INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di usia 84 tahun, Auzar tak pernah menyangka hidup akan kembali menempatkannya di tengah sebuah tanggung jawab besar. Kepergian keponakan satu-satunya akibat kecelakaan pada 2026 meninggalkan duka yang tak mudah dihapus. Namun, di balik kehilangan itu, ada sebuah amanah yang harus tetap dijaga: keberlangsungan sebuah yayasan pendidikan di Bandung yang menaungi sekitar 700 murid.
Selama bertahun-tahun, Auzar dan sang keponakan berjalan berdampingan mengelola yayasan tersebut. Jika Auzar mendampingi kegiatan pendidikan, sang keponakan menjadi sosok yang banyak menangani operasional dan keuangan.
Ketika keponakannya pergi, Auzar seolah kehilangan dua hal sekaligus: keluarga terdekat sekaligus rekan yang selama ini menjadi tempat berbagi tanggung jawab.
Di tengah duka, satu pertanyaan terus berputar di benaknya: bagaimana yayasan yang telah mereka bangun bersama akan terus berjalan?
"Saya sudah tua, tapi saya tetap ingin menjaga amanah yang ditinggalkannya," ujar Auzar.
Namun, rupanya sang keponakan telah memikirkan kemungkinan itu jauh sebelum musibah terjadi.
Pada Oktober 2025, sebagai nasabah Bank Syariah Indonesia (BSI), sang keponakan memperoleh perlindungan asuransi jiwa syariah dari Prudential Syariah melalui proses referral BSI. Ia menunjuk Auzar sebagai penerima manfaat.
Yang tidak diketahui Auzar saat itu, keputusan tersebut dibuat sang keponakan sebagai bentuk persiapan apabila suatu hari ia tidak lagi dapat berada di sisi keluarga dan yayasan yang dicintainya.
"Saya baru tahu kalau ternyata keponakan saya sudah memikirkan semua ini sejak lama. Dia khawatir kalau suatu saat dirinya meninggal, saya akan kebingungan, apalagi selama ini dia yang mengatur keuangan yayasan," kata Auzar.
Setelah proses pemakaman selesai, Auzar mulai mengurus administrasi untuk memperoleh manfaat perlindungan tersebut. Dokumen yang diperlukan disiapkan dan proses berjalan sesuai ketentuan.
Hingga akhirnya, manfaat dan santunan sebesar Rp562 juta diterima Auzar.
Bagi Auzar, angka tersebut bukan sekadar nominal. Di tengah masa berkabung dan kekhawatiran tentang masa depan yayasan, manfaat itu hadir sebagai ruang untuk bernapas dan melanjutkan amanah.
"Alhamdulillah, Prudential Syariah sangat membantu saya melewati masa-masa sulit setelah saya ditinggal keponakan. Saya hanya tinggal menyiapkan dokumen yang dibutuhkan. Saya didampingi dari awal sampai akhir, prosesnya juga mudah dan sangat transparan," tuturnya.
Manfaat perlindungan tersebut kemudian tidak berhenti pada Auzar sebagai penerima manfaat.
Sebagai pengelola yayasan, ia memastikan dana yang diterima turut menopang keberlangsungan aktivitas pendidikan. Sekitar 700 murid tetap dapat mengikuti kegiatan belajar, sementara kebutuhan operasional sekolah dapat terus dipenuhi.
"Yang saya syukuri, manfaat ini tidak hanya membantu saya secara pribadi, tetapi juga anak-anak di yayasan. Kegiatan belajar tetap berjalan. Jadi perlindungan ini benar-benar menyentuh banyak orang, bukan hanya keluarga yang ditinggalkan," ujar Auzar.
Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa perlindungan dapat memiliki arti yang jauh lebih luas daripada sekadar persiapan menghadapi risiko finansial.
Dalam prinsip asuransi syariah, semangat tolong-menolong atau ta'awun melalui dana tabarru' menjadi bagian penting dari perlindungan. Bagi Auzar, manfaat yang diterimanya menjadi wujud kepedulian yang tetap terasa, bahkan setelah orang yang menyiapkannya telah tiada.
Sang keponakan mungkin tidak pernah sempat menyampaikan langsung apa yang telah ia persiapkan. Namun, keputusan yang dibuatnya pada Oktober 2025 akhirnya menjadi sebuah pesan yang baru dipahami Auzar setelah kepergiannya.
Bahwa keluarga dan yayasan yang dicintainya tidak boleh ditinggalkan tanpa persiapan.
Vivin Gautama, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Syariah, mengatakan, "Tugas kami adalah memastikan janji seperti itu benar-benar sampai. Ketika seseorang menyiapkan perlindungan bagi yang nomor satu di hatinya, di situlah kami hadir — melindungi yang paling berarti bagi kamu, agar setiap janji bisa jadi nyata."
Kini, setiap kali melihat aktivitas di yayasan tetap berjalan, Auzar merasa ada sebuah amanah yang sedang ia tunaikan.
Amanah dari seseorang yang telah pergi, tetapi masih meninggalkan cara untuk menjaga orang-orang yang dicintainya.
"Saya berharap kisah saya bisa menjadi pengingat bahwa musibah dapat datang kapan saja. Perlindungan yang dipersiapkan sejak dini bukan hanya memberikan ketenangan bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi bentuk kasih sayang kepada keluarga dan orang-orang yang kita tinggalkan," tutup Auzar.
Pada akhirnya, sebuah janji tidak selalu harus diucapkan untuk menjadi nyata.
Terkadang, ia cukup dipersiapkan dengan diam-diam—lalu hadir pada saat paling dibutuhkan.