INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Act For Farmed Animals (AFFA) menghadirkan pameran imersif bertajuk Beyond the Cage di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 5–7 September 2026. 

Pameran ini membuka ruang edukasi publik mengenai kehidupan ayam petelur dalam kandang baterai serta perkembangan sistem cage-free sebagai alternatif pemeliharaan.

Melalui karya seni, dokumentasi, cerita, dan pengalaman interaktif, pengunjung diajak melihat proses produksi telur yang selama ini jarang diketahui sebelum produk tersebut sampai ke meja makan, restoran, hotel, toko roti, maupun berbagai bisnis pangan.

Pameran yang mengusung subtema “Building a More Responsible Food System” tersebut juga menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, peternak, pelaku usaha, organisasi masyarakat sipil, komunitas, dan konsumen untuk membahas sistem produksi pangan yang lebih bertanggung jawab.

Pembukaan Beyond the Cage dihadiri Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si.

Turut hadir Kepala UPTD Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Unggas Jatiwangi, Ahmad Gufron, S.Pt., M.Si., yang mewakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, serta peternak cage-free dari PT Inti Prima Satwa Sejahtera, Roby Gandawijaya.

Dalam sambutan kuncinya, Ditjen PKH mendorong agar transisi sistem produksi telur dilaksanakan secara bertahap, terukur, dan berlandaskan bukti ilmiah. Kesejahteraan hewan dinilai berkaitan erat dengan keamanan pangan, penyakit zoonosis, resistensi antimikroba, perubahan iklim, serta meningkatnya tuntutan konsumen terhadap praktik peternakan yang etis dan berkelanjutan.

Hubungan antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan tersebut dijelaskan melalui pendekatan One Health dan One Welfare.

“Ketika ayam lebih bahagia dan tidak stres, penggunaan obat-obatan atau antibiotik dapat berkurang. Hal itu ikut mendukung bahan pangan yang lebih sehat,” kata I Ketut Wirata.

Pemerintah menilai sistem cage-free dapat memberikan kesempatan kepada ayam untuk bergerak, bertengger, dan mandi debu. Lingkungan pemeliharaan yang baik juga dinilai berpotensi menurunkan tingkat stres dan penyakit sehingga penggunaan antimikroba dapat ditekan.

Meski demikian, proses perubahan sistem membutuhkan berbagai penyesuaian, mulai dari infrastruktur, biaya, pengetahuan teknis, dan manajemen hingga kepastian pasar bagi peternak.

Dalam sistem kandang baterai, ayam petelur dipelihara secara berkelompok di kandang kawat selama masa produksi. Berdasarkan materi yang disajikan AFFA, setiap ayam hanya memperoleh ruang sekitar 450 sentimeter persegi atau kurang lebih seukuran selembar kertas A4.

Terbatasnya ruang membuat ayam kesulitan mengepakkan sayap secara penuh, bertengger, mandi debu, membuat sarang, bergerak, dan bersosialisasi.

Sementara itu, cage-free merupakan sistem pemeliharaan ayam petelur tanpa menggunakan kandang baterai. Sistem ini memberikan kesempatan lebih besar kepada ayam untuk bergerak, mengepakkan sayap, bertengger, menggunakan area sarang, serta menunjukkan berbagai perilaku alaminya.

Informasi mengenai kedua sistem produksi tersebut dikemas AFFA dalam rangkaian pengalaman bertema Learn, Feel, Hope, dan Act. 

Pengunjung terlebih dahulu diperkenalkan pada kondisi ayam dalam kandang baterai, kemudian diajak memahami dampaknya, mengenal alternatif cage-free, dan mengetahui bentuk dukungan yang dapat dilakukan masyarakat.

“Kami percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil,” ujar Direktur Pelaksana AFFA, Arie Utami.

Beyond the Cage turut menyoroti peran perusahaan dalam mendorong perubahan sistem produksi telur. Hotel, restoran, perusahaan retail, produsen makanan, toko roti, dan pelaku bisnis hospitality merupakan konsumen telur dalam jumlah besar yang dapat memengaruhi arah permintaan pasar.

Kebijakan perusahaan untuk membeli dan menggunakan telur cage-free dinilai dapat memberikan kepastian pasar sekaligus mendorong peternak menyesuaikan sistem produksi secara bertahap.

Dalam perbincangan bersama Roby Gandawijaya, I Ketut juga menyinggung telur cage-free yang berukuran lebih kecil dengan harga sekitar 30 persen lebih tinggi. Selisih harga tersebut dikaitkannya dengan sistem pemeliharaan yang memberikan kondisi hidup lebih baik bagi ayam.

“Yang dibeli adalah energi positif dan cinta,” tuturnya.

Melalui pameran ini, AFFA berharap masyarakat dapat memahami bahwa pilihan konsumen dan kebijakan pembelian perusahaan memiliki peran penting dalam membangun rantai pasok pangan yang lebih berkelanjutan dan memperhatikan kesejahteraan hewan.

Pameran Beyond the Cage berlangsung pada 5–7 September 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pameran dibuka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB dan dapat dikunjungi secara gratis.