JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75–4 persen pada Rabu (16/9/2026) waktu setempat. Ini merupakan kenaikan pertama sejak 2023, sekaligus sinyal bahwa perang melawan inflasi di Negeri Paman Sam belum usai.
Keputusan itu diambil secara bulat oleh 12 anggota Federal Open Market Committee (FOMC) tanpa satu pun dissent. Dalam pernyataan resminya, The Fed menilai inflasi di AS masih tinggi.
"Inflasi masih tinggi. Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi ke target 2 persen secara lebih tepat waktu," tulis FOMC dalam pernyataannya.
Bersamaan dengan itu, Dewan Gubernur The Fed juga menaikkan suku bunga primary credit sebesar 25 bps menjadi 4 persen, berlaku mulai 17 September 2026.
Highlights
- Suku bunga acuan The Fed naik 25 bps ke 3,75–4 persen, kenaikan pertama sejak 2023
- Keputusan diambil bulat 12-0 oleh anggota FOMC
- Dot plot memproyeksikan suku bunga 4,1 persen di akhir 2026, membuka peluang satu kenaikan lagi
- Rupiah di kisaran Rp17.700 per dolar AS, pasar menanti RDG Bank Indonesia 23–24 September 2026
Ekonomi AS Masih Kuat
Kenaikan ini terjadi saat ekonomi AS dinilai masih tumbuh solid. The Fed mencatat belanja domestik tetap kuat meski ketidakpastian geopolitik tinggi. Produktivitas dan investasi juga kokoh, sementara tingkat pengangguran relatif stabil.
Tekanan harga datang antara lain dari lonjakan harga bahan bakar di tengah perang Iran. Harga solar di AS bahkan sempat mencetak rekor baru.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengakui bank sentral tidak bisa sendirian meredam guncangan harga seperti minyak. Namun menurutnya, The Fed bisa mencegah tekanan tersebut merembet ke harga-harga lain dalam perekonomian.
Warsh juga enggan menjawab pertanyaan soal komunikasinya dengan Presiden Donald Trump, yang selama ini mendesak agar suku bunga diturunkan. "Saya tidak punya jawaban untuk Anda soal diskusi dengan presiden," ujarnya.
Masih Ada Satu Kenaikan Lagi Tahun Ini
Proyeksi terbaru (dot plot) menunjukkan median suku bunga acuan di level 4,1 persen pada akhir 2026. Artinya, masih terbuka peluang satu kenaikan lagi sebelum tutup tahun. Pada proyeksi Juni, angkanya baru 3,8 persen.
Ringkasan proyeksi The Fed (median, September 2026):
| Indikator | 2026 | 2027 | 2028 |
|---|---|---|---|
| Suku bunga acuan | 4,1% | 4,1% | 3,9% |
| Pertumbuhan PDB | 2,3% | 2,4% | 2,2% |
| Tingkat pengangguran | 4,1% | 4,1% | 4,1% |
| Inflasi PCE | 3,7% | 2,3% | 2,1% |
| Inflasi inti PCE | 3,4% | 2,5% | 2,2% |
Proyeksi inflasi PCE 2026 dinaikkan dari 3,6 persen menjadi 3,7 persen, sedangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi naik dari 2,2 persen menjadi 2,3 persen.
Pasar keuangan AS merespons keputusan ini dengan relatif tenang. Imbal hasil obligasi yang sudah tinggi nyaris tidak bergerak, dan bursa saham hanya terkoreksi tipis.
Dampak ke Rupiah dan BI Rate
Bagi Indonesia, kenaikan bunga The Fed biasanya menekan rupiah karena selisih imbal hasil dengan aset berdenominasi dolar AS makin sempit. Per 16 September 2026, kurs rupiah berada di kisaran Rp17.700 per dolar AS. Dalam sebulan terakhir rupiah menguat 0,83 persen, namun dalam setahun masih melemah sekitar 7,7 persen.
Sorotan kini beralih ke Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23–24 September 2026. Saat ini BI-Rate berada di level 5,75 persen, dengan suku bunga Deposit Facility 4,75 persen dan Lending Facility 6,5 persen. Sejumlah analis memperkirakan BI berpeluang ikut menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.
Meski begitu, kebijakan BI tidak otomatis mengikuti The Fed. Inflasi domestik, stabilitas nilai tukar, arus modal, dan prospek pertumbuhan tetap menjadi pertimbangan utama.
Adapun rapat FOMC berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026.