INDUSTRY.co.id - JAKARTA, Malam turun perlahan di Kepulauan Lingga, Kepulauan Riau.
Di atas Sampan Kajang, sebuah keluarga Orang Suku Laut (OSL) bersiap melanjutkan perjalanan. Tidak ada rumah yang perlu dituju malam itu. Tidak ada garis batas yang harus dipertahankan. Yang ada hanya laut, angin, arus, bintang, dan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Inilah Bakelam.
Secara harfiah, Bakelam berasal dari kata ba yang berarti melakukan dan kelam, yakni mencari hasil laut pada waktu gelap atau malam hari. Namun, bagi OSL di Kepulauan Lingga, Bakelam jauh lebih besar daripada sekadar mencari ikan setelah matahari tenggelam.
Bakelam adalah perjalanan.
Selama berbulan-bulan, keluarga-keluarga OSL berpindah mengikuti arah angin dan arus, membaca cuaca, mengenali tanda-tanda alam, dan mencari wilayah yang memungkinkan mereka memperoleh hasil laut. Laut bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ia adalah ruang hidup, ruang belajar, sekaligus ruang yang menghubungkan mereka dengan leluhur.
Ada tiga makna yang melekat pada Bakelam: ekonomi, budaya, dan spiritual.
Secara ekonomi, perjalanan ini menjadi cara memperoleh hasil laut sekaligus membaca denyut pasar. Secara budaya, Bakelam mempertahankan identitas OSL sebagai masyarakat pengembara laut. Sementara secara spiritual, perjalanan tersebut menjadi cara untuk tetap terhubung dengan alam dan leluhur.
Di atas Sampan Kajang, laut juga berubah menjadi sekolah.
Generasi muda belajar membaca bintang untuk menentukan arah. Mereka belajar mengenali perubahan cuaca, memahami arus, menemukan lokasi ikan, hingga mengetahui titik-titik air tawar yang tersembunyi. Pengetahuan itu tidak selalu tertulis dalam buku. Ia diturunkan melalui perjalanan, pengamatan, dan pengalaman.
Barangkali karena itu, wilayah tangkap OSL tidak mengenal batas yang kaku.
Wilayah laut bagi mereka bersifat fluid. Tidak ada klaim eksklusif atas satu kawasan. Prinsipnya sederhana: siapa pun boleh memancing, selama mematuhi aturan adat.
Bahkan ketika mengambil hasil laut, ada penghormatan terhadap alam yang menyertainya. Untuk menangkap spesies tertentu, misalnya, terdapat ritual yang menjadi bagian dari hubungan antara manusia dan laut.
Cara hidup seperti ini mungkin terdengar sederhana. Namun, di dalamnya tersimpan sebuah pengetahuan ekologis yang telah berlangsung jauh sebelum istilah sustainability menjadi populer.
Bakelam mengenal rotasi alami: berpindah agar wilayah yang ditinggalkan memiliki kesempatan untuk beregenerasi.
Ia meninggalkan jejak permanen yang relatif kecil karena kehidupan berlangsung di atas sampan, bukan melalui pembangunan yang menetap di satu tempat.
Dan dalam perjalanan mereka, OSL juga menjadi semacam pengawas laut—hadir di perairan yang jauh dan terpencil, membaca perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Laut bagi mereka bukan sesuatu yang dimiliki. Laut adalah sesuatu yang dirawat melalui cara hidup.
Namun, ruang hidup itu kini berubah.
Laut yang dahulu menjadi hamparan perjalanan semakin ramai oleh kapal-kapal besar dan aktivitas penangkapan berskala industri. Kehadiran kapal besar dan penggunaan pukat turut memengaruhi ruang gerak Sampan Kajang serta hasil tangkapan OSL.
Di darat, perubahan juga berlangsung.
Program pemukiman permanen membuat durasi dan jangkauan perjalanan Bakelam semakin menyusut. Tradisi yang sebelumnya berlangsung berbulan-bulan di laut perlahan harus beradaptasi dengan kehidupan yang lebih menetap.
Di atas semua itu, perubahan iklim membawa ancaman lain. Kenaikan permukaan laut dan perubahan kondisi pesisir menambah tekanan terhadap kehidupan masyarakat yang sejak lama menggantungkan hidupnya pada laut.
Ironisnya, ketika dunia sedang mencari cara untuk hidup lebih berkelanjutan, pengetahuan seperti yang dimiliki OSL justru menghadapi ancaman kehilangan.
Padahal, pengetahuan tentang arus, cuaca, ekosistem, dan perilaku laut yang mereka miliki merupakan hasil dari hubungan panjang antara manusia dan alam.
“Pengetahuan lokal OSL tentang arus, cuaca, dan ekosistem adalah aset berharga dalam menghadapi krisis iklim global. Mendukung mereka berarti menjaga keragaman budaya dan kelestarian laut Indonesia,” kata Dedi Supriadi Adhuri, periset Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN.
Mungkin ada satu pelajaran penting dari Bakelam.
Kemajuan tidak selalu berarti menetap. Menjaga tidak selalu berarti memiliki.
Bagi Orang Suku Laut, berpindah justru menjadi cara untuk bertahan—dan sekaligus memberi kesempatan kepada laut untuk pulih.
Di bawah langit malam, Sampan Kajang kembali bergerak.
Mengikuti angin.
Membaca arus.
Mencari hasil laut.
Dan, tanpa banyak kata, meneruskan pengetahuan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup bersama laut. (source:brin)