INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Tren gaya hidup aktif dan sehat membuka peluang baru bagi industri makanan dan minuman di Indonesia. U.S. Dairy Export Council (USDEC) melihat perubahan perilaku konsumen tersebut dapat mendorong produsen menghadirkan produk bernutrisi lebih tinggi, terutama yang mengandung protein, tanpa harus mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat.
Peluang tersebut diperkenalkan USDEC melalui berbagai prototipe produk berbasis bahan susu dari Amerika Serikat dalam ajang Fi Asia Indonesia 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo). Melalui USA Pavilion, booth AIC06, USDEC menghadirkan inspirasi formulasi yang menyasar kebutuhan konsumen terhadap makanan dan minuman yang mendukung gaya hidup aktif dan sehat.
Kebutuhan terhadap produk yang lebih sehat semakin menguat di tengah konsumen Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Berdasarkan Global Wellness Economy Monitor 2025, Asia Tenggara menjadi salah satu kekuatan utama global dalam pola makan sehat, nutrisi, dan pengelolaan berat badan, dengan tingkat pertumbuhan tercepat di dunia.
Sementara itu, survei Euromonitor pada 2025 menunjukkan bahwa meskipun 68% konsumen Indonesia mengkhawatirkan kenaikan biaya, sebanyak 71% tetap aktif mencari bahan sehat dalam makanan. Bahkan, 32% konsumen berencana meningkatkan pengeluaran untuk kebutuhan kesehatan dan kebugaran.
Survei USDEC 2026 juga menunjukkan kecenderungan serupa. Meski faktor rasa, kesesuaian harga dengan kualitas, dan kesegaran masih menjadi pertimbangan utama dalam pembelian makanan dan minuman, aspek kesehatan semakin masuk dalam pertimbangan konsumen sehari-hari. Konsumen mulai berupaya menerapkan pola makan lebih seimbang dengan meningkatkan konsumsi protein, serat, dan makanan padat nutrisi.
Hal itu tercermin dalam USDEC Consumption Tracker yang dilakukan di Indonesia pada Juni hingga Juli 2026. Sebanyak 51% responden sangat setuju dan 33% setuju bersedia membayar lebih untuk makanan dan minuman kemasan yang menawarkan manfaat kesehatan, meski berdampak terhadap anggaran mereka.
Minat terhadap produk dengan tambahan protein juga tergolong tinggi. Sebanyak 63% konsumen menyatakan sangat mungkin dan 31% cukup mungkin mempertimbangkan makanan dan minuman kemasan dengan klaim tambahan protein.
Dorongan terbesar berasal dari kebutuhan untuk meningkatkan energi dan performa fisik yang dipilih 74% responden. Berikutnya, sebanyak 69% mencari pilihan yang lebih sehat dan bernutrisi dibandingkan produk biasa, sedangkan 61% ingin memenuhi kebutuhan protein dengan cara yang praktis.
Regional Director, Southeast Asia, USDEC Dali Ghazalay mengatakan, perubahan perilaku tersebut menunjukkan ruang yang cukup besar bagi produsen untuk mengembangkan produk bernutrisi dengan tetap mempertahankan daya tarik makanan yang sudah dikenal konsumen.
“Dalam kondisi ekonomi saat ini, konsumen semakin cermat dalam menentukan pengeluaran mereka. Namun, kesehatan tetap menjadi salah satu prioritas utama. Inovasi makanan dan minuman yang berhasil tidak lagi cukup hanya mengandalkan sesuatu yang baru. Produk yang sukses harus mampu menjawab kebutuhan nyata konsumen sehari hari,” kata Dali di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Menurut USDEC, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan produsen adalah memasukkan manfaat nutrisi ke dalam produk yang sudah familiar bagi konsumen. Dengan demikian, pola makan sehat tidak perlu diposisikan sebagai kategori tersendiri, tetapi dapat menjadi bagian dari pengalaman konsumsi sehari-hari.
Bahan susu asal Amerika Serikat, seperti protein susu, bahan whey, susu bubuk, dan permeate, menawarkan manfaat fungsional dan nutrisi yang dapat digunakan dalam berbagai formulasi. Fleksibilitas bahan tersebut juga memungkinkan produsen menyesuaikannya dengan cita rasa lokal, format produk, maupun momen konsumsi.
Salah satu produk yang menjadi sorotan USDEC di Fi Asia Indonesia 2026 adalah Protein Coffee Butter Cookie. Produk ini merupakan pengembangan dari butter cookie klasik yang memadukan rasa mentega dengan kopi panggang dan konsentrat protein susu asal Amerika Serikat.
Produk tersebut dirancang sebagai contoh bagaimana tambahan nutrisi dapat diintegrasikan ke dalam makanan yang telah dikenal konsumen. Dalam satu sajian yang terdiri dari empat cookie, produk ini menyediakan 6,5 gram protein berkualitas tinggi dari bahan protein susu Amerika Serikat, sekaligus menghadirkan cita rasa kopi dan kandungan kafein.
“Dengan memadukan kelezatan butter cookie yang kaya rasa, tambahan protein dari protein susu Amerika Serikat, dan sentuhan kopi panggang, kami menciptakan camilan yang menyenangkan sekaligus menyediakan 6,5 gram protein berkualitas tinggi dalam setiap sajian yang terdiri dari empat cookie. Ini menunjukkan bahwa pilihan nutrisi yang lebih baik dapat dengan mudah menjadi bagian dari momen menikmati makanan sehari hari,” ujar Joanne Tey, Senior Manager, Food Applications and Innovation, USDEC.
Inovasi tersebut juga sejalan dengan tren “Layers of Delight” yang diidentifikasi Innova Market Insights pada 2026. Tren ini menggambarkan meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap pengalaman makan yang lebih menarik, dengan menggabungkan aspek kenikmatan dan nutrisi dalam satu produk.
Bagi industri makanan dan minuman Indonesia, tren tersebut membuka ruang bagi pengembangan produk bernilai tambah, khususnya melalui fortifikasi protein dan pemanfaatan bahan fungsional. Di sisi lain, kemampuan menyesuaikan inovasi dengan selera dan kebiasaan konsumsi lokal menjadi faktor penting untuk menjembatani kebutuhan nutrisi dengan preferensi konsumen.
Melalui kehadirannya di Fi Asia Indonesia 2026, USDEC juga membuka peluang kolaborasi antara produsen makanan Indonesia dengan pemasok produk susu dari Amerika Serikat. Pengunjung dapat mencicipi Protein Coffee Butter Cookie sekaligus berdiskusi dengan ahli teknis dan pemasok mengenai pemanfaatan bahan susu dalam pengembangan produk makanan dan minuman.
Dengan meningkatnya kesediaan konsumen membayar untuk manfaat kesehatan serta tingginya minat terhadap produk berprotein, industri memiliki peluang untuk mengembangkan inovasi yang tidak sekadar menawarkan klaim kesehatan, tetapi juga tetap kompetitif dari sisi rasa, harga, dan pengalaman konsumsi.