempererat hubungan antarpelaku dalam ekosistem furnitur Indonesia.
Dengan material, komponen, hardware, proses produksi, desain, hingga furnitur jadi yang hadir dalam satu rangkaian, IMMFC 2026 mencoba menciptakan ruang temu baru bagi pelaku industri yang sebelumnya mungkin berinteraksi melalui jalur pameran yang berbeda.
Lebih dari agenda empat hari, penyelenggara menempatkan kolaborasi ini sebagai bagian dari upaya membangun rantai industri furnitur Indonesia yang lebih terhubung sekaligus memperluas aksesnya menuju pasar regional dan internasional.